Petugas Bea Cukai Pekanbaru Gugur saat Jalankan Tugas Pengawasan di Perairan Siak

petugas-bea-cukai-gugur-saat-jalankan-tugas-pengawasan-di-perairan-siak-kpb

Petugas Bea Cukai Pekanbaru Gugur Saat Melakukan Pengawasan di Perairan Siak

Beritasosial.com – Dalam operasi pengawasan ekspor di perairan Siak, Riau, seorang petugas Bea Cukai, Aditya Waskita Jauhari, gugur saat menjalankan tugasnya. Kejadian ini terjadi pada Senin (7/7/2026) dini hari, saat tim inspeksi Bea Cukai Pekanbaru sedang melakukan pemeriksaan terhadap muatan Palm Kernel Shell (PKS) yang dikirim via kapal MV Himala V.195. Aditya, yang merupakan salah satu anggota satuan pengawasan ekspor, berpulang dalam keadaan tiada sadar setelah kapal pompong yang digunakan mengalami kecelakaan serius.

Detail Kecelakaan di Perairan Siak

Insiden terjadi di tengah arus deras di perairan Tanjung Buton, Kabupaten Siak. Kapal pompong yang mengangkut petugas tersebut tiba-tiba terbalik dan tenggelam, menyebabkan kondisi darurat bagi seluruh penumpang. Meski upaya pencarian dan pertolongan (SAR) dilakukan segera, Aditya tidak bisa diselamatkan. Pihak Bea Cukai mengungkapkan bahwa kondisi cuaca buruk dan aliran air deras menjadi faktor utama penyebab kecelakaan tersebut.

“Saat ini, kami sedang mengevaluasi penyebab kecelakaan di perairan Siak. Seluruh tim menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya salah satu petugas kami yang berdedikasi tinggi,” kata Kepala Subdirektorat Humas dan Penyuluhan Bea Cukai, Budi Prasetiyo.

Kapal MV Himala V.195 yang dikemudikan oleh Aditya dan rekan-rekan lainnya terlibat dalam insiden ini. Saat pemeriksaan muatan PKS yang dikirim ke luar negeri, kapal pompong mengalami keterlambatan akibat arus deras. Setelah beberapa jam operasi, kecelakaan terjadi, menyebabkan kapal tersebut tenggelam dan menewaskan satu dari dua petugas yang sedang melakukan inspeksi.

Proses Pemeriksaan dan Risiko Tugas

Pengawasan ekspor PKS merupakan bagian dari upaya Bea Cukai Riau dalam memastikan kualitas dan keamanan barang yang dikirim. Aditya, yang telah terlibat dalam beberapa operasi pengawasan sebelumnya, dianggap sebagai petugas yang penuh dedikasi. Menurut sumber dari internal Bea Cukai, dia sering diberi tugas risiko tinggi karena kemampuannya dalam menangani situasi lapangan.

Kecelakaan ini menegaskan bahwa tugas pengawasan di perairan tergolong berisiko. Meski Bea Cukai telah memberlakukan protokol keselamatan kerja, kejadian serupa bisa terjadi karena kondisi alam yang tidak terduga. Dalam pernyataan resmi, Bea Cukai menekankan bahwa semua upaya akan dilakukan untuk memperbaiki sistem pengawasan, termasuk memastikan keamanan kapal yang digunakan.

“Gugurnya Aditya adalah pengorbanan yang luar biasa. Dalam tugas pengawasan, petugas sering menghadapi tantangan fisik dan mental yang berat. Kami akan terus meningkatkan kesadaran akan risiko ini dan memperkuat langkah-langkah pencegahan,” tambah Budi Prasetiyo.

Respons Bea Cukai dan Evaluasi Keselamatan

Setelah kecelakaan terjadi, Bea Cukai segera mengambil langkah-langkah respons darurat. Seluruh staf di Riau berduka cita dan memperingatkan semua petugas untuk tetap waspada saat melakukan tugas lapangan. Kepala Subdirektorat Humas juga mengatakan bahwa pihaknya akan meninjau ulang prosedur keselamatan yang berlaku, termasuk penggunaan alat pelindung diri dan pengawasan real-time terhadap keadaan cuaca.

Pengorbanan Aditya menjadi momentum penting bagi Bea Cukai untuk memperkuat komitmen pada keamanan petugas. Dalam surat pernyataan resmi, mereka menyebutkan bahwa setiap insiden seperti ini akan menjadi pelajaran berharga bagi keseluruhan sistem operasional. Tidak hanya itu, Bea Cukai juga berencana mengadakan sosialisasi keselamatan di lingkungan kerja, terutama bagi petugas yang beroperasi di laut.

“Kami juga menghargai kontribusi Aditya terhadap keamanan perdagangan nasional. Gugurnya adalah pengorbanan besar, tetapi keberhasilannya dalam menjalankan tugas pengawasan menunjukkan komitmen yang luar biasa,” tulis Budi Prasetiyo dalam pernyataannya.

Penyebab Kecelakaan dan Upaya Pemulihan

Dilaporkan, kecelakaan di perairan Siak berawal dari kondisi cuaca yang tidak menentu dan arus deras yang melewati area pemeriksaan. Kapal pompong yang digunakan untuk mengangkut petugas tersebut tidak memiliki kekuatan cukup untuk menghadapi perubahan aliran air yang tiba-tiba. Selain itu, faktor teknis seperti keausan mesin atau kelelahan petugas juga menjadi kemungkinan penyebab tambahan.

Pemulihan dari insiden ini dilakukan melalui kolaborasi antara Bea Cukai, TNI AL, dan pihak keluarga. Semua petugas yang terlibat dalam operasi SAR diberi penghargaan atas kerja kerasnya. Selain itu, Bea Cukai juga menawarkan bantuan berupa dana untuk keluarga Aditya serta penghargaan khusus atas pengorbanan yang dilakukannya.

“Petugas Bea Cukai Pekanbaru Gugur adalah bentuk pengorbanan yang tak tergantikan. Semua dari kami akan tetap mengingat dedikasinya dalam menjalankan tugas pengawasan,” tutur rekan sejawat Aditya.

Implikasi untuk Masa Depan

Kecelakaan ini menjadi bahan refleksi bagi seluruh jajaran Bea Cukai Riau. Dengan memperhatikan kisah Aditya, institusi tersebut berencana mengadakan pelatihan tambahan bagi petugas yang bertugas di laut, termasuk simulasi keadaan darurat. Dalam upaya meminimalkan risiko serupa, Bea Cukai juga akan memperketat pengawasan terhadap keberangkatan kapal pengangkut, terutama saat beroperasi di daerah rawan arus deras.

Pengorbanan Aditya Waskita Jauhari tidak hanya menggugah kesadaran petugas, tetapi juga masyarakat luas tentang pentingnya keamanan dalam sektor perdagangan. Kecelakaan ini memberikan pelajaran bahwa bahkan dalam tugas rutin, petugas bisa menghadapi ancaman yang serius. Dengan memperbaiki sistem keselamatan, Bea Cukai berharap dapat mengurangi risiko serupa di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *