Ini Bukti Terbaru Kekalahan AS – Kongres: 40 Pesawat Senilai Rp46 Triliun Dihancurkan Iran
Ini Bukti Terbaru Kekalahan AS: 40 Pesawat Dihancurkan Iran Senilai Rp46 Triliun
Ini Bukti Terbaru Kekalahan AS menjadi fokus utama dalam laporan kongres terbaru yang mengungkapkan kerugian militer Amerika Serikat mencapai minimal 42 unit pesawat selama konflik 40 hari dengan Iran. Dokumen yang dikeluarkan oleh Kongres menyebutkan bahwa total kerugian diperkirakan mencapai USD2,6 miliar atau setara dengan Rp46 triliun. Laporan tersebut menyusun data dari Pentagon, Komando Pusat Amerika Serikat, serta sumber media pertahanan, menunjukkan bahwa jumlah korban nyawa dan kerusakan perangkat udara terus meningkat seiring berkembangnya operasi militer.
Kerugian Melibatkan Beragam Jenis Pesawat Tempur
Sejumlah pesawat tempur dan perangkat udara yang dihancurkan mencakup jet tempur, pesawat pengintai, helikopter penyelamat, drone, serta pesawat bantuan bahan bakar. Dalam laporan kongres, disebutkan bahwa empat unit F-15E Strike Eagle, satu F-35A Lightning II, satu A-10 Thunderbolt II, tujuh KC-135 Stratotanker, dan satu E-3 Sentry menjadi korban utama. Anggota parlemen AS menyoroti bahwa kerugian ini mencakup berbagai jenis armada, menunjukkan skala serangan yang dilakukan Iran.
“Kekalahan AS dalam konflik dengan Iran semakin nyata dengan kerugian pesawat yang melibatkan unit-unit strategis,” ujar seorang anggota kongres. Angka ini menjadi bukti bahwa pihak Iran berhasil menghancurkan sejumlah besar perangkat udara AS, meski jumlah aktual mungkin lebih tinggi karena data masih dalam proses verifikasi.
Dokumen Juga Menjelaskan Kehilangan Drone dan Pesawat Penjelajah
Selain pesawat tempur, laporan ini juga menyebutkan kehilangan dua unit MC-130J Commando II, satu HH-60W Jolly Green II, 24 MQ-9 Reaper, dan satu MQ-4C Triton. Dengan jumlah yang cukup besar, kerusakan ini mencakup perangkat penjelajah udara dan helikopter pengangkut, menunjukkan bahwa Iran mampu menargetkan berbagai jenis operasional militer AS. Anggota Kongres Demokrat Ed Case dalam sidang Senat menyatakan bahwa total kerugian mencapai sekitar 39 pesawat, tetapi angka ini bisa berubah tergantung hasil investigasi lebih lanjut.
Berdasarkan data dari Pentagon, korban pesawat tempur tersebut terjadi sejak operasi udara yang dimulai bulan lalu. Masing-masing jenis pesawat memiliki fungsi penting dalam operasi militer, seperti F-35A Lightning II yang digunakan untuk tugas pengintaian strategis, sedangkan KC-135 Stratotanker berperan dalam dukungan logistik. Dengan kehilangan perangkat-perangkat ini, AS mengalami kekurangan dalam kemampuan operasi udara yang mengganggu rencana pengejaran kekuatan Iran.
Kerugian Keuangan Menurut Laporan Kongres
Kerugian senilai Rp46 triliun mencerminkan biaya perang yang signifikan bagi AS. Dengan biaya satu pesawat tempur rata-rata mencapai USD65 juta, kehilangan 42 unit pesawat bisa dikaitkan dengan pengeluaran besar dalam perang udara terhadap Iran. Menurut laporan kongres, biaya ini tidak hanya mencakup pembelian perangkat, tetapi juga kerusakan, pemeliharaan, dan operasional yang terganggu. Dengan biaya semacam ini, konflik ini menjadi salah satu yang paling mahal dalam sejarah operasi militer AS.
Kongres juga menyebutkan bahwa kerugian ini bukan hanya dari sisi jumlah pesawat, tetapi juga dari aspek strategis. Misalnya, kehilangan drone MQ-9 Reaper menunjukkan bahwa Iran mampu menghancurkan teknologi pemantauan modern yang digunakan AS. Selain itu, perangkat seperti E-3 Sentry yang digunakan untuk pemantauan udara juga menjadi korban, mengurangi kemampuan intelijen militer Amerika Serikat dalam memantau operasi musuh.
Respon dari Pentagon dan Komando Militer
Dokumen kongres memperoleh data dari Pentagon dan Komando Pusat Amerika Serikat, yang menegaskan bahwa kerugian ini terus terjadi meski ada upaya pencegahan. Seorang perwakilan dari Pentagon mengungkapkan bahwa kerusakan terjadi akibat serangan terkoordinasi yang mengarah pada perangkat udara AS. Meski demikian, pihak AS masih menekankan bahwa operasi militer terus berjalan, dan jumlah korban bisa diperbaiki dengan data yang lebih lengkap.
Kongres juga meminta klarifikasi lebih lanjut dari Pentagon terkait jumlah aktual korban pesawat. Dengan data yang terus dikumpulkan, angka kerugian bisa diperbarui untuk mencerminkan keadaan terkini. Selain itu, laporan ini memperkuat argumen bahwa kekalahan AS dalam konflik dengan Iran tidak hanya bersifat lokal, tetapi juga memengaruhi kekuatan global Amerika Serikat.
