New Policy: Kembaran Hijau Gas Alam Siap Jadi Pengganti LPG

kembaran-hijau-gas-alam-siap-jadi-pengganti-lpg-niq

Kembaran Hijau Gas Alam Siap Jadi Pengganti LPG

New Policy – Baru-baru ini, pemerintah mengumumkan New Policy yang bertujuan mengurangi ketergantungan pada LPG (Liquid Petroleum Gas) dengan memperkenalkan alternatif energi berbasis biomethana. Kebijakan ini menggambarkan langkah strategis dalam memperkuat ketahanan energi nasional, sekaligus mendukung transisi menuju energi terbarukan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan PTPN IV PalmCo serta Sub Holding PTPN III (Persero) tengah mengembangkan Bio-Compressed Biomethane Gas (Bio-CBG), yaitu gas biomethana yang berasal dari limbah sawit. Proyek ini menjanjikan kualitas gas yang setara dengan compressed natural gas (CNG), sehingga bisa digunakan sebagai pengganti bahan bakar fosil tradisional.

New Policy ini memperhatikan kenyataan bahwa sektor agroindustri, khususnya perkebunan sawit, memiliki potensi besar untuk berkontribusi pada peningkatan produksi energi hijau. Limbah sawit, yang sebelumnya dianggap sebagai masalah lingkungan, kini diubah menjadi sumber daya yang bernilai ekonomi tinggi. BRIN mengatakan bahwa upaya ini sejalan dengan tujuan pemerintah untuk mencapai bauran energi baru terbarukan sebesar 23% pada 2030. Dengan New Policy, industri sawit tidak hanya menjadi penghasil minyak nabati, tetapi juga menawarkan solusi energi yang ramah lingkungan.

Strategi Industri Sawit Berkelanjutan

PTPN IV PalmCo, sebagai salah satu pemain utama di sektor sawit, tengah mengembangkan roadmap untuk mengubah limbah menjadi energi. Direktur Utama PalmCo, Jatmiko K Santosa, menjelaskan bahwa proyek ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam mengurangi dampak lingkungan sekaligus meningkatkan daya saing. “Limbah sawit kini dianggap sebagai energi baru yang bisa memberi manfaat ekonomi sekaligus berkontribusi pada ketahanan energi nasional,” kata Jatmiko dalam pernyataan resmi yang dikutip Rabu (27/5/2026).

Pengolahan limbah cair dari pabrik kelapa sawit (POME) dan biomassa tandan kosong menjadi biomethana berkualitas tinggi menjadi fokus utama dalam New Policy. Proses ini menghasilkan gas yang memenuhi standar CNG, memungkinkan penggunaan di berbagai sektor seperti transportasi dan industri. Menurut Jatmiko, teknologi ini tidak hanya mengurangi emisi karbon, tetapi juga mengoptimalkan penggunaan sumber daya alam yang ada.

“Kami yakin New Policy ini akan menjadi penopang penting bagi keberlanjutan sektor energi. Dengan mengubah limbah menjadi energi, kita menciptakan model bisnis yang ramah lingkungan dan menguntungkan,” tambah Jatmiko.

Ekspansi Proyek dan Kolaborasi

Saat ini, PTPN IV PalmCo sedang menyusun rencana penguasaan lebih luas dalam bidang energi hijau. Salah satu proyek utama adalah pembangunan fasilitas Bio-CBG di Pabrik Kelapa Sawit Tinjowan, Sumatra Utara. Proyek ini diharapkan menjadi contoh nyata bagaimana New Policy bisa diaplikasikan secara praktis di industri sawit. Dalam jangka empat tahun ke depan, perusahaan menargetkan 17 instalasi Bio-CBG, yang akan membantu memenuhi kebutuhan bahan bakar di berbagai daerah.

Pemenuhan New Policy juga melibatkan kolaborasi dengan PGN dan Renikola untuk menyediakan compressed biomethane gas (CBG) yang siap pakai. Tahun ini, PalmCo merencanakan groundbreaking delapan proyek baru, termasuk pembangunan unit produksi gas yang bisa digunakan untuk listrik dan bahan bakar. “Kolaborasi ini memberikan peluang untuk mengembangkan kawasan inovasi industri yang berkelanjutan,” jelas Jatmiko.

Pengembangan Teknologi dan Efisiensi

Dari sisi teknologi, BRIN melakukan audit energi dan evaluasi teknis di berbagai fasilitas sawit serta pembangkit biogas. Salah satu hasilnya adalah peningkatan efisiensi produksi metana di PTBg cofiring Sei Pagar, Riau. Produksi metana meningkat dari rata-rata 36.706 Nm3 per bulan pada 2025 menjadi sekitar 46.683 Nm3 per bulan pada 2026. Kepala Pusat Riset Teknologi Proses BRIN, Hens Putra, menilai bahwa inisiatif ini sejalan dengan New Policy yang mengedepankan inovasi dan keberlanjutan.

“Energi menjadi prioritas nasional. Kajian teknis ini bukan hanya mengukur potensi energi, tetapi juga meningkatkan efisiensi agar pengolahan limbah sawit lebih optimal dan berkelanjutan,” papar Hens.

Dalam New Policy, BRIN juga fokus pada penelitian teknologi yang mampu menurunkan biaya produksi CBG sekaligus meningkatkan kualitas energi. Hasil riset menunjukkan bahwa proses konversi limbah sawit ke biomethana bisa dioptimalkan dengan menggunakan metode yang lebih canggih. “Teknologi ini akan menjadi tulang punggung transisi energi nasional,” tambah Hens.

Manfaat Ekonomi dan Lingkungan

Kebijakan penggunaan limbah sawit sebagai sumber energi tidak hanya bermanfaat lingkungan, tetapi juga menguntungkan ekonomi. BRIN mengatakan bahwa Bio-CBG bisa mengurangi ketergantungan pada LPG dan gas alam yang berdampak pada lingkungan. “Dengan New Policy, kita bisa mengurangi emisi metana yang merupakan gas rumah kaca yang paling berbahaya,” jelas Samuel Pati Senda, Peneliti Energi BRIN.

“Pengembangan biomethana berbasis sawit dinilai dapat memperkuat target pemerintah mencapai bauran energi baru terbarukan sebesar 23%. Pengolahan limbah sawit menjadi ‘kembaran hijau’ gas alam mulai dipandang sebagai solusi realistis dari sektor agroindustri,” ujarnya.

Dengan New Policy ini, sektor sawit diberi peran baru sebagai penopang kebutuhan energi nasional. Selain itu, kebijakan ini juga mendorong keterlibatan lebih besar sektor swasta dalam mendukung transisi energi. “Kami berharap ini menjadi model untuk industri lainnya,” tambah Samuel. Penelitian terus dilakukan untuk memastikan bahwa teknologi ini bisa diaplikasikan secara luas di seluruh Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *