Beritasosial
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Ma’ruf Amin soal Calon Ketum PBNU: Harus Mampu Lakukan Al-Ishlah Wal-Ishlah

Published August 8, 2026 · Updated August 8, 2026 · By Anthony Miller - beritasosial.com

Foto : Anthony Miller - beritasosial.com

Kriteria Calon Ketua Umum PBNU Menurut Ma'ruf Amin

Beritasosial.com – Ma ruf Amin soal Calon Ketum PBNU kembali menjadi sorotan publik setelah ia menyampaikan pandangan mendalam mengenai sosok yang layak memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia. KH Ma'ruf Amin, yang saat ini menjabat sebagai Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, hadir dalam acara "Halaqoh Kebangsaan dan Qanun Asasi" yang diselenggarakan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat pada Sabtu (8/8/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan dua nilai fundamental yang harus dimiliki oleh calon pemimpin NU ke depan.

Al-Ishlah Wal-Ishlah: Mendamaikan dan Memperbaiki

Menurut Ma'ruf Amin, calon Ketua Umum PBNU harus memiliki kemampuan melakukan al-ishlah wal-ishlah. Nilai pertama berkaitan dengan kedamaian antar kelompok. Ia menjelaskan bahwa persatuan menjadi kunci keberhasilan organisasi. Tanpa kemampuan mendamaikan, NU akan kesulitan menghadapi berbagai tantangan internal maupun eksternal.

Ya tadi, harus punya kemampuan melakukan dua hal al-ishlah wal-ishlah. Ishlah pertama itu mendamaikan semua kelompok yang bersengketa, karena tanpa persatuan tidak mungkin, kata Ma'ruf.

Lebih lanjut, Wakil Presiden ini mengingatkan agar calon pemimpin NU tidak tergiur oleh kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Kepentingan organisasi harus selalu didahulukan agar misi NU dapat dijalankan dengan baik. Hal ini sejalan dengan visi NU untuk menjadi organisasi yang inklusif dan mampu menyatukan berbagai elemen masyarakat.

Itu, baru misi NU bisa diemban, ujar Ma'ruf.

Kualitas dan Kapabilitas Calon Pemimpin

Nilai kedua yang ditekankan Ma'ruf Amin adalah kualitas dan kapabilitas. Ia berharap figur yang akan maju dalam Muktamar ke-35 PBNU bukan karena dorongan pihak tertentu, melainkan atas dasar pemahaman yang mendalam tentang ber-NU. Pemimpin harus memiliki kapasitas intelektual dan spiritual yang memadai.

Kedua, supaya ber-NU itu lebih pada kualitas. Ya, artinya pemahaman, bukan sekadar ikut-ikutan, bukan karena dorongan, katanya.

Ma'ruf Amin meyakini bahwa calon Ketua Umum PBNU harus mampu memperbaiki dan memperbesar langkah organisasi ke depan. Kemampuan melakukan al-ishlah wal-ishlah menjadi syarat mutlak agar NU dapat kembali kepada khittahnya sesuai dengan qanun asasi. Ini bukan hanya soal kepemimpinan, tetapi juga tentang menjaga tradisi dan nilai-nilai luhur NU.

Kemampuan dua hal itulah, al-ishlah wal-ishlah. Kalau tidak, tidak akan mampu mengembalikan NU kepada khittahnya sesuai dengan qanun asasi. Saya kira itu, pungkasnya.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Calon Ketum PBNU

Apa itu al-ishlah wal-ishlah? Al-ishlah wal-ishlah adalah konsep yang berarti mendamaikan dan memperbaiki. Dalam konteks kepemimpinan NU, ini mencakup kemampuan menyatukan berbagai kelompok dan memperbaiki organisasi ke arah yang lebih baik.

Kapan Muktamar ke-35 PBNU akan dilaksanakan? Muktamar ke-35 PBNU dijadwalkan akan berlangsung dalam waktu dekat setelah pernyataan Ma'ruf Amin pada 8 Agustus 2026.

Siapa saja yang berpotensi menjadi calon Ketua Umum PBNU? Beberapa tokoh NU yang dikenal memiliki kapabilitas dan pengalaman organisasi menjadi kandidat potensial, meskipun belum ada pengumuman resmi hingga saat ini.

Mengapa persatuan penting bagi NU? Persatuan menjadi fondasi utama NU karena organisasi ini memiliki berbagai cabang dan kelompok dengan karakteristik berbeda. Tanpa persatuan, NU akan kesulitan menghadapi tantangan zaman.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangan PBNU, pembaca dapat mengunjungi sindonews.com/nasional sebagai sumber berita terpercaya.

Related Reading