Latest Program: Nissan Yakin Kembali Meraih Keuntungan Setelah Hampir Dua Tahun Terus Merugi

nissan-yakin-kembali-meraih-keuntungan-setelah-hampir-dua-tahun-terus-merugi-rwy

Nissan Optimis Pemulihan Keuntungan Tahun Ini

Latest Program – Produsen kendaraan asal Jepang, Nissan, mengungkapkan harapan untuk kembali mencatat laba pada tahun fiskal saat ini setelah merugi selama tujuh kuartal beruntun. Perusahaan sedang mengambil langkah-langkah restrukturisasi yang lebih agresif, termasuk mengurangi kapasitas produksi, menutup beberapa fasilitas operasional, dan menekan biaya operasional global dengan menjual aset.

Proyeksi Pendapatan dan Penjualan

Menurut laporan terbaru, Nissan mencatatkan kerugian bersih sebesar ¥282,9 miliar dalam tiga bulan hingga Maret, angka yang lebih baik dibandingkan kerugian ¥676 miliar di periode yang sama tahun lalu. Untuk tahun fiskal 2026 yang dimulai April, perusahaan memproyeksikan peningkatan pendapatan sebesar 8,3 persen menjadi ¥13 triliun, sekaligus menargetkan laba bersih ¥20 miliar.

Secara bersamaan, Nissan juga memprediksi penjualan global akan naik 4,7 persen menjadi 3,3 juta unit. Namun, pendapatan kuartal keempat tercatat turun 1,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai ¥3,43 triliun.

Langkah Pemotongan Biaya

Nissan telah melakukan pengurangan signifikan dalam operasional, seperti menutup pabrik di Eropa dan menyederhanakan portofolio model. Perusahaan juga menghentikan produksi beberapa mobil yang kurang laris untuk fokus pada produk berpotensi lebih menguntungkan. Kemitraan dengan Chery Automobile untuk operasi pabrik di Afrika Selatan menjadi salah satu tindakan yang diambil sebagai upaya mengurangi beban keuangan global.

“Tarif impor AS masih menjadi tantangan besar bagi laba operasional,” jelas laporan keuangan Nissan. “Kerugian mencapai ¥54 miliar dalam tiga bulan terakhir akibat beban tambahan ini.”

Peluncuran Teknologi Masa Depan

Di samping upaya pemulihan keuangan, Nissan juga memprioritaskan pengembangan teknologi mobilitas terbaru. Perusahaan mulai fokus pada layanan mengemudi otonom serta robotaxi, kerja sama dengan Uber Technologies dan startup Inggris, Wayve, untuk menguji coba layanan tersebut di Tokyo pada akhir 2026.

Kinerja Keuangan dan Tantangan Eksternal

Langkah restrukturisasi yang diambil Nissan menunjukkan komitmen untuk memperbaiki kondisi keuangan. Meski demikian, tarif impor AS sebesar 15 persen terus memberi tekanan pada bisnis, terutama setelah perjanjian perdagangan ditandatangani dengan Washington Juli tahun lalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *