Trump: Syarat Arab Saudi Miliki Program Nuklir Harus Akui Negara Israel

Trump Tetapkan Persyaratan Baru untuk Kerjasama Nuklir Saudi
Beritasosial.com – Trump – Washington – Presiden Trump menetapkan ketentuan penting bagi Kerajaan Arab Saudi yang menginginkan dukungan pengembangan program nuklir sipil. Menurut pemimpin Amerika Serikat tersebut, pengakuan terhadap keberadaan negara Israel menjadi syarat mutlak dalam negosiasi ini. Langkah ini menunjukkan pendekatan tegas dari pemerintahan Trump dalam diplomasi Timur Tengah yang selama ini menjadi fokus utama kebijakan luar negeri Washington.
“Kesepakatan Nuklir Sipil (Tidak akan ada pengayaan material!)… yang hanya berkaitan dengan penggunaan non-militer…akan disetujui, tetapi sepenuhnya bergantung pada Arab Saudi yang bergabung dengan Kesepakatan Abraham yang sangat dihormati dan sukses,” tulis Trump di Truth Social, sebagaimana dikutip dari BBC, Jumat (24/7/2026).
Ketidakpastian Status Persyaratan
Belum diketahui pasti apakah ketentuan bergabung dengan perjanjian tersebut sudah tercantum dalam dokumen kesepakatan nuklir yang masih dirahasiakan, atau apakah pihak Saudi sendiri telah memberikan persetujuan atas syarat ini. Hingga saat ini, Kerajaan Arab Saudi belum mengeluarkan tanggapan resmi terkait pernyataan Trump.
Sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengungkapkan bahwa presiden AS telah membahas ketentuan ini berulang kali dengan para pemimpin Saudi sebelumnya. “Dia mengatakan jika mereka tidak bergabung dengan Perjanjian Abraham, kesepakatan itu batal,” katanya. “Jadi kami akan terus melakukan percakapan tersebut dengan rekan-rekan Saudi kami ke depannya,” lanjut Leavitt.
Kekhawatiran Proliferasi Nuklir
Pernyataan Trump muncul menyusul kritik dari berbagai pakar yang menilai kesepakatan AS-Saudi yang diumumkan hari Rabu berpotensi menimbulkan risiko proliferasi nuklir di masa depan. Wilayah Timur Tengah yang sudah tidak stabil ini menjadi perhatian khusus bagi para ahli keamanan internasional. Banyak yang khawatir bahwa tanpa pengawasan ketat, Arab Saudi dapat mengembangkan kemampuan nuklir yang melampaui tujuan sipil.
Beberapa anggota parlemen Amerika Serikat dari kedua partai, baik Republik maupun Demokrat, juga menyampaikan kekhawatiran serupa. Meskipun Partai Republik yang merupakan partai Trump saat ini mengendalikan majelis tinggi dan rendah, para penentang kesepakatan tersebut tampaknya belum memiliki suara yang cukup untuk memblokirnya. Debat di Kongres diperkirakan akan berlangsung intensif dalam beberapa minggu mendatang.
Menurut Departemen Energi AS, kesepakatan yang sedang dibahas mencakup perjanjian kerja sama nuklir damai serta perjanjian pengamanan bilateral antara kedua negara. Detail teknis mengenai transfer teknologi dan pembatasan pengayaan uranium masih dalam tahap finalisasi. Trump diyakini akan memberikan keputusan akhir setelah mempertimbangkan semua masukan dari tim negosiasinya.
Kesepakatan ini juga diharapkan dapat memperkuat posisi Amerika Serikat sebagai mitra strategis utama di kawasan Timur Tengah. Dengan syarat pengakuan Israel, Trump ingin memastikan bahwa normalisasi hubungan Arab-Saudi berjalan lebih jauh dari sekadar kerja sama ekonomi dan keamanan. Langkah ini sejalan dengan visi pemerintahan Trump untuk menciptakan stabilitas regional melalui pendekatan diplomasi yang lebih komprehensif dan terstruktur.
