Ahli Epidemiologi Sebut Lingkungan Terbuka Lebih Aman dari Penularan Hantavirus
Ahli Epidemiologi Sebut Lingkungan Terbuka Lebih Aman dari Penularan Hantavirus
Ahli Epidemiologi Sebut Lingkungan Terbuka Lebih – Dalam upaya memahami dinamika penyebaran virus Hanta, sejumlah ahli epidemiologi menggarisbawahi bahwa lingkungan terbuka cenderung lebih aman dibandingkan ruang tertutup. Pandu Riono, spesialis dari Universitas Indonesia, menegaskan bahwa risiko penularan virus ini di area terbuka jauh lebih rendah, terutama jika dibandingkan dengan lingkungan yang terbatas seperti kapal pesiar atau ruang rapat. Menurutnya, walaupun virus Hanta bisa menyebabkan gejala serius, seperti demam tinggi dan gejala pernapasan, penyebarannya di lingkungan terbuka lebih lambat dan kurang efektif karena kurangnya paparan langsung.
“Lingkungan terbuka memberi ruang untuk sirkulasi udara yang lebih baik, sehingga partikel virus yang terbawa debu atau partikel kecil tidak menumpuk dengan cepat. Di ruang tertutup, risiko paparan massal bisa meningkat secara signifikan, terutama ketika orang-orang berkerumun dalam waktu lama,” jelas Pandu saat diwawancara iNews Media Group.
Risiko Penularan di Ruang Tertutup Lebih Tinggi
Pandu Riono menyoroti perbedaan tingkat risiko antara lingkungan terbuka dan ruang tertutup, menggambarkan kasus virus Hanta di kapal pesiar MV Hondius sebagai contoh utama. Dalam situasi seperti itu, kepadatan penumpang dan kurangnya sirkulasi udara berkontribusi pada penyebaran virus yang lebih cepat. Di lingkungan terbuka, seperti taman atau pasar, paparan virus hanya terjadi jika seseorang secara langsung menyentuh benda-benda yang tercemar kotoran tikus atau menghirup partikel dari udara yang terkontaminasi.
“Jika seseorang berada di area tertutup selama beberapa hari tanpa ventilasi, kemungkinan mereka tertular hantavirus meningkat. Namun, di lingkungan terbuka, perlu waktu lebih lama untuk virus menyebar ke banyak orang. Ini menjelaskan mengapa wabah lebih sering terjadi di tempat-tempat rapat,” tambah dia.
Mekanisme Penularan Hantavirus dari Tikus
Virus Hanta, yang berasal dari genus *Hantavirus*, dapat menyebar ke manusia melalui interaksi dengan tikus atau kotoran mereka. Pandu Riono menjelaskan bahwa tikus menjadi pembawa utama virus ini, terutama di wilayah dengan populasi tikus yang tinggi. Debu yang mengandung kotoran tikus bisa menjadi medium penyebaran, terutama jika manusia menghirupnya saat beraktivitas di area yang terkontaminasi. Namun, pandu juga menekankan bahwa penularan di lingkungan terbuka tidak sepenuhnya tidak berisiko, melainkan berbanding terbalik dengan lingkungan tertutup.
“Di lingkungan terbuka, virus Hanta bisa menyebar melalui kontak langsung dengan tikus atau debu mereka. Tapi karena area lebih luas, risiko kontak massal jauh lebih rendah. Jadi, justru lingkungan terbuka menjadi lebih aman untuk warga yang ingin menjaga kesehatan diri,” pungkas Pandu.
Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hantavirus lebih sering menyebabkan gejala ringan yang bisa diatasi dengan pengobatan simptomatik, seperti pemberian cairan dan obat pereda nyeri. Namun, jika tidak segera ditangani, kondisi bisa berkembang menjadi penyakit yang mengancam jiwa, seperti Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Pandu Riono menekankan bahwa warga yang berada di lingkungan terbuka tidak perlu cemas secara berlebihan, selama menjaga kebersihan dan menjauhi area dengan tikus yang menginfeksi.
Langkah Pencegahan untuk Lingkungan Terbuka
Untuk meminimalkan risiko penularan hantavirus di lingkungan terbuka, Pandu Riono merekomendasikan beberapa langkah pencegahan. Pertama, masyarakat harus memastikan area hunian bebas dari tikus dengan memperbaiki kebersihan lingkungan. Kedua, setelah berada di tempat umum, warga disarankan untuk mencuci tangan secara rutin dan menghindari menyentuh permukaan yang mungkin tercemar kotoran tikus. Selain itu, penggunaan masker di lingkungan dengan risiko tinggi
