AS Provokasi UEA untuk Caplok Pulau Lavan yang Dikuasai Iran
AS Provokasi UEA untuk Caplok Pulau Lavan yang Dikuasai Iran
AS Provokasi UEA untuk Caplok Pulau – Dalam laporan The Telegraph, para pejabat AS dikabarkan mendorong Uni Emirat Arab (UEA) untuk merebut salah satu kepulauan Iran di Teluk Persia. Pulau yang dimaksud adalah Lavan, salah satu titik strategis yang menjadi pusat ekspor minyak Iran, memiliki infrastruktur kilang dan fasilitas penyimpanan yang terhubung ke beberapa ladang minyak utama. Lokasi ini juga menyimpan cadangan gas alam yang signifikan.
Media menyebutkan bahwa beberapa anggota lingkaran presiden Donald Trump telah menyarankan agar UEA mengambil alih pulau tersebut. “Ayo serang mereka! Pasukan UEA yang akan berada di lapangan, bukan AS,” demikian kutipan dari seorang mantan pejabat senior keamanan Trump. Usulan ini mencerminkan tekanan Washington untuk mengurangi kehadiran militer AS langsung, seiring perang dengan Iran yang telah berlangsung tiga bulan.
Biaya Perang dan Strategi Ketersediaan Senjata
Menurut laporan Pentagon kepada Kongres bulan ini, biaya perang melawan Iran telah mencapai sekitar USD29 miliar, sebagian besar berasal dari pengeluaran rudal dan operasi pertahanan udara. Analisis keamanan dan media militer AS mengingatkan bahwa serangan intensif selama beberapa minggu yang melibatkan sistem THAAD, Patriot, serta Tomahawk telah mereduksi persediaan senjata Amerika.
Pentagon sejak itu mempercepat upaya mengisi kembali stok senjata dengan produk-produk massal yang lebih murah, yang dikembangkan oleh perusahaan pertahanan baru. Dorongan kepada UEA juga muncul saat sekutu AS menunjukkan keengganan untuk terlibat langsung dalam konflik.
Posisi UEA dan Saudi dalam Perang
UEA menjadi salah satu negara regional yang paling dekat dengan Washington dan Israel sepanjang perang. Teheran menuduh Abu Dhabi berperan sebagai “basis musuh” bagi operasi AS dan Israel, yang selama ini menargetkan wilayah Emirat. Pasukan UEA dilaporkan melakukan serangan rahasia terhadap target Iran, termasuk serangan pada April.
Arab Saudi juga dianggap melakukan serangan terbatas terhadap Iran, tetapi menolak usulan UEA untuk mengorganisir kampanye militer Teluk yang terkoordinasi. Beberapa negara anggota NATO Eropa, seperti Jerman, Spanyol, dan Inggris, secara terbuka menjauh dari partisipasi langsung dalam perang tersebut.
