Jangan Cuma Cek Suhu Saat Anak Demam – Segera Bawa ke Dokter Jika Ada Gejala Berikut
Jangan Cuma Cek Suhu Saat Anak Demam: Segera Bawa ke Dokter Jika Ada Gejala Ini
Jangan Cuma Cek Suhu Saat Anak – Suhu tubuh anak yang meningkat sering kali menjadi perhatian utama orang tua. Namun, jangan hanya fokus pada pengukuran suhu semata. Dr. Lucky Yogasatria, spesialis anak sekaligus penulis kesehatan, menegaskan bahwa gejala tambahan sangat penting untuk diawasi. Dalam video yang ia bagikan di Instagram, ia memperingatkan bahwa demam bisa menjadi tanda awal dari kondisi kesehatan yang lebih serius. Dengan mengenali gejala lain, orang tua dapat menentukan apakah perlu segera memeriksakan anak ke dokter.
Demam: Tanda yang Bukan Hanya Tanda Panas
Ketika anak mengalami demam, suhu tubuhnya mungkin menunjukkan 38,5 hingga 40 derajah Celcius. Meski suhu tinggi adalah respons tubuh untuk melawan infeksi, jangan hanya terpaku pada angka tersebut. Dr. Lucky menjelaskan bahwa demam bisa terjadi karena berbagai penyebab, seperti infeksi virus, flu, batuk pilek, atau bahkan penyakit seperti DBD dan HFMD. “Fever adalah alarm yang menunjukkan tubuh sedang bekerja, tapi jangan langsung menganggapnya sebagai ancaman,” kata dia.
“Banyak orang tua langsung memberi obat demam saat anaknya sudah menunjukkan 38,5. Padahal, anak mungkin sudah baik-baik saja. Jangan cuma cek suhu, tapi juga perhatikan bagaimana anak merasa selama demam,”
Menurut dr. Lucky, tindakan terburu-buru bisa berdampak negatif. Obat penurun panas mungkin efektif untuk mengurangi nyeri atau ketidaknyamanan, tetapi jika anak menunjukkan gejala lain yang lebih serius, intervensi lebih cepat diperlukan. “Anak bisa terlihat rewel karena panas, tetapi jika ia juga lemas, sulit minum, atau tak responsif, itu tanda-tanda memburuk,” tambahnya.
Gejala yang Perlu Diwaspadai Saat Anak Demam
Ada beberapa tanda yang memerlukan kehati-hatian. Jika anak demam tetapi sering muntah, sulit menelan, atau tidak bisa bangun, segera bawa ke rumah sakit. “Anak yang muntah berulang bisa mengalami dehidrasi, yang berisiko fatal jika tidak segera diatasi,” jelas dr. Lucky. Selain itu, perubahan perilaku seperti kejang, kelelahan berlebihan, atau penurunan jumlah air seni juga perlu menjadi perhatian.
“Kalau demam disertai dengan tanda-tanda seperti kejang, muntah, atau sesak napas, itu bukan lagi tanda biasa. Jangan cuma cek suhu, tetapi juga pantau respons tubuh anak terhadap kondisi ini,”
Dokter spesialis anak ini juga menyoroti gejala yang sering diabaikan. Misalnya, anak yang tidak mau makan, keringat dingin, atau menunjukkan kelelahan berlebihan bisa menjadi tanda keadaan darurat. “Suhu tubuh tinggi tidak selalu berarti anak sedang sakit berat, tetapi jika ia menunjukkan gejala lain, itu bisa menjadi penanda untuk mengambil tindakan cepat,” pungkasnya.
Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 20% anak yang mengalami demam disertai gejala kritis membutuhkan perawatan intensif. Jadi, jangan cuma cek suhu saat anak demam, tetapi juga lakukan evaluasi menyeluruh. Tindakan tepat waktu bisa mencegah komplikasi seperti demam berdarah, meningitis, atau infeksi saluran pernapasan yang berat.
Dalam kasus anak dengan demam berkepanjangan, orang tua harus waspada terhadap gejala seperti kulit pucat, tremor, atau kejang yang berulang. “Suhu tubuh tinggi bukan masalah jika anaknya tetap aktif dan sehat, tapi jika demamnya terus-menerus dan disertai tanda-tanda gangguan, segera konsultasikan ke dokter,” kata dr. Lucky. Ia juga merekomendasikan untuk menilai bagaimana anak berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya selama demam.
Dengan memahami bahwa demam bisa menjadi tanda awal dari kondisi yang lebih serius, orang tua bisa memperbaiki pendekatan perawatan anak. Jangan cuma cek suhu saat anak demam, tetapi juga perhatikan pola makan, tingkah laku, dan kenyamanan anak. Gejala seperti muntah, sesak napas, atau penurunan kesadaran bisa menjadi penanda untuk kebutuhan medis yang mendesak.
