Legislator PDIP Sebut Tragedi Bus ALS Alarm Keras Kegagalan Pengawasan Transportasi dan Infrastruktur Jalan
Legislator PDIP Sebut Tragedi Bus ALS Jadi Tanda Kegagalan Pengawasan Transportasi
Legislator PDIP Sebut Tragedi Bus ALS Alarm – Legislator Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mengkritik keras kecelakaan maut Bus ALS di Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan, sebagai bukti kegagalan sistem pengawasan transportasi dan infrastruktur jalan. Anggota Komisi V DPR, Edi Purwanto, menilai insiden tersebut menunjukkan kesenjangan dalam pengelolaan angkutan umum dan koordinasi antarinstansi. Tragedi yang menewaskan 18 korban ini, menurutnya, memicu kebutuhan untuk merevisi kebijakan pengawasan yang terkesan tidak tajam.
Administrasi dan Koordinasi Sistem Pengawasan
Edi Purwanto menyoroti bahwa izin operasi Bus ALS telah kedaluwarsa sejak 2020, namun kendaraan tersebut tetap beroperasi tanpa pengawasan ketat. “Ini adalah kegagalan sistem administrasi yang mengakibatkan kesalahan dalam pengelolaan kendaraan,” ujarnya. Legislator ini juga menyebut bahwa pelat nomor palsu menjadi indikasi dari ketidakseriusan proses pemeriksaan oleh lembaga terkait.
“Kecelakaan ini seharusnya mempercepat evaluasi menyeluruh terhadap pengawasan transportasi dan infrastruktur jalan,” tambah Edi. “Jika izin tetap diberikan kepada kendaraan yang tidak memenuhi standar, maka keselamatan masyarakat bisa terancam.”
Menurutnya, kegagalan pengawasan tidak hanya terjadi di tingkat administrasi, tetapi juga di lapangan. “Koordinasi antara Kementerian Perhubungan, dinas transportasi daerah, dan lembaga lain harus lebih baik,” kata legislator PDIP ini. Ia menegaskan bahwa kendaraan yang tidak memenuhi syarat teknis bisa beroperasi karena kurangnya pengawasan yang konsisten.
Kondisi Jalan dan Kesiapan Infrastruktur
Edi Purwanto juga menyoroti kondisi jalan yang rusak sebagai salah satu faktor penyebab kecelakaan. Ia menyebut bahwa kegagalan infrastruktur jalan harus menjadi perhatian serius. “Jika bus harus menghindari lubang besar di jalan, maka itu menunjukkan bahwa infrastruktur tidak siap menghadapi kecelakaan seperti ini,” jelasnya.
Dalam pernyataannya, Edi menekankan bahwa perbaikan jalan tidak hanya sebatas pada perawatan rutin, tetapi juga perlu ada rencana jangka panjang untuk memastikan keamanan pengguna jalan. “Kerusakan jalan yang terus-menerus terjadi tanpa perbaikan yang memadai, berpotensi menyebabkan kecelakaan besar,” tambahnya. Tragedi Bus ALS, menurutnya, menjadi pengingat bahwa kesiapan infrastruktur harus ditingkatkan.
Legislator PDIP ini meminta pemerintah pusat dan daerah tidak lagi saling menyalahkan. “Kita harus fokus pada solusi konkret, bukan sekadar menyalahkan satu pihak,” katanya. Ia menyarankan adanya evaluasi komprehensif terhadap perusahaan angkutan umum, termasuk penyelidikan terhadap kesalahan teknis atau manajemen operasional yang mungkin terjadi.
Tragedi Bus ALS juga memicu reaksi dari masyarakat dan berbagai pihak. Banyak warga mengkritik tindakan pemerintah yang dianggap tidak transparan dalam memberikan izin operasi kepada bus yang sudah kedaluwarsa. “Ini adalah bentuk kegagalan pengawasan yang harus diperbaiki segera,” kata Edi. Ia berharap pemerintah bisa mempercepat reformasi sistem transportasi darat untuk mencegah insiden serupa di masa depan.
