Beritasosial
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Dianggap Berbahaya, Jepang Pantau Ketat Penggunaan AI Suara

Published August 9, 2026 · Updated August 9, 2026 · By James Brown - beritasosial.com

Foto : James Brown - beritasosial.com

Dianggap Berbahaya Jepang Pantau Ketat Penggunaan AI Suara

Beritasosial.com – LONDON - Jepang merekomendasikan perlindungan khusus terhadap hak suara para selebriti dari teknologi kecerdasan buatan (AI), dan menyarankan bahwa tindakan meniru suara untuk distribusi dan keuntungan dapat dituntut secara hukum. Pada tanggal 7-8 Agustus, Kementerian Kehakiman Jepang merilis serangkaian rekomendasi yang bertujuan untuk melindungi hak suara para selebriti dan pengisi suara dari risiko peniruan oleh AI, di tengah meningkatnya prevalensi video dan konten deepfake di platform online. Menurut rekomendasi tersebut, suara para selebriti dan pengisi suara dianggap sebagai bagian dari identitas pribadi mereka, termasuk dalam lingkup hak mereka untuk menampilkan citra dan identitas mereka di depan umum.

Mengapa Jepang Menganggap AI Suara Berbahaya?

Penggunaan AI untuk membuat video atau konten dengan suara serupa lalu mempostingnya di media sosial untuk mendapatkan keuntungan dapat dianggap sebagai pelanggaran hak ini. Kementerian Kehakiman Jepang mengeluarkan rekomendasi tersebut setelah sejumlah pengisi suara di negara itu berulang kali meminta pemerintah untuk mengambil langkah-langkah guna mencegah AI meniru suara mereka secara bebas. Mengingat Jepang belum memiliki undang-undang khusus tentang hak bersuara, rekomendasi ini berlaku untuk organisasi maupun individu yang menggunakan AI, dan menguraikan situasi spesifik yang dapat dianggap sebagai pelanggaran.

Oleh karena itu, penggunaan AI untuk membuat lagu atau produk audio yang meniru suara penyanyi atau aktor suara, dan kemudian mendistribusikannya secara publik, dapat menyebabkan klaim ganti rugi atau penghapusan paksa jika dinyatakan ilegal. Demikian pula, video yang berisi konten ofensif yang menggunakan suara palsu untuk meniru selebriti juga dapat dianggap sebagai pelanggaran kehormatan, reputasi, dan hak untuk tidak membiarkan citra dan identitas seseorang digunakan secara sembarangan. Rekomendasi tersebut juga menyatakan bahwa hak suara berakhir setelah kematian pemiliknya.

Namun, dalam beberapa kasus, untuk melindungi martabat almarhum, kerabat masih dapat meminta kompensasi jika penggunaan AI memengaruhi kehormatan mereka.

Tantangan Identifikasi Pemalsuan Suara

Kementerian Kehakiman Jepang meyakini bahwa mengidentifikasi pemalsuan suara jauh lebih kompleks daripada mengidentifikasi wajah atau penampilan fisik. Oleh karena itu, pihak berwenang tidak hanya akan bergantung pada tingkat kemiripan suara tetapi juga mempertimbangkan faktor lain, seperti apakah informasi yang menyertainya cukup untuk mengidentifikasi orang yang identitasnya dipalsukan. Sementara itu, peniruan suara berbasis pertunjukan oleh komedian, jika karakter yang ditiru diidentifikasi secara publik, tidak akan dianggap sebagai pelanggaran.

Menteri Kehakiman Hiroshi Hiraguchi mengatakan rekomendasi tersebut bertujuan untuk menciptakan kerangka kerja bagi penerapan AI secara luas yang berkelanjutan, sekaligus membatasi sengketa yang timbul dari penggunaan teknologi ini tanpa izin. Langkah ini menunjukkan bahwa Jepang sedang berusaha menjadi salah satu negara terdepan dalam mengatur penggunaan AI, terutama dalam hal perlindungan hak-hak individu di era digital. Dengan adanya pedoman ini, masyarakat Jepang diharapkan lebih waspada terhadap konten AI yang semakin marak beredar.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Regulasi AI Suara di Jepang

Apa itu hak suara dalam konteks regulasi Jepang? Hak suara adalah hak individu untuk mengendalikan penggunaan suara mereka, terutama oleh teknologi AI, tanpa izin. Ini mencakup perlindungan dari peniruan yang merugikan secara hukum maupun reputasi.

Kapan rekomendasi ini dikeluarkan? Rekomendasi resmi dari Kementerian Kehakiman Jepang dirilis pada tanggal 7-8 Agustus, sebagai respons terhadap meningkatnya kasus peniruan suara oleh AI.

Apakah hak suara berlaku setelah seseorang meninggal? Secara umum, hak suara berakhir setelah kematian pemiliknya. Namun, kerabat masih dapat meminta kompensasi jika penggunaan AI memengaruhi kehormatan almarhum.

Bagaimana dengan peniruan suara oleh komedian? Peniruan suara berbasis pertunjukan oleh komedian tidak dianggap sebagai pelanggaran, asalkan karakter yang ditiru dapat diidentifikasi secara publik.

Apakah ada denda atau sanksi hukum? Rekomendasi ini membuka jalan bagi klaim ganti rugi dan penghapusan paksa konten yang melanggar, meskipun sanksi spesifik akan ditentukan melalui proses hukum yang berlaku.

Untuk informasi lebih lanjut tentang perkembangan teknologi AI di Jepang, pembaca dapat mengunjungi artikel terkait di [sindonews.com](https://tekno.sindonews.com).

Related Reading