Main Agenda: Golkar Sebut Pemilu 2029 Bisa Gunakan Sistem e-Voting asal Prasyarat Ini Dipenuhi

golkar-sebut-pemilu-2029-bisa-gunakan-sistem-evoting-asal-prasyarat-ini-dipenuhi-utz

Golkar: Pemilu 2029 Bisa Gunakan e-Voting dengan Prasyarat Ini

Main Agenda menjadi isu utama dalam diskusi partai politik terkait rencana penerapan sistem pemungutan suara elektronik (e-voting) pada Pemilu 2029. Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar, Ahmad Doli Kurnia Tandjung, mengungkapkan bahwa sistem digital ini bisa diterapkan, asal ada beberapa prasyarat yang dipenuhi. Dalam wawancara di Kantor DPD Partai Golkar DKI Jakarta, Senin (1/5/2026), Doli menekankan bahwa Main Agenda dalam penyelenggaraan pemilu harus mencakup kesiapan teknologi dan sumber daya manusia. “e-Voting bisa diterapkan, tapi syarat-syarat seperti infrastruktur dan literasi digital harus diutamakan,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa hal ini termasuk dalam Main Agenda yang sedang dibahas dalam proses revisi Undang-Undang Pemilu.

Kesiapan Infrastruktur dan Keterjangkauan Teknologi

Doli menyoroti bahwa salah satu prasyarat utama untuk e-voting adalah keberadaan infrastruktur digital yang memadai, termasuk akses internet yang stabil. “Kita harus memastikan bahwa seluruh daerah memiliki jaringan internet yang memadai agar pemilih bisa menggunakan e-voting tanpa hambatan,” tegasnya. Ia juga mengingatkan bahwa listrik yang kurang stabil bisa mengganggu penggunaan teknologi selama pemilu. “Jangankan e-voting, jaringan listrik pun masih jauh dari sempurna,” imbuh Doli. Hal ini menjadi perhatian utama dalam Main Agenda partai Golkar untuk menjaga kualitas pemilu digital.

Penguatan Literasi Digital Masyarakat

Di samping infrastruktur, Doli menekankan pentingnya literasi digital yang tinggi di kalangan warga negara. Menurutnya, masyarakat harus siap memahami dan mengadopsi sistem e-voting. “Main Agenda juga mencakup edukasi masyarakat agar pemilu digital lebih mudah diterima,” ujarnya. Ia menyebutkan bahwa kesiapan mental masyarakat terhadap teknologi menjadi faktor kritis dalam keberhasilan e-voting. “Kita perlu membangun kultur digital yang kuat, agar tidak ada kebingungan saat pelaksanaan pemilu,” pungkasnya. Doli menambahkan bahwa survei terkait pemahaman masyarakat akan teknologi akan menjadi dasar dalam mengevaluasi penerapan sistem ini.

Manfaat dan Efisiensi Sistem Digital

Doli membeberkan bahwa sistem e-voting memiliki berbagai keuntungan, seperti mempercepat proses pemungutan suara dan mengurangi risiko kecurangan. “Main Agenda harus fokus pada efisiensi biaya dan kecepatan proses pemilu, karena sistem digital bisa menghemat waktu serta sumber daya,” katanya. Ia juga menegaskan bahwa e-voting akan meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam penghitungan suara. “Jika diimplementasikan dengan baik, e-voting bisa menjadi solusi untuk meningkatkan kualitas pemilu di masa depan,” ujarnya. Doli menekankan bahwa Main Agenda ini perlu didukung oleh perencanaan matang dan kolaborasi antar instansi.

Persiapan Masa Depan dan Tantangan yang Dihadapi

Menurut Doli, persiapan untuk e-voting di Pemilu 2029 juga melibatkan pengembangan sistem keamanan data dan pengawasan yang ketat. “Main Agenda harus mencakup penguatan regulasi untuk mencegah potensi manipulasi suara,” terangnya. Ia menyebutkan bahwa penggunaan e-voting memerlukan koordinasi antara KPU, Badan Legislasi, dan lembaga teknologi. “Sistem ini bisa menjadi bagian dari Main Agenda pembangunan demokrasi Indonesia,” imbuhnya. Doli menambahkan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah meratakan akses teknologi di seluruh Indonesia, terutama di daerah terpencil.

Eksperimen dan Pengalaman di Pemilu Sebelumnya

Doli mengingatkan bahwa penerapan e-voting di Pemilu 2029 tidak bisa terjadi secara mendadak. “Main Agenda ini membutuhkan uji coba sebelumnya, seperti yang dilakukan di Pemilu 2024,” katanya. Ia menyebutkan bahwa pengalaman tersebut menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki sistem di masa depan. “Kita bisa melihat pelaksanaan e-voting dalam pilpres atau pileg untuk menilai keberhasilan dan kelemahan,” tambahnya. Doli menekankan bahwa Main Agenda harus memperhitungkan proses adaptasi dan keberlanjutan sistem digital dalam jangka panjang.

Harapan dan Langkah-Langkah Selanjutnya

Doli mengharapkan bahwa e-voting bisa menjadi bagian dari Main Agenda yang akan meningkatkan partisipasi pemilih. “Jika kita bisa menyediakan akses yang merata, banyak warga mungkin lebih antusias untuk memilih,” jelasnya. Ia juga mengusulkan adanya pelatihan bagi petugas pemilu dan pemilih agar terbiasa dengan sistem digital. “Main Agenda ini tidak hanya tentang teknologi, tapi juga tentang pelayanan yang lebih baik,” pungkasnya. Doli menutup wawancara dengan menyatakan bahwa kesiapan infrastruktur dan literasi digital akan menjadi penentu utama keberhasilan e-voting di Pemilu 2029.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *