Houthi Bakal Kenakan Pajak Laut Merah: China Bebas Melenggang, Arab Saudi Makin Tertekan

77fb4281-0fb2-4ddf-9c85-fa081f9a7ffd-0

Houthi Siap Terapkan Tarif Transit di Selat Bab el-Mandeb: China Aman, Arab Saudi Terjepit

Beritasosial.com – Kelompok militan Houthi di Yaman dikabarkan sedang menyusun strategi ambisius untuk mengenakan pungutan biaya transit kepada setiap kapal niaga yang melewati Selat Bab el-Mandeb. Lokasi strategis ini menjadi pintu gerbang vital yang menghubungkan perairan Laut Merah dengan Teluk Aden, sekaligus menjadi arteri utama bagi perdagangan energi dan rantai pasokan global.

Peran Penting Penasihat Iran dalam Perencanaan Pajak

Kabarnya, inisiatif pemungutan retribusi ini mendapat dorongan signifikan dari Teheran. Para pejabat Houthi sempat melakukan kunjungan ke Iran untuk menghadiri upacara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi negara tersebut. Selama kunjungan itu, diskusi mendalam mengenai mekanisme pajak jalur internasional pun berlangsung intensif.

Bahkan, sejumlah penasihat dari Iran dikabarkan diterbangkan khusus ke Yaman. Tugas mereka adalah membantu merancang lembaga baru yang akan bertanggung jawab penuh dalam mengelola dan menagih retribusi dari kapal-kapal yang melintas. Langkah ini memiliki dua tujuan strategis: pertama, menormalisasi praktik pemungutan biaya di perairan internasional, dan kedua, memberikan tekanan ekonomi yang lebih besar terhadap Amerika Serikat beserta sekutu-sekutunya.

Keuntungan Finansial yang Menjanjikan

Penguasaan atas jalur pelayaran ini diyakini akan membawa keuntungan ekonomi yang sangat besar bagi Houthi. Berdasarkan catatan Panel Ahli PBB, skema “uang damai” yang diduga dijalankan kelompok tersebut pada tahun 2024 mampu menghasilkan pendapatan mencapai USD 180 juta atau setara Rp 2,9 triliun setiap bulannya.

China Mendapat Perlakuan Istimewa

Dalam rencana tarif baru ini, kapal-kapal yang berkibarkan bendera China dipastikan akan mendapatkan pengecualian khusus. Mereka tidak perlu membayar pungutan apapun. Keputusan ini merupakan hasil dari negosiasi langsung antara Beijing dengan Houthi, yang bertujuan menjamin keamanan tanker-tanker minyak milik China di perairan Laut Merah. Perlu dicatat bahwa China saat ini memegang posisi sebagai pembeli minyak terbesar dari Arab Saudi.

Dampak Terhadap Arab Saudi dan Logistik Global

Sementara China merasa aman, Arab Saudi justru menghadapi tantangan serius. Pengenaan tarif atau penutupan jalur di Bab el-Mandeb akan menghilangkan salah satu alternatif utama bagi Saudi ketika Selat Hormuz mengalami gangguan. Jika kapal-kapal terpaksa memutar rute mengelilingi Benua Afrika, waktu tempuh akan bertambah drastis dari 16 hari menjadi 50 hari. Kondisi ini berpotensi memicu lonjakan biaya logistik dan inflasi baru di berbagai pasar dunia.

Kegagalan Diplomasi dan Kelemahan Barat

Meskipun mendapat penolakan keras dari negara-negara Teluk serta Eropa, pasukan angkatan laut internasional dinilai masih kewalahan memberikan perlindungan menyeluruh bagi seluruh kapal niaga yang melintas. Di sisi lain, upaya diplomasi juga mengalami kemacetan. Pejabat senior Iran secara resmi menolak proposal Oman mengenai pengelolaan bersama Selat Hormuz, sehingga memadamkan harapan akan tercapainya solusi damai untuk kebuntuan perdagangan di kawasan tersebut.

Dunia kini menantikan perkembangan selanjutnya. Apakah Houthi benar-benar akan mengunci Selat Bab el-Mandeb dengan tarif komersial, ataukah langkah ini akan memicu respons militer baru dari koalisi Barat?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *