Solving Problems: Istri Dede Suandar Mengaku Alami KDRT, Anak Ikut Jadi Korban

istri-dede-suandar-mengaku-alami-kdrt-anak-ikut-jadi-korban-ztc

Istri Dede Suandar Alami KDRT, Anak Juga Terkena Imbas

Solving Problems – Jakarta – Karen Hertatum, istri dari Dede Suandar, membongkar pengalaman pribadinya mengenai KDRT yang dialaminya. Dalam sesi podcast bersama Dilan Janiyar, ia menyampaikan bahwa kekerasan dalam rumah tangga bukan hanya menimpa dirinya, tapi juga melibatkan anak-anaknya. Menurut Karen, kejadian tersebut terjadi saat ia dan anak-anak berada di rumah sendirian, dan terus-menerus berulang karena ketegangan dalam hubungannya dengan sang suami.

KDRT yang dialami Karen dikaitkan dengan konflik rumah tangga yang berawal dari dugaan perselingkuhan dan permasalahan nafkah. Dalam wawancara, ia menyebut bahwa masalah tersebut berdampak pada keharmonisan keluarga dan kehidupan anak-anak. “Selingkuh, udah selingkuh, mukulin aku,” kata Karen sambil menangis. Ia menegaskan bahwa anak pertamanya sempat menjadi korban saat mencoba membela dirinya dari kekerasan yang dialaminya.

“Dijambak, ditendang. Kak, aku ada videonya,” tambahnya. Karen mengklaim memiliki bukti rekaman yang menunjukkan kekerasan yang ia alami. Menurutnya, saat kejadian, dirinya diperlakukan seperti bukan manusia lagi. Videonya tersebut menjadi bukti kuat mengenai situasi KDRT yang dialaminya dan bagian dari upaya untuk menyelesaikan masalah secara terbuka.

Menurut Karen, KDRT yang ia alami terjadi pada tahun 2025 dan merupakan bagian dari rutinitas kekerasan yang berulang. Ia menjelaskan bahwa kebiasaan sang suami bermain game setelah menyelesaikan tugas sebagai ayah dan ibu rumah tangga menjadi pemicu konflik. Sebelum memainkan game, Dede Suandar dituduh telah mengabaikan tanggung jawabnya sebagai pengusaha, sehingga memicu emosi yang tidak terkendali.

KDRT dan Dampak pada Anak-Anak

Karen mengungkap bahwa anak-anaknya juga mengalami efek dari kekerasan yang dialaminya. Anak pertamanya, yang berusia 10 tahun, menjadi korban ketika berusaha meredakan ketegangan antara orang tua. Menurutnya, anak itu pernah terluka di bagian bibir akibat serangan sang ayah. “Aku tuh kayak udah bukan manusia Kak,” ungkap Karen sambil menangis, menggambarkan rasa takut dan putus asa yang dirasakan selama pernikahannya.

KDRT yang dialami Karen tidak hanya memengaruhi keharmonisan keluarga, tetapi juga menimbulkan dampak psikologis pada anak-anaknya. Menurutnya, mereka sering kali merasa cemas dan takut mengambil langkah untuk menolong ibu mereka. Karen berharap kejadian tersebut bisa menjadi pengingat bagi publik mengenai pentingnya menyelesaikan masalah rumah tangga secara segera, sebelum merugikan anggota keluarga lainnya.

Penyelesaian Masalah: Upaya untuk Mengubah Situasi

Solving Problems bukan hanya tentang menghadapi KDRT, tetapi juga tentang upaya mengubah situasi yang tidak sehat. Karen menyampaikan bahwa ia berusaha menyelesaikan konflik dengan berbagi pengalaman dan bukti video kepada orang terdekat. Ia juga mengungkapkan bahwa masalah ini tidak hanya menyangkut hubungan suami-istri, tetapi juga mencerminkan ketidakseimbangan dalam kehidupan keluarga.

Dalam rangka menyelesaikan masalah, Karen mengatakan bahwa ia dan sang suami sempat berdiskusi untuk mencari solusi. Namun, perbedaan pendapat terus-menerus muncul, terutama terkait dengan penggunaan waktu dan peran masing-masing dalam rumah tangga. Menurutnya, KDRT yang dialami merupakan bentuk kekecewaan dan frustrasi yang terus menumpuk, sehingga memicu respons emosional yang berlebihan.

Karen juga menekankan bahwa KDRT tidak selalu terjadi karena perselingkuhan semata. Menurutnya, masalah ini bisa terjadi akibat pengabaian tanggung jawab, kesalahan komunikasi, atau perbedaan pribadi yang tidak diatasi secara tepat. Ia berharap pengakuan ini bisa menjadi langkah awal untuk menyelesaikan masalah dan menciptakan lingkungan keluarga yang lebih aman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *