Fermentasi Cuka Salak, Inovasi Baru Angkat Potensi Petani Salak di Bojonegoro
Fermentasi Cuka Salak: Inovasi Petani Bojonegoro
Beritasosial.com – Desa Wedi di Kabupaten Bojonegoro kini mengalami transformasi ekonomi yang signifikan berkat Fermentasi Cuka Salak Inovasi Baru. Program pengabdian masyarakat yang diinisiasi oleh tim Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) berhasil mengubah salak menjadi komoditas bernilai tinggi melalui proses fermentasi. Kegiatan ini dilaksanakan selama Juli hingga Agustus 2026 dengan dukungan hibah dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) tahun 2026.
Kolaborasi Tim dan Mitra Lokal
Tim pengabdian yang dipimpin oleh Viera Nu’riza Pratiwi melibatkan mahasiswa dari Program Studi S1 Gizi serta Program Studi S1 Manajemen. Mitra utama dalam program ini adalah para petani salak lokal, dengan peran strategis bagi istri petani sebagai penggerak usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Sebelum pelaksanaan kegiatan inti, dilakukan Focus Group Discussion (FGD) bersama perwakilan petani dan pelaku UMKM untuk memetakan potensi, kebutuhan, serta hambatan dalam pengelolaan hasil panen.
Baca juga: Potensi Ekonomi Desa Wedi Bojonegoro
Rangkaian Pelatihan dan Implementasi
Upacara pembukaan dilaksanakan pada 4 Agustus 2026 oleh Kepala Desa Wedi, Heru Purnomo. Para peserta mengikuti serangkaian pelatihan yang mencakup sortasi pascapanen, penerapan higiene dan sanitasi dalam pengolahan salak, proses fermentasi pembuatan cuka, serta strategi pemasaran dan perhitungan laba rugi. Melalui pendekatan ini, petani diajak melihat alternatif pemanfaatan hasil panen yang mampu meningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka ruang bagi pengembangan UMKM.
Program ini tidak hanya berfokus pada bagaimana hasil panen salak dapat diolah, tetapi juga bagaimana masyarakat memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk menjaga kualitas produk, menerapkan higiene dan sanitasi, serta memahami aspek pemasaran dan keuntungan usaha.
Pendapat Pelaku Usaha
Sa’bania Hari Raharjeng, salah satu anggota tim, menjelaskan bahwa program ini memiliki cakupan lebih luas daripada sekadar pengolahan buah. Menurutnya, aspek penting lainnya adalah pemberdayaan masyarakat dalam menjaga kualitas produk dan keamanan pangan. Arum yang merupakan istri petani sekaligus penggerak UMKM di Desa Wedi merasa terbantu dengan ilmu baru yang diperoleh. Ia menyoroti pentingnya keterampilan mengolah salak menjadi cuka sebagai produk bernilai jual.
Kegiatan ini memberikan pengetahuan baru bagi kami, terutama tentang cara mengolah salak menjadi cuka yang memiliki nilai jual. Kami berharap keterampilan ini dapat dikembangkan bersama sehingga hasil panen salak dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi keluarga dan UMKM di Desa Wedi.
Dampak Jangka Panjang
Melalui inisiatif ini, petani dan pelaku UMKM diharapkan mampu mengoptimalkan hasil panen menjadi produk bernilai tambah, sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat Desa Wedi. Tim pengabdian Unusa menyampaikan ucapan terima kasih kepada Direktorat Riset, Inovasi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRIPM) UNUSA atas dukungan penuh selama program berjalan. Apresiasi juga disampaikan kepada DRTPM, Pemerintah Desa Wedi, para petani salak, penggerak UMKM, dosen, mahasiswa, dan seluruh pihak yang terlibat.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Fermentasi Cuka Salak
Apa itu Fermentasi Cuka Salak Inovasi Baru? Fermentasi Cuka Salak Inovasi Baru adalah metode pengolahan salak menjadi cuka melalui proses fermentasi yang dikembangkan oleh tim Unusa untuk meningkatkan nilai ekonomi salak di Desa Wedi, Bojonegoro.
Berapa lama program ini berlangsung? Program pengabdian masyarakat ini dilaksanakan selama dua bulan, yaitu dari Juli hingga Agustus 2026.
Siapa saja yang terlibat dalam program ini? Program ini melibatkan tim Unusa yang dipimpin oleh Viera Nu’riza Pratiwi, mahasiswa S1 Gizi dan S1 Manajemen, petani salak lokal, serta istri petani sebagai penggerak UMKM.
Apa manfaat utama program ini bagi petani? Petani mendapatkan keterampilan baru dalam mengolah salak menjadi cuka, meningkatkan nilai jual produk, serta memperkuat posisi UMKM di Desa Wedi.
Bagaimana dukungan yang diberikan? Program ini mendapat dukungan hibah dari DRTPM tahun 2026 dan DRIPM UNUSA untuk mendukung pelaksanaan kegiatan hingga selesai.
