Refly Harun Ungkap Perbedaan Keterangan Kelulusan Gibran
Refly Harun Soroti Perbedaan Data Pendidikan Gibran Rakabuming Raka
Beritasosial.com – Kuasa hukum Pemohon Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Pilpres 2024, Refly Harun, menyoroti sejumlah perbedaan informasi mengenai riwayat pendidikan Gibran Rakabuming Raka. Perhatian itu diarahkan pada keterangan dalam Surat Keterangan Penyetaraan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, daftar pendidikan yang dipublikasikan Komisi Pemilihan Umum (KPU), serta portofolio pada situs Sekretariat Negara.
Pembahasan tersebut disampaikan Refly dalam program Rakyat Bersuara bertema Babak Baru MK, Pembuktian Ijazah Gibran, Selasa (29/9/2026). Ia menilai perbedaan tahun dan urutan pendidikan dalam sejumlah dokumen maupun profil resmi perlu dijelaskan secara terang, khususnya karena isu itu berkaitan dengan syarat pendidikan yang dipersoalkan dalam perkara PHPU.
Surat Penyetaraan Memuat Tahun 2006
Dalam pemaparannya, Refly menunjukkan Surat Keterangan Penyetaraan Kemendikbud yang memuat keterangan bahwa Gibran telah menuntaskan pendidikan Grade 12 di UTS Insearch, Sydney, Australia, pada 2006. Data ini kemudian dibandingkannya dengan riwayat pendidikan yang tercantum dalam materi publikasi KPU.
Pada daftar tersebut, UTS Insearch ditulis sebagai pendidikan tingkat SMA dalam rentang 2004 hingga 2007. Refly mempersoalkan perbedaan antara penyelesaian Grade 12 pada 2006 dan informasi kelulusan yang ditempatkan pada 2007.
“Kemudian SMA UTS Insearch 2004–2007, oke? Udah tidak konsisten, tadi 2006. Kalau dikatakan dia 2007 selesai, it’s okay. Berarti kan ujungnya doang, tapi ini ujungnya pun tidak konsisten, ya,” jelas Refly.
Persoalan yang ditekankan Refly bukan hanya perbedaan satu tahun. Ia memandang data pendidikan pejabat publik harus memiliki kronologi yang selaras antararsip, terutama apabila informasi tersebut dipakai untuk menerangkan jenjang pendidikan dan pemenuhan persyaratan administratif.
Surat penyetaraan sendiri menjadi dokumen penting dalam konteks pendidikan luar negeri karena dapat menerangkan kedudukan suatu kualifikasi terhadap sistem pendidikan nasional. Karena itu, kejelasan mengenai program yang ditempuh, waktu penyelesaian, serta dokumen kelulusan menjadi bagian dari pembahasan yang dia angkat.
Portofolio Setneg Dinilai Memiliki Susunan Berbeda
Refly juga membandingkan catatan tersebut dengan portofolio Gibran yang tersedia di situs Sekretariat Negara Republik Indonesia. Dalam portofolio itu, ia menyebut terdapat susunan tahun yang berbeda dibandingkan informasi pada dokumen lain.
Ia menjelaskan bahwa portofolio tersebut memuat UTS Insearch pada periode 2007 sampai 2010. Sementara itu, Management Development Institute of Singapore (MDIS) ditulis berlangsung pada 2004 hingga 2007. Bagi Refly, susunan tersebut berbeda dengan gambaran riwayat pendidikan yang sebelumnya ditampilkan.
“Anda tidak bisa mengatakan ini adalah website abal-abal. Ini website resmi juga, sama seperti KPU. Tidak mungkin juga dia membuat biografi atau riwayat pendidikan wakil presiden salah-salah,” kata Refly.
Ia lalu menekankan bahwa rentang 2004–2007 dalam portofolio itu ditempatkan untuk MDIS, sedangkan angka 2007–2010 dikaitkan dengan UTS Insearch di University of Technology Sydney, Australia. Penempatan ini menjadi titik utama perbandingan yang ia lakukan terhadap Surat Keterangan Penyetaraan dan informasi dari KPU.
“Yang di ini terbalik. 2004–2007 itu adalah di MDIS-nya, Management Development Institute of Singapore, oke. 2007–2010 which is angka baru, kemudian Insearch di University of Technology Sydney, UTS Insearch Australia,” terang Refly.
Perbedaan data semacam ini dapat memunculkan pertanyaan tentang apakah masing-masing informasi merujuk pada program pendidikan yang sama, waktu studi yang berbeda, atau tahap pendidikan yang tidak dijelaskan secara lengkap. Namun, dalam pemaparan tersebut Refly fokus pada perlunya dokumen yang dapat memperjelas kesesuaian riwayat pendidikan itu.
Dokumen Kelulusan Jadi Pokok Persoalan
Refly menyatakan pihaknya belum menemukan dokumen yang, dalam pandangannya, secara khusus menunjukkan sertifikat, diploma, atau tanda tamat belajar Gibran yang menerangkan kesetaraan dengan pendidikan SMA di Indonesia. Pernyataan itu ia kaitkan dengan institusi UTS maupun MDIS.
“Nah, itu yang saya katakan ada inkonsistensi informasi di sini. Makanya kemudian sampai hari ini, sampai detik ini, kami tidak menemukan ada yang membantah dan bisa menunjukkan dokumen bahwa Gibran itu punya certificate, diploma, tanda tamat belajar yang mengatakan bahwa itu setara SMA di Indonesia. Nggak ada! Baik dari UTS maupun MDIS,” pungkas Refly.
Isu yang dibahas berada dalam konteks sengketa PHPU Pilpres 2024 mengenai syarat pendidikan Gibran. Dalam perkara semacam ini, pembuktian tidak berhenti pada narasi riwayat hidup, melainkan dapat mencakup kesesuaian antara keterangan publik, dokumen akademik, dan dokumen administrasi yang relevan.
Perbedaan pencantuman tahun tidak serta-merta menjelaskan status sebuah kualifikasi. Meski demikian, Refly menilai penjelasan yang konsisten diperlukan agar publik dapat memahami urutan pendidikan yang dicatat dalam berbagai dokumen resmi. Ia menempatkan persoalan tersebut sebagai bagian dari upaya pembuktian terkait syarat pendidikan dalam sengketa yang sedang menjadi perhatian.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Refly Harun Ungkap Perbedaan Keterangan Kelulusan?
Refly Harun Ungkap Perbedaan Keterangan Kelulusan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Refly Harun Ungkap Perbedaan Keterangan Kelulusan matter?
Refly Harun Ungkap Perbedaan Keterangan Kelulusan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
