Beritasosial
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

5 Gunung Meletus Bersamaan dengan Anak Krakatau, Ilmuwan Minta Waspadai Hal Ini

Published September 6, 2026 · Updated September 6, 2026 · By Mark Moore - beritasosial.com

Foto : Mark Moore - beritasosial.com

5 Gunung Meletus Bersamaan: Ilmuwan Minta Waspada

Beritasosial.com – Peristiwa langka baru saja terjadi di Nusantara: enam gunung berapi di berbagai pulau memuntahkan material vulkanik dalam rentang waktu yang tumpang tindih. Gunung Ibu (Maluku Utara), Semeru (Jawa Timur), Lewotobi Laki dan Ili Lewotolok (Nusa Tenggara Timur), Anak Krakatau (Selat Sunda), serta Sinabung (Sumatera Utara) semuanya menunjukkan aktivitas erupsi nyaris serentak. Fenomena yang kerap disebut sebagai 5 gunung meletus bersamaan dengan Anak Krakatau ini bukan sekadar kebetulan statistik—ia menjadi pengingat bahwa posisi geografis Indonesia menjadikannya salah satu kawasan paling rentan terhadap aktivitas vulkanik di muka bumi.

Geografi Tektonik: Mengapa Nusantara Jadi Titik Panas

Indonesia membentang di sepanjang Cincin Api Pasifik, sabuk tektonik sepanjang sekitar 40.000 kilometer yang memeluk Samudra Pasifik dan menaungi mayoritas gunung berapi aktif dunia. Di dalam batas negara ini saja tercatat 127 kawah vulkanik yang masih aktif. Rita Susilawati, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), menjelaskan bahwa dengan jumlah kawah sebanyak itu, probabilitas beberapa di antaranya aktif pada hari yang sama memang ada—tanpa harus ada hubungan kausal atau sistematis antar-kejadian. Meski demikian, frekuensi kejadian semacam ini tetap menuntut kesiapsiagaan infrastruktur mitigasi bencana di tingkat daerah.

Peringatan Global: Satu dari Enam Peluang Letusan Raksasa di Abad Ini

Di balik fenomena erupsi serentak yang baru terjadi, para peneliti internasional mengangkat isu yang jauh lebih luas: kemungkinan Bumi mengalami letusan super-volkanik pada abad ke-21. Perhitungan probabilistik yang mereka sampaikan menunjukkan rasio sekitar satu banding enam—artinya peluang satu letusan berskala raksasa dalam 100 tahun ke depan bukanlah skenario fiksi ilmiah, melainkan risiko yang harus diantisipasi dalam perencanaan iklim dan ketahanan pangan global.

Bayangan Tambora 1815 dan Dampak yang Bisa Lebih Parah

Profesor Dr. Markus Stoffel, pakar iklim, menegaskan bahwa peristiwa semacam itu berpotensi memicu guncangan iklim setara letusan Gunung Tambora pada tahun 1815. Tambora, yang terletak di Pulau Sumbawa, memuntahkan sekitar 100 kilometer kubik gas, debu vulkanik, dan fragmen batuan ke lapisan atmosfer. Konsekuensinya bersifat global dan berkepanjangan: suhu rata-rata dunia anjlok drastis selama lebih dari setahun, panen gagal di banyak belahan benua, kelaparan meluas, wabah penyakit meningkat, dan puluhan ribu jiwa melayang. Peristiwa itu kemudian dikenal sebagai "tahun tanpa musim panas" karena musim panas 1816 nyaris tidak pernah terjadi di belahan bumi utara.

Dr. Michael Rampino, ilmuwan geologi, mengingatkan bahwa membandingkan skenario abad ke-21 dengan Tambora bisa saja meremehkan tingkat kerusakannya.

"Dampaknya bisa lebih buruk daripada tahun 1815," kata Rampino. "Dunia saat ini lebih tidak stabil."

Pernyataan itu merujuk pada fakta bahwa populasi global kini melebihi 8 miliar jiwa, sebagian besar terkonsentrasi di kawasan perkotaan padat yang bergantung pada pasokan listrik, air bersih, dan bahan pangan harian. Gangguan berkepanjangan pada satu tautan rantai—misalnya kegagalan panen di beberapa negara penghasil utama—dapat memicu efek domino ekonomi dan sosial yang sulit diprediksi.

Hujan Ekstrem: Pemicu Tersembunyi yang Sering Luput

Ahli vulkanologi Dr. Thomas Aubry menambahkan dimensi lain yang jarang mendapat sorotan publik: perubahan iklim dan peningkatan frekuensi curah hujan ekstrem dapat secara langsung memicu erupsi. Mekanisme yang ia jelaskan melibatkan kelembapan yang meresap jauh ke dalam celah-celah batuan di sekitar kawah vulkanik—baik yang sedang aktif maupun yang tampak tenang. Ketika tekanan uap air di dalam rekahan tersebut mencapai ambang tertentu, terjadi ledakan mirip "bom uap" yang dapat memicu letusan atau memperparah aktivitas yang sudah berlangsung.

"Curah hujan yang lebih ekstrem, yang meningkat akibat perubahan iklim, juga dapat menyebabkan ledakan seperti 'bom uap' saat kelembapan meresap jauh ke dalam celah-celah di dekat gunung berapi aktif maupun yang sedang tidak aktif," ujar Aubry.

Sebuah studi yang dipublikasikan pada tahun 2022 memperkirakan sekitar 716 kawah vulkanik di seluruh dunia—setara 58 persen dari total gunung berapi aktif yang diketahui berada di atas permukaan—rentan terhadap mekanisme pemicu berbasis curah hujan ekstrem tersebut. Angka ini berarti lebih dari separuh kawah aktif global berpotensi terpicu oleh pola cuaca yang semakin tidak menentu.

Tanya Jawab Singkat

Apakah fenomena 5 gunung meletus bersamaan dengan Anak Krakatau menandakan adanya hubungan kausal antar-erupsi?

Berdasarkan penjelasan PVMBG, tidak ada bukti hubungan kausal atau sistematis antar-kejadian. Dengan 127 kawah aktif di Indonesia, probabilitas beberapa di antaranya aktif pada periode yang sama memang ada secara statistik, tanpa harus ada pemicu bersama.

Apakah masyarakat Indonesia perlu meningkatkan kesiapsiagaan setelah peristiwa ini?

Ya. Para ahli menekankan bahwa frekuensi kejadian semacam ini menuntut kesiapsiagaan infrastruktur mitigasi bencana di tingkat daerah, termasuk pemutakhiran jalur evakuasi, simulasi rutin, dan koordinasi antar-lembaga. Warga di sekitar enam kawah yang baru aktif disarankan memantau informasi resmi dari PVMBG dan BPBD setempat.

Berapa besar peluang letusan super-volkanik dalam 100 tahun ke depan?

Perhitungan probabilistik yang dirujuk oleh para peneliti internasional menunjukkan rasio sekitar satu banding enam, atau sekitar 16,7 persen. Angka ini menempatkan risiko tersebut dalam kategori yang harus diantisipasi dalam perencanaan jangka panjang, bukan sekadar skenario hipotetis.

Related Reading