Key Discussion: P2G Soroti Dampak Instruksi Penerapan Bahasa Prancis di Sekolah, Khawatir Bebani Siswa

p2g-soroti-dampak-instruksi-penerapan-bahasa-prancis-di-sekolah-khawatir-bebani-siswa-pby

Key Discussion: P2G Soroti Dampak Instruksi Penerapan Bahasa Prancis di Sekolah, Khawatir Bebani Siswa

Key Discussion – Presiden Prabowo Subianto telah memberikan instruksi untuk mewajibkan bahasa Prancis diajarkan di seluruh jenjang sekolah di Indonesia. Langkah ini memicu Key Discussion di kalangan organisasi pendidikan, khususnya Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), yang mengkhawatirkan bahwa penambahan pelajaran ini akan menambah beban siswa. Koordinator Nasional P2G, Satriwan Salim, menyatakan bahwa kebijakan pemerintah ini bisa memperparah ketatnya struktur kurikulum nasional, yang saat ini sudah terasa padat bagi murid di berbagai tingkatan.

Kebijakan Pembenahan Kurikulum

Bahasa Prancis dan bahasa asing lain seperti Arab, Korea, Mandarin, Jerman, dan Jepang telah menjadi pilihan dalam kurikulum nasional sejak tahun 2006. Namun, instruksi Prabowo untuk mewajibkan pelajaran Prancis di semua jenjang sekolah, termasuk SMK, memperbesar tekanan pada sistem pendidikan. P2G menilai bahwa pengaruh Key Discussion ini perlu diantisipasi, terutama karena pelajaran ekstrakurikuler sebelumnya seperti klub bahasa Inggris dan olahraga sudah memakan waktu dan sumber daya yang terbatas. Kebijakan baru ini berpotensi menambah beban siswa, terutama di tingkat SMA dan SMK, yang seharusnya lebih fokus pada penguasaan keterampilan kerja.

Rekomendasi dari P2G

Dalam rangka menyeimbangkan kebutuhan pelajaran bahasa Prancis dengan kondisi sekolah saat ini, P2G merekomendasikan agar pelajaran ini disusun sebagai bagian dari kegiatan ekstrakurikuler. Dengan pendekatan ini, siswa yang tertarik pada bahasa Prancis dapat mempelajarinya secara mandiri, sementara siswa lain tidak terbebani. Kabid Advokasi P2G, Iman Zanatul Haeri, menjelaskan bahwa program sertifikasi bahasa asing non-Inggris, yang akan diluncurkan Kemendikdasmen, bisa menjadi alat untuk menyebarluaskan bahasa Prancis tanpa mengganggu fokus pembelajaran inti.

Dalam Key Discussion yang diadakan di Istana Elysee, Paris, Presiden Prabowo menegaskan bahwa penambahan pelajaran Prancis bertujuan untuk meningkatkan hubungan bilateral dengan Prancis. Ia mengatakan bahwa bahasa Prancis akan menjadi alat untuk memperkuat kerja sama di bidang pendidikan, sains, dan teknologi. Namun, Kepala Negara juga mengakui bahwa kebijakan ini memerlukan evaluasi menyeluruh untuk memastikan keberlanjutan dan efektivitas implementasinya.

P2G meminta pemerintah untuk lebih transparan dalam merancang kebijakan ini. Dengan melibatkan para guru, orang tua, dan siswa, Kementerian Pendidikan dan Kementerian Agama dapat menyesuaikan kurikulum agar tidak terlalu berat. Selain itu, organisasi ini menyarankan agar penggunaan bahasa Prancis tidak mengabaikan kebutuhan siswa dalam mempelajari bahasa Inggris, yang tetap menjadi bahasa utama dalam dunia internasional. Dalam Key Discussion ini, Satriwan Salim juga menyoroti keterbatasan sumber daya guru dan infrastruktur pendukung.

Program sertifikasi bahasa asing non-Inggris yang direncanakan Kemendikdasmen berdampak signifikan pada sistem pendidikan. Sampai Mei 2026, skema ini sudah mencakup lebih dari 120 SMK dengan target 13.000 siswa. Meski beberapa sekolah telah menyambut baik, tetapi P2G menemukan adanya ketidakseimbangan antara jumlah siswa yang terlibat dan kebutuhan pelatihan guru. Dalam Key Discussion, mereka menekankan perlunya penguasaan bahasa Prancis yang lebih baik di tingkat SMK, agar pelajaran ini bisa berkontribusi pada pengembangan keterampilan kerja yang lebih luas.

Kebijakan penerapan bahasa Prancis di sekolah bukan hanya tentang tambahan mata pelajaran, tetapi juga tentang perubahan struktur pendidikan secara keseluruhan. Dengan Key Discussion yang terus berkembang, P2G berharap pemerintah dapat menyesuaikan kebijakan ini agar tidak membebani siswa, sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan secara holistik. Kebijakan ini dianggap sebagai langkah strategis, tetapi keberhasilannya bergantung pada koordinasi yang baik antara berbagai pihak terkait.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *