Key Strategy: Prihatin Harga Telur Anjlok, Sarifah DPR Dorong Kemendag Gandeng BGN

prihatin-harga-telur-anjlok-sarifah-dpr-dorong-kemendag-gandeng-bgn-bnx

Key Strategy: Sarifah DPR Prihatin Penurunan Harga Telur, Dorong Kemendag Gandeng BGN

Key Strategy –

Pengaruh Penurunan Harga Telur

Key Strategy menjadi fokus utama dalam upaya mengatasi krisis harga telur yang semakin mengkhawatirkan. Sejumlah peternak ayam petelur di berbagai wilayah Indonesia kini terkena dampak signifikan akibat penurunan harga jual telur dalam beberapa minggu terakhir. Pasar mengalami kelebihan pasokan, sementara permintaan tetap stagnan, menyebabkan harga telur terus merosot. Dalam kondisi ini, anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Sarifah Suraidah Harum, menyampaikan keprihatinan terhadap nasib sektor usaha kecil menengah (UMKM) yang bergantung pada produksi telur. Ia menilai, key strategy yang terarah dan cepat diperlukan untuk memulihkan stabilitas ekonomi di sektor peternakan.

“Penurunan harga telur tidak hanya mengganggu pendapatan peternak, tetapi juga merugikan konsumen yang sebelumnya membeli telur dengan harga relatif stabil. Key Strategy dalam mengelola pasokan dan permintaan adalah kunci untuk meminimalkan dampak ekonomi yang terjadi,” ujar Sarifah di Jakarta, Senin (25/5/2026).

Kondisi Pasar dan Produksi

Data menunjukkan bahwa harga telur peternak pada awal bulan ini mencapai Rp20.400 per kilogram, namun hari ini masih berkisar antara Rp22.000 hingga Rp22.800 per kilogram. Angka ini jauh di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) pemerintah yang ditetapkan sebesar Rp26.500 per kilogram. Meskipun pasokan telur di toko eceran terus meningkat, daya serap pasar belum mampu menstabilkan harga. Ini menyebabkan kerugian besar bagi peternak yang kewalahan menghadapi penurunan pendapatan dan biaya operasional.

Langkah Konkret dari DPR

Sarifah menekankan bahwa key strategy harus melibatkan intervensi Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk menyelaraskan kebijakan antara produsen dan konsumen. Ia menyarankan Kemendag berkoordinasi intensif dengan Badan Gizi Nasional (BGN) guna mengaktifkan skema program Makan Bergizi Gratis (MBG) secara lebih efektif. Dengan key strategy ini, stok telur lokal dapat dialokasikan ke masyarakat yang lebih membutuhkan, sekaligus mengurangi beban peternak.

“Dorongan key strategy dari Kemendag dan BGN akan membantu meningkatkan daya beli masyarakat serta memastikan pasokan telur tetap seimbang. Program MBG bisa menjadi solusi yang bisa diandalkan, selama ada kerja sama yang solid antara pemerintah dan pengusaha lokal,” tambah Sarifah dalam pernyataannya.

Ketahanan Pangan Nasional

Sarifah juga menyoroti pentingnya ketahanan pangan nasional yang semakin terancam akibat volatilitas harga telur. Dengan produksi yang cukup kuat, sektor perunggasan nasional seharusnya mampu menjadi pilar utama dalam mendukung kebutuhan makanan masyarakat. Namun, jika key strategy tidak dijalankan secara cepat, risiko ketidakstabilan pasokan dan ketergantungan pada impor bisa meningkat. Ia menekankan perlunya peningkatan pengawasan pasar serta insentif untuk peternak lokal agar produksi tetap berjalan optimal.

Kemitraan dengan BGN

Sebagai mitra kerja Kemendag, Komisi VI DPR menekankan pentingnya pembentukan kebijakan strategis bersama BGN untuk mengatasi krisis harga telur. Sarifah menilai, BGN memiliki peran kritis dalam memastikan distribusi telur yang adil dan merata. Dengan kemitraan ini, program MBG bisa diperluas, terutama di daerah-daerah yang kurang akses ke pasar modern. Key strategy yang diterapkan juga harus melibatkan perangkat hukum dan kebijakan subsidi untuk mendukung usaha peternak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *