Beritasosial
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Ketika Pagar Menjadi Pesan: Apa yang Sedang Dikomunikasikan Kota kepada Kita?

Published August 13, 2026 · Updated August 13, 2026 · By Mark Moore - beritasosial.com

Foto : Mark Moore - beritasosial.com

Ketika Pagar Menjadi Pesan: Komunikasi Visual Kota

Beritasosial.com – Ketika Pagar Menjadi Pesan telah menjadi topik hangat yang menarik perhatian banyak pihak. Imamul Masyhudi, seorang dosen Desain Komunikasi Visual dari Universitas Multimedia Nusantara, menyoroti perubahan visual yang signifikan pada beberapa pusat perbelanjaan dalam beberapa minggu terakhir. Bangunan yang sebelumnya tampak terbuka dan menyatu dengan trotoar serta ruang publik kini tiba-tiba dikelilingi pagar besi menjulang tinggi.

Fenomena Visual yang Memancing Perhatian Publik

Di Surabaya, tinggi pagar mencapai sekitar dua setengah meter, menciptakan pemandangan yang cukup mencolok bagi para pejalan kaki. Fenomena serupa kemudian juga teramati di Jakarta, menunjukkan bahwa perubahan ini bukan hanya terjadi di satu kota saja. Secara fungsional, struktur ini memang dirancang untuk membatasi ruang, melindungi area, serta mengatur siapa saja yang boleh masuk ke dalam kawasan tersebut.

Namun dalam perspektif komunikasi visual, sebuah objek tidak hanya memiliki fungsi fisik semata. Pagar juga memiliki kemampuan untuk "berbicara" dan menyampaikan pesan tertentu kepada pengamatnya. Setiap elemen arsitektur memiliki makna yang bisa ditafsirkan berbeda-beda oleh setiap individu.

Interpretasi yang Beragam dari Masyarakat

Kehadiran pagar di sejumlah mal Surabaya menjadi bahan perbincangan hangat di media sosial. Masyarakat mulai mengajukan berbagai hipotesis, mulai dari alasan keamanan hingga kekhawatiran akan potensi kerusuhan dan penjarahan yang mungkin terjadi pada bulan Agustus. Beberapa orang melihat ini sebagai langkah preventif, sementara yang lain menganggapnya sebagai tanda kekhawatiran yang berlebihan.

Para pengelola mal memberikan penjelasan yang berbeda-beda untuk setiap lokasi. Mereka juga membantah klaim bahwa pemasangan pagar secara massal berkaitan erat dengan krisis ekonomi atau persiapan menghadapi kerusuhan. Penjelasan ini bervariasi tergantung pada kondisi masing-masing pusat perbelanjaan.

Oleh karena itu, menyimpulkan bahwa semua pagar tersebut dipasang semata-mata sebagai antisipasi kerusuhan mungkin kurang tepat. Setiap kasus memiliki konteks dan alasan tersendiri yang perlu dipahami secara mendalam.

Teori Encoding dan Decoding dalam Komunikasi

Ada dimensi lain yang lebih menarik untuk dikaji: kesenjangan antara pesan yang dimaksudkan dengan pesan yang diterima. Stuart Hall, melalui konsep encoding dan decoding, menjelaskan bahwa makna yang dibangun komunikator tidak selalu sama dengan makna yang ditangkap audiens. Proses ini sangat relevan dalam memahami fenomena pagar di pusat perbelanjaan.

Pesan yang dibuat komunikator tidak selalu diterima dengan makna yang sama oleh audiens.

Pengelola mal mungkin melakukan encoding sederhana, yaitu menempatkan pagar sebagai simbol keamanan, perlindungan pengunjung, dan pengaturan akses yang tertib. Namun masyarakat melihat pagar dalam konteks yang berbeda. Mereka membawa serta berita yang baru saja dibaca, percakapan di media sosial, pesan WhatsApp, pengalaman masa lalu, serta berbagai rumor tentang situasi Agustus.

Karena itu, pagar yang sama dapat dibaca sebagai perlindungan, tetapi juga sebagai tanda bahwa ada sesuatu yang sedang diantisipasi. Komunikasi visual menjadi sangat kompleks ketika ada perbedaan antara maksud dan interpretasi.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Fenomena Pagar

Apa alasan utama pemasangan pagar di pusat perbelanjaan? Pemasangan pagar memiliki berbagai alasan, mulai dari keamanan, pengaturan akses, hingga perlindungan area. Pengelola mal memberikan penjelasan berbeda untuk setiap lokasi.

Apakah pagar ini berkaitan dengan potensi kerusuhan Agustus? Beberapa pihak mengaitkannya dengan potensi kerusuhan, namun pengelola mal membantah klaim bahwa ini adalah persiapan menghadapi kerusuhan secara massal.

Bagaimana teori encoding dan decoding menjelaskan fenomena ini? Menurut Stuart Hall, makna yang dibangun komunikator tidak selalu sama dengan makna yang ditangkap audiens, menciptakan kesenjangan dalam komunikasi visual.

Di kota mana saja fenomena ini teramati? Fenomena ini terutama teramati di Surabaya dan Jakarta, dengan tinggi pagar mencapai sekitar dua setengah meter di Surabaya.

Siapa yang menyoroti perubahan visual ini? Imamul Masyhudi, dosen Desain Komunikasi Visual dari Universitas Multimedia Nusantara, menyoroti perubahan visual yang terjadi pada beberapa pusat perbelanjaan.

Related Reading