Beritasosial
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Kenapa Harga Beras Naik dan Jadi Penyumbang Inflasi 7 Bulan Beruntun?

Published August 13, 2026 · Updated August 13, 2026 · By Mark Moore - beritasosial.com

Foto : Mark Moore - beritasosial.com

Harga Beras Terus Melonjak: Faktor di Balik Inflasi Tujuh Bulan Beruntun

Beritasosial.com – Khudori, yang menjabat sebagai anggota Komite Ketahanan Pangan INKINDO serta aktif dalam Komite Pendayagunaan Pertanian dan AEPI, menghadapi gelombang pertanyaan dari para wartawan. Inti dari setiap pertanyaan tersebut sama: apa yang menyebabkan harga beras terus meningkat? Fenomena ini menjadi perhatian serius karena beras telah menjadi penyumbang inflasi selama tujuh bulan beruntun. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan konsumen maupun pelaku usaha pangan.

Media massa mengutip data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS). Pada minggu pertama Agustus 2026, rata-rata harga berbagai jenis beras di tingkat konsumen tercatat sebesar Rp 15.545 per kilogram. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 0,16% jika dibandingkan dengan bulan Juli 2026. Menariknya, harga tersebut masih berada di atas harga eceran tertinggi (HET) untuk beras medium dan premium di zona I, yang masing-masing ditetapkan sebesar Rp 13.500 dan Rp 14.900 per kilogram.

Kenaikan Bertahap Tanpa Jeda

Saat mengumumkan data inflasi bulanan pada 3 Agustus 2026, BPS mencatat tren kenaikan harga beras dari Juni hingga Juli 2026. Di tingkat produsen (pengilingan), harga naik 0,94%. Sementara itu, di tingkat grosir (pasar) dan eceran (konsumen), kenaikannya masing-masing sebesar 0,41% dan 0,49%. Hal ini mengindikasikan bahwa sejak Januari hingga Juli 2026, harga beras di ketiga tingkatan tersebut terus mengalami peningkatan tanpa henti.

Walaupun persentase kenaikan per bulan terlihat kecil, fenomena ini menarik perhatian. Khudori menjelaskan, "Ini bukan karena kenaikan yang drastis, melainkan karena harga beras sudah berada pada level yang relatif tinggi." Secara tahunan, harga beras di pengilingan meningkat 5,11%, di grosir 4,11%, dan di eceran 3,10%.

"Catatannya bukan di persentase kenaikan yang kecil. Tapi kenaikan tujuh bulan berturut-turut, termasuk pada saat panen raya Februari-Mei 2026, tentu ada 'sesuatu'."

Peran Panen Raya yang Tidak Sepanjang Harapan

Secara tradisional, musim panen raya ditandai dengan kelimpahan produksi beras. Ketika permintaan stabil, harga seharusnya terdorong turun, sehingga inflasi menjadi lebih terkendali atau bahkan memicu deflasi. Namun, tahun ini pola tersebut tidak terjadi. Beras justru menjadi penyumbang inflasi selama tujuh bulan beruntun.

Meskipun tidak selalu menjadi kontributor utama inflasi, beras konsisten menyumbang kenaikan inflasi bulanan selama periode tersebut. Berikut adalah tingkat inflasi tahunan beras per bulan: Januari (3,44%), Februari (3,61%), Maret (3,71%), April (4,36%), Mei (4,55%), Juni (3,98%), dan Juli (3,1%). Angka-angka ini menunjukkan konsistensi kenaikan yang tidak biasa dalam beberapa tahun terakhir.

Stok Beras Melimpah, Mengapa Harga Tetap Naik?

Pertanyaan krusial muncul: apa penyebab fenomena ini? Bukankah stok beras di gudang BULOG per 9 Agustus 2026 telah mencapai 5,25 juta ton? Selain itu, Indonesia telah kembali mencapai swasembada pangan sejak 2025. Kondisi ini seharusnya memberikan ketenangan bagi stabilitas harga beras di pasar domestik. Namun, realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya.

Fenomena kenaikan harga beras selama tujuh bulan berturut-turut, bahkan di tengah musim panen raya, menjadi indikator penting yang perlu dianalisis lebih lanjut oleh para ahli dan pemangku kepentingan di sektor pangan nasional. Faktor-faktor seperti distribusi, biaya logistik, dan spekulasi pasar mungkin berperan dalam ketidaksesuaian antara stok dan harga.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Kenaikan Harga Beras

1. Apakah Indonesia masih swasembada beras? Ya, Indonesia telah kembali mencapai swasembada pangan sejak 2025. Namun, swasembada tidak selalu berarti harga stabil karena faktor distribusi dan logistik juga berpengaruh.

2. Berapa lama harga beras naik berturut-turut? Berdasarkan data BPS, harga beras telah mengalami kenaikan selama tujuh bulan beruntun dari Januari hingga Juli 2026.

3. Apa yang menyebabkan harga beras tetap tinggi meski panen raya? Beberapa faktor termasuk biaya logistik, spekulasi pasar, dan distribusi yang belum optimal meskipun stok di gudang BULOG mencapai 5,25 juta ton.

4. Apakah harga beras sudah melebihi HET? Ya, pada minggu pertama Agustus 2026, harga beras di tingkat konsumen tercatat Rp 15.545 per kilogram, yang masih berada di atas HET untuk beras medium dan premium di zona I.

Related Reading