340 Juta Data Pengguna Situs Dewasa OnlyFans Dijual Hacker
340 Juta Data Pengguna Situs Dewasa OnlyFans Dijual Hacker
340 Juta Data Pengguna Situs Dewasa – Dalam peristiwa yang mengejutkan, sebuah kelompok peretas mengungkapkan bahwa data dari 340 juta pengguna situs dewasa OnlyFans telah dijual ke pasar gelap. Laporan ini memperlihatkan bahwa jutaan akun yang digunakan untuk berlangganan konten dewasa, sekarang berisiko terbongkar akibat pelanggaran keamanan yang terjadi. Meskipun perusahaan OnlyFans menyatakan bahwa klaim tersebut tidak benar, kebocoran ini telah menimbulkan kekhawatiran terhadap privasi pengguna, terutama karena data yang dibocorkan meliputi informasi pribadi yang sangat sensitif.
Jenis Data yang Terbocor
Menurut peretas, data yang terungkap mencakup nama pengguna, tanggal pendaftaran, alamat email, jumlah pengikut, interaksi pengguna, serta informasi keuangan dan profil media sosial yang terkait. Data ini dijual dalam format yang bisa diakses oleh siapa pun yang memiliki akses ke pasar gelap, memungkinkan pembeli untuk menggunakannya dalam berbagai tujuan, termasuk penipuan atau pengintaian. Beberapa sumber menyebutkan bahwa data tersebut dikumpulkan sejak Agustus 2025, sehingga mengungkap perluasannya yang terus-menerus.
Keberadaan 340 juta data pengguna situs ini menjadi bukti bahwa platform OnlyFans, yang terus berkembang, menjadi target utama bagi para pelaku kejahatan siber. Dalam laporan Cybernews, ditemukan bahwa data terbocor mencakup informasi seperti nama, alamat, dan detail transaksi. Hal ini sangat berisiko karena pengguna bisa memanfaatkan data tersebut untuk mengakses akun pribadi lainnya atau mencuri informasi sensitif. Meski demikian, beberapa analis menilai bahwa jumlah data sebenarnya mungkin lebih besar karena adanya kebocoran dari sumber-sumber lain.
Pelaku Kebocoran dan Metode Pencurian
Para pelaku kejahatan menyangkal bahwa mereka menyerang server OnlyFans secara langsung. Mereka mengklaim bahwa data ini telah dikumpulkan melalui kombinasi dari kebocoran sebelumnya, data yang tersedia secara umum, dan pelanggaran dari platform lain. Misalnya, informasi dari akun pengguna yang bocor di Netflix atau Spotify bisa digabungkan untuk mengungkap data pribadi seperti nomor telepon atau alamat rumah. Metode ini menunjukkan bahwa kebocoran data dewasa tidak hanya terjadi di satu sumber, tetapi juga berdampak lintas platform.
Dengan 340 juta data pengguna situs yang terbocorkan, risiko penyalahgunaan informasi menjadi lebih tinggi. Para peretas bisa menggunakan data tersebut untuk menargetkan pengguna tertentu, terutama mereka yang berlangganan konten dewasa secara konsisten. Selain itu, kebocoran ini bisa memicu serangan phising atau pemberian akses ilegal ke akun pengguna. Dampaknya tidak hanya terbatas pada pengguna OnlyFans, tetapi juga menjangkau bisnis lain yang menggunakan data serupa.
Respons OnlyFans dan Langkah Penanggulangan
OnlyFans segera merespons kebocoran ini dengan mengklaim bahwa laporan tersebut tidak benar. Mereka menegaskan bahwa sistem keamanan mereka masih dalam penyelidikan, dan belum ada bukti bahwa data pengguna benar-benar dibocorkan. Namun, para ahli memperingatkan bahwa bahkan jika data hanya berasal dari sumber lama, ancamannya tetap signifikan. Pengguna yang tidak berhati-hati bisa kehilangan privasi mereka karena data yang dijual mengandung detail yang cukup untuk melakukan penipuan atau penyalahgunaan.
Perusahaan ini juga mengambil langkah-langkah untuk mengamankan data pengguna, termasuk memperketat proses verifikasi dan meningkatkan sistem enkripsi. Namun, pihak berwenang mengingatkan bahwa pengguna perlu waspada karena data yang bocor bisa digunakan untuk mengakses akun lain atau melakukan penipuan finansial. Mereka merekomendasikan untuk mengganti kata sandi secara berkala dan mengaktifkan verifikasi dua faktor untuk menambah perlindungan.
Bisnis-bisnis di Vietnam menghadapi lebih dari 320.000 serangan spionase siber. Angka ini menunjukkan bahwa kebocoran data 340 juta pengguna situs hanya satu contoh dari tren peningkatan ancaman siber di kawasan Asia Tenggara. Tahun ini, jumlah kebocoran spyware naik 18%, dengan Vietnam mencatat volume serangan tertinggi di wilayah itu. Kejadian di OnlyFans mengingatkan bahwa platform digital, terlepas dari popularitasnya, tetap rentan terhadap pelanggaran keamanan.
