Latest Program: FAO Peringatkan Penutupan Selat Hormuz Bisa Picu Krisis Harga Pangan Global dalam Setahun
FAO Peringatkan Penutupan Selat Hormuz Picu Krisis Harga Pangan Global dalam 1 Tahun
Latest Program – FAO mengingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz berpotensi memicu krisis harga pangan global dalam setahun. Pernyataan ini disampaikan pada hari Rabu, 21 Mei 2026, sebagai bagian dari latest program riset terbaru mereka mengenai dampak sistemik terhadap rantai pasokan pangan internasional. Badan pangan PBB tersebut menegaskan bahwa gangguan di selat yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dan gas bumi akan menyebabkan ketidakstabilan harga bahan baku produksi pertanian, seperti pupuk dan bahan bakar, serta berdampak langsung pada akses makanan di berbagai wilayah.
Krisis Bertahap: Energi, Pupuk, dan Inflasi
Krisis yang diprediksi FAO tidak muncul secara mendadak, melainkan terjadi secara bertahap. “Guncangan ini memulai dari isu energi, kemudian menginfeksi harga pupuk, benih, dan hasil panen, lalu meluas ke inflasi pangan global,”
ungkap FAO dalam latest program podcast mereka.
Sumber daya energi yang murah adalah kunci bagi produksi pertanian, terutama di negara-negara berkembang. Jika harga energi naik akibat gangguan di Selat Hormuz, biaya produksi pertanian akan meningkat, yang berpotensi menyebabkan kenaikan harga bahan makanan.
Penutupan Selat Hormuz yang Berlangsung Lama
FAO menyatakan bahwa penutupan Selat Hormuz telah berlangsung hampir tiga bulan, dari 28 Februari hingga 18 Mei 2026. Hal ini mengakibatkan gangguan signifikan dalam pasokan energi dan pupuk, yang merupakan elemen penting dalam sistem pangan global. Penutupan terus-menerus mempercepat tekanan pada kestabilan harga, terutama di negara-negara yang bergantung pada impor bahan pangan. Dalam latest program, FAO mengingatkan bahwa waktu untuk mengambil langkah pencegahan sedang berkurang.
Pengaruh Ekonomi Global pada Pasokan Pangan
Selat Hormuz merupakan titik hambatan energi kritis yang mengalirkan sekitar 20% dari pasokan minyak mentah dunia. Akibatnya, kenaikan harga bahan bakar akan menyebar ke berbagai sektor, termasuk transportasi pangan. Dalam latest program mereka, FAO menyoroti bahwa pemerintah harus mengambil langkah cepat untuk mengurangi risiko krisis harga yang bisa mencapai tingkat kritis dalam waktu singkat. Dengan menghubungkan keseluruhan rantai pasok, FAO menyatakan bahwa perubahan kecil di satu titik bisa memicu gelombang besar dalam harga pangan.
Strategi Pemulihan Pasca-Penutupan
Dalam latest program, FAO juga merekomendasikan beberapa langkah untuk meminimalkan dampak penutupan Selat Hormuz. Pertama, perlu ditingkatkan kerja sama internasional untuk memperluas jalur distribusi pangan alternatif. Kedua, pembatasan ekspor harus dihindari agar pasokan tetap terjaga. Ketiga, pengaturan kebijakan energi harus lebih fleksibel agar tidak memperburuk ketergantungan bahan bakar dan pangan. Selain itu, mekanisme kredit darurat harus diperluas untuk menjamin akses ke dana bagi petani dan perusahaan kecil di sepanjang rantai pasok.
Potensi Dampak di Berbagai Wilayah
Krisis pangan yang diprediksi FAO akan terasa lebih keras di wilayah yang bergantung pada impor bahan pangan, seperti Afrika, Asia Tenggara, dan bagian lain di Asia Selatan. Harga bahan baku produksi yang melonjak akan membuat biaya pertanian meningkat, yang berdampak langsung pada harga pasar. Dalam latest program, FAO juga memperkirakan bahwa kenaikan inflasi pangan bisa mencapai 15% dalam satu tahun jika tidak ada intervensi cepat. Lembaga ini meminta negara-negara penghasil bahan pangan untuk berbagi stok dan memperkuat kerja sama dalam distribusi global.
Kebutuhan Segera: Stabilisasi Harga dan Akses Pasokan
Kebutuhan utama untuk mencegah krisis pangan global adalah stabilitas harga dan kelancaran pasokan. FAO dalam latest program mereka menekankan bahwa peningkatan biaya transportasi dan energi harus diimbangi dengan langkah-langkah pemerintah untuk menjamin kebutuhan pangan dasar. Dengan mengatur kebijakan energi dan pupuk secara lebih bijak, serta memperkuat sistem distribusi, risiko krisis bisa dikurangi. Namun, waktu untuk tindakan yang efektif semakin terbatas, sehingga FAO meminta pengambilan keputusan yang cepat dan terkoordinasi dari semua pihak terkait.
