Special Plan: Riset Deloitte Bongkar Alasan Mengapa Orang Indonesia Belum Move On dari Mobil Bensin

Special Plan: Alasan Konsumen Indonesia Masih Menyukai Mobil Bensin
Beritasosial.com – Riset terbaru Deloitte Global Automotive Consumer Study: Southeast Asia Perspectives mengungkap kecenderungan unik masyarakat Indonesia dalam pilihan kendaraan. Dari total 6.013 responden di enam negara, lebih dari 1.000 penduduk Indonesia menunjukkan preferensi terhadap mobil bensin, meski tren ini berbeda dengan negara-negara tetangga. Survei menemukan penurunan 7 poin persentase minat pada kendaraan berbasis mesin pembakaran internal (ICE) dibandingkan survei sebelumnya, tetapi Indonesia tetap mempertahankan penurunan tertinggi di kawasan Asia Tenggara.
Kesenjangan Infrastruktur dan Biaya Pengisian Daya
Satu faktor utama yang memperlambat adopsi kendaraan listrik adalah kesenjangan infrastruktur pengisian. Dari 61% calon pembeli energi baru (NEV), hanya 54% yang memiliki akses alat pengisian di rumah, sementara 34% tidak memiliki fasilitas tersebut. Selain itu, biaya pengisian di lokasi umum terbukti menjadi penentu utama, dengan 90% responden menyebut harga sebagai pertimbangan utama—angka tertinggi di Asia Tenggara. Kondisi ini menunjukkan kebutuhan akan investasi lebih besar dalam layanan pengisian dan pembangunan fasilitas yang menjangkau.
Perubahan Loyalitas Merek dan Minat Baru
Survei juga mengungkap pergeseran loyalitas merek di kalangan konsumen. Indonesia menempati posisi kedua di Asia Tenggara dengan 69% responden berencana beralih ke merek lain saat membeli kendaraan berikutnya. Sebanyak 41% dari kelompok ini sudah mengganti merek saat menggunakan kendaraan saat ini. Meski loyalitas merek tetap kuat, adopsi NEV bisa mempercepat perubahan ini, terutama dengan dukungan insentif yang diperkenalkan pemerintah sejak Juni 2026.
Motivasi Utama Konsumen untuk Mengadopsi Teknologi Baru
Konsumen Indonesia memiliki kriteria pembelian yang jelas. Pada kualitas produk, 68% menjadikannya prioritas utama. Performa kendaraan juga mendapat perhatian tinggi dengan 66% responden menilainya penting. Meski demikian, ketersediaan infrastruktur menjadi hambatan utama, dengan 47% menginginkan stasiun pengisian yang lebih banyak. Faktor harga, meski terbukti menarik, belum cukup untuk mengubah preferensi dominan.
Pengaruh Media Sosial dan Transparansi Harga
Dalam menyeleksi kendaraan, konsumen Indonesia lebih tergantung pada media sosial dan ulasan influencer—62% responden mengakui pengaruh ini, melebihi portal daring (57%) dan kunjungan langsung ke dealer (55%). Hal ini menunjukkan bahwa strategi pemasaran digital perlu ditingkatkan untuk menginspirasi adopsi NEV. Selain itu, transparansi harga dan penawaran diskon menjadi elemen penting dalam keputusan beli, dengan 51% dan 45% responden menyebutnya sebagai keuntungan utama.
Kesiapan Masyarakat terhadap Mobil Digital
Walaupun minat elektrifikasi masih terbatas, kesiapan Indonesia untuk menerima konsep mobil digital terbukti tinggi. 81% responden menganggap Software-Defined Vehicle (SDV) bermanfaat, angka tertinggi di Asia Tenggara. Minat terhadap fitur AI personalisasi seperti penyesuaian suhu, posisi kursi, dan pencahayaan kabin mencapai 78%, sedangkan 68% ingin menggunakan kendaraan sebagai platform digital untuk layanan seperti pengiriman paket, asuransi dinamis, dan otonom on-demand.
Perspektif untuk Masa Depan Otomotif Indonesia
Perkembangan ini menunjukkan potensi transformasi otomotif yang lebih cepat dibandingkan kawasan lain. Konsumen yang tertarik dengan teknologi digital, seperti pelacakan anti-pencurian (90%), bantuan darurat (85%), dan inovasi teknologi (78%), mengindikasikan bahwa sektor otomotif bisa bergerak lebih dinamis jika dukungan pemerintah dan industri diperkuat. Special Plan Deloitte menekankan bahwa keberhasilan elektrifikasi bergantung pada penyesuaian antara kebutuhan konsumen dan kemudahan penggunaan teknologi baru, termasuk infrastruktur dan ketersediaan layanan yang terpadu.
