New Policy: Irak Tak Buat Komitmen Terkait Nuklir, tapi AS Klaim Tujuan Epic Fury Tercapai
New Policy: Iran Tidak Mengambil Komitmen Nuklir, Tapi AS Klaim Tujuan Epic Fury Tercapai
New Policy menjadi isu utama dalam perundingan terbaru antara Amerika Serikat dan Iran, meskipun Irak tetap mengambil sikap netral terkait program nuklirnya. Pemerintah AS menyatakan bahwa tujuan operasi Epic Fury—yang dimulai sebagai respons terhadap kebijakan nuklir Iran—telah tercapai, meskipun negara Timur Tengah itu tidak menyetujui komitmen formal dalam perjanjian. Dalam laporan Tasnim, kantor berita Iran, dijelaskan bahwa Iran tetap berhak mengembangkan program nuklirnya sendiri, sesuai dengan kebijakan yang telah diputuskan secara internal.
Penundaan Negosiasi dan Fokus pada Akhir Perang
Kebijakan baru ini menunda pembicaraan mengenai nuklir Iran, dengan fokus utama pada penyelesaian konflik di semua lini. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengatakan bahwa negosiasi akan dihentikan sementara hingga ‘perang berakhir’, mencerminkan pergeseran prioritas dari dialog khusus nuklir ke perjanjian yang lebih luas. Tasnim menambahkan bahwa kebijakan baru ini tidak mengharuskan Iran mengungkap seluruh kekayaan nuklirnya, tetapi hanya memastikan bahwa tujuan operasi Epic Fury—yaitu mencegah pengembangan senjata nuklir Iran—telah terpenuhi.
Salah satu aspek kunci dalam New Policy adalah perjanjian tentang Selat Hormuz dan pembatasan dana Iran. AS bersikeras bahwa blokade laut terhadap pelabuhan Iran akan dicabut dalam 30 hari, yang merupakan langkah strategis untuk memulihkan akses logistik negara tersebut. Meskipun kebijakan ini memberikan kelonggaran untuk Iran, jumlah kapal yang melewati Selat Hormuz akan dibatasi sesuai dengan rencana yang disepakati. “Jika kesepakatan tercapai, Selat Hormuz tidak sepenuhnya pulih, tetapi jumlah kapal yang diizinkan akan kembali ke tingkat sebelum perang dalam 30 hari,” ujar sumber Tasnim dalam wawancara khusus.
Implementasi New Policy dan Dampak pada Program Nuklir
New Policy mencakup beberapa langkah konkret untuk mengontrol program nuklir Iran, meskipun tidak sepenuhnya menetapkan komitmen yang konsisten. Langkah ini mengadopsi pendekatan yang lebih fleksibel, memungkinkan Iran melanjutkan penelitian nuklir tanpa menghentikan aktivitasnya. Dalam konteks ini, AS mengklaim bahwa kebijakan baru telah memenuhi tujuan Epic Fury, yaitu mencegah Iran dari membuat senjata nuklir dalam jangka pendek.
Menurut laporan resmi, kebijakan ini mencakup pengurangan sementara jumlah uranium yang diolah oleh Iran, serta pembatasan peluncuran program nuklirnya selama masa penyelesaian perjanjian. Namun, kebijakan ini tidak menyebutkan kesepakatan permanen untuk menghentikan pengembangan nuklir, yang membuat banyak analis khawatir bahwa Iran masih memiliki ruang untuk bergerak. Tasnim menekankan bahwa kebijakan baru ini adalah hasil dari kesepakatan sementara, dan keputusan akhir akan dibuat setelah evaluasi lebih lanjut oleh pihak-pihak terlibat.
Di sisi lain, New Policy juga mencakui kelonggaran untuk Iran dalam mengakses dana yang telah dibekukan oleh AS. Sebagian dari dana tersebut akan dilepaskan dalam waktu dekat, yang diharapkan bisa membantu Iran memulihkan ekonominya. Namun, kondisi ini masih diberlakukan dalam batas tertentu, terutama dalam hal penggunaan dana untuk program nuklir. Kebijakan ini menunjukkan bahwa AS berupaya untuk menyeimbangkan tekanan politik dengan kebutuhan ekonomi Iran.
Reaksi Internasional dan Perspektif Regional
Reaksi terhadap New Policy beragam, dengan beberapa negara mengapresiasi langkah AS dalam menciptakan kesepakatan sementara, sementara yang lain mempertanyakan efektivitasnya. Pemerintah Iran memandang kebijakan ini sebagai kemenangan strategis, karena memberikan ruang untuk tetap berkembang dalam bidang nuklir. Di sisi lain, negara-negara sekutu AS seperti Israel dan Arab Saudi merasa khawatir bahwa Iran tetap memiliki kemampuan untuk mempercepat program senjata nuklirnya.
Kebijakan baru ini juga dianggap sebagai bagian dari upaya AS untuk memperkuat posisinya di Timur Tengah. Dengan mencapai tujuan Epic Fury, AS berharap bisa membangun kembali hubungan diplomatik dengan negara-negara regional, termasuk Irak. Meskipun Irak tidak terlibat langsung dalam perjanjian, kebijakan ini memungkinkan negara-negara lain untuk berpartisipasi dalam perundingan tanpa mengorbankan kepentingan mereka sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa New Policy dirancang untuk mencakup berbagai pihak dalam konflik tersebut.
Secara keseluruhan, New Policy menawarkan solusi yang lebih komprehensif dibandingkan pendekatan sebelumnya, dengan fokus pada penyelesaian konflik secara bertahap. Meskipun Iran tidak menyetujui komitmen nuklir yang ketat, kebijakan ini diharapkan bisa menjadi dasar bagi perjanjian jangka panjang. Pemerintah AS menyatakan bahwa keberhasilan operasi Epic Fury tidak hanya terkait dengan pengendalian nuklir Iran, tetapi juga dengan memperkuat kembali stabilitas di wilayah Timur Tengah.
