Solution For: Investasi Asing Lebih Pilih Malaysia, Singapura, dan Vietnam daripada Indonesia
Solusi untuk: Investasi Asing Lebih Pilih Malaysia, Singapura, dan Vietnam Daripada Indonesia
Solution For – Solusi untuk meningkatkan daya tarik investasi asing di Indonesia menjadi fokus utama dalam diskusi ekonomi terkini. Menurut ekonom dari Indef dan Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, aliran modal asing belakangan ini lebih condong ke Singapura, Vietnam, dan Malaysia. Dalam wawancara resmi, ia menyoroti bahwa Indonesia masih kalah dalam daya tarik dibandingkan tiga negara tersebut. Didik mengungkapkan bahwa ukuran investasi masuk ke suatu negara sering kali dibandingkan dengan rasio terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Singapura mencatat persentase tertinggi, yaitu 27,8% dari PDB, sementara Vietnam dan Malaysia masing-masing sebesar 4,2% dan 3,7%. “Solusi untuk menarik investasi asing yang lebih besar harus berfokus pada efisiensi birokrasi dan kinerja institusi,” ujar Didik.
Kinerja Ekonomi dan Tantangan Penanaman Modal
Didik menekankan bahwa rendahnya jumlah investasi asing berdampak signifikan pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini menjadi penyebab utama mengapa pertumbuhan ekonomi negara ini belum mencapai target 8% yang diharapkan Presiden Prabowo. Saat ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia bergantung pada belanja pemerintah dan konsumsi masyarakat, tetapi belum mampu memacu pertumbuhan yang lebih kuat. “Solusi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8% membutuhkan peningkatan ekspor atau pengembangan investasi dalam negeri,” tambahnya. Didik juga menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang rendah berpotensi mengurangi daya tarik negara bagi investor internasional.
“Masalah institusi yang lemah diakui secara terbuka oleh Presiden Prabowo, khususnya dalam hal birokrasi yang memperlambat proses investasi,” jelas Didik.
Regulasi yang Rumit Membatasi Minat Investor
Didik menyebutkan bahwa investor masih mengalami hambatan karena proses pengajuan izin yang terlalu rumit di Indonesia. Rata-rata waktu untuk menyelesaikan perizinan mencapai satu hingga dua tahun, sedangkan di negara-negara lain prosesnya bisa selesai dalam dua minggu. “Solusi untuk mengurangi kesulitan ini adalah mendorong reformasi sistem yang lebih transparan dan mempercepat proses birokrasi,” katanya. Menurutnya, investor tidak hanya mengevaluasi potensi pasar, tetapi juga mempertimbangkan faktor birokrasi yang menjadi penghalang utama. “Regulasi yang panjang berisiko menimbulkan praktik tidak sehat, seperti korupsi atau perizinan yang dipolitisasi,” imbuh Didik.
Reformasi Institusi dan Digitalisasi Birokrasi
Didik menyoroti bahwa Solusi untuk meningkatkan investasi asing tidak cukup hanya dengan memangkas izin, tetapi juga memerlukan perubahan mendasar dalam struktur pemerintahan dan penegakan hukum. “Solusi untuk menarik investor internasional adalah melalui reformasi institusi, keberanian politik, dan koordinasi yang lebih baik antara pusat dan daerah,” jelasnya. Digitalisasi birokrasi, menurut Didik, menjadi faktor kunci dalam mempercepat proses investasi. “Solusi untuk mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi adalah dengan mengurangi hambatan administratif dan memastikan kebijakan yang konsisten,” lanjutnya. Didik juga menambahkan bahwa keberhasilan reformasi tergantung pada komitmen pemerintah dan kemampuan institusi lokal dalam menyesuaikan diri dengan tuntutan pasar global.
Realisasi Investasi RI Meningkat, Tapi Masih Jauh
Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melaporkan bahwa nilai investasi yang masuk ke Indonesia pada kuartal pertama 2026 mencapai Rp498,8 triliun, atau 24,4% dari target tahunan 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun. Menteri Investasi Rosan Roeslani mengatakan pertumbuhan investasi ini meningkat 7,2% dibandingkan kuartal I 2025. “Solusi untuk menutup kesenjangan antara rasio investasi asing di Indonesia dengan negara-negara tetangga harus melibatkan strategi yang lebih terarah,” tambahnya. Meski ada peningkatan, investasi asing masih jauh dari target, dengan persentase 1,8% dari PDB.
Secara kepemilikan modal, Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) hampir seimbang. PMA menyumbang Rp250 triliun atau 50,1% dari total investasi, tumbuh 8,5% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara PMDN mencapai Rp248,8 triliun atau 49,9%, dengan pertumbuhan 6,0% tahunan. “Solusi untuk meningkatkan daya saing Indonesia sebagai destinasi investasi harus melibatkan keterlibatan sektor swasta dan pemerintah daerah dalam menyukseskan kebijakan,” kata Rosan.
Strategi Jangka Panjang untuk Menarik Investasi
Didik menyarankan bahwa Solusi untuk meningkatkan daya tarik investasi asing memerlukan strategi jangka panjang yang mencakup pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas SDM, serta peningkatan kerja sama antarinstansi. “Solusi untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik adalah dengan menguatkan ekosistem bisnis yang kompetitif dan pasti,” tuturnya. Menurutnya, keterlibatan sektor swasta dalam mengembangkan lingkungan bisnis yang lebih baik akan menjadi penggerak utama. “Solusi untuk meningkatkan efisiensi birokrasi juga memerlukan keterlibatan pihak swasta dalam menyediakan layanan purna jualan yang memadai,” tambah Didik.
