Beritasosial
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Hasil Kajian DEN, Siswa Penerima MBG Jarang Absen di Sekolah

Published Oktober 21, 2026 · Updated Oktober 21, 2026 · By Elizabeth Wilson - beritasosial.com

Foto : Elizabeth Wilson - beritasosial.com

Kajian DEN Soroti Kehadiran Siswa Penerima MBG

Beritasosial.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai memiliki kaitan positif dengan kehadiran anak di sekolah. Kajian Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menemukan bahwa siswa yang memperoleh manfaat program tersebut cenderung lebih jarang tidak masuk sekolah dibandingkan siswa yang belum menerimanya.

Temuan itu disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, pada Selasa, 20 Oktober 2026. Selain kehadiran di sekolah, kajian juga menelaah semangat belajar dan kondisi rasa lapar yang dialami anak-anak penerima MBG.

Hasil kajian ini dapat menjadi bahan evaluasi pemerintah dalam memperbaiki pelaksanaan program. Perhatian utamanya mencakup mutu menu, ketepatan penerima manfaat, serta perluasan jangkauan bagi keluarga miskin dan daerah yang masih membutuhkan dukungan lebih besar.

Modul Susenas Digunakan Sejak September 2025

Anggota DEN Mochamad Firman Hidayat menjelaskan bahwa penelitian tersebut memakai modul khusus dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional atau Susenas. Penyusunan modul dilakukan DEN bersama Badan Pusat Statistik (BPS) dan sejumlah lembaga lain.

Modul tersebut mulai dijalankan pada September 2025 dan mencakup seluruh wilayah Indonesia. Dengan cakupan nasional, kajian ini diarahkan untuk melihat pengalaman penerima MBG dalam berbagai kondisi sosial ekonomi dan wilayah tempat tinggal.

Fokus pengukurannya tidak berhenti pada penyaluran makanan. DEN juga melihat kemungkinan perubahan yang muncul dalam keseharian siswa, terutama frekuensi ketidakhadiran, dorongan mengikuti kegiatan belajar, dan rasa lapar yang dapat memengaruhi kesiapan anak saat berada di kelas.

"Salah satu pertanyaannya adalah melihat bagaimana outcome dari program MBG ini terhadap absensi siswa di sekolah, semangat belajarnya, dan rasa laparnya. Jadi terlepas dari segala kekurangan yang dialami program MBG ini, kami melihat temuannya cukup menarik. Jadi kalau kita lihat absensi siswa, penerima MBG itu jarang absen dibandingkan dengan non-penerima MBG," ujar Firman.

Perbedaan Lebih Terlihat pada Kelompok Termiskin

DEN mencatat perbedaan tingkat absensi itu cukup menonjol pada kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling rendah, yakni desil pertama. Kelompok ini mencerminkan lapisan masyarakat dengan kondisi ekonomi paling rentan dalam pengelompokan kesejahteraan yang digunakan dalam survei.

Pada kelompok tersebut, siswa yang belum menerima MBG disebut lebih sering tidak hadir di sekolah. Sebaliknya, penerima program relatif lebih konsisten datang untuk mengikuti pembelajaran. Firman juga menyampaikan bahwa penurunan absensi tampak semakin kuat seiring meningkatnya intensitas penerimaan MBG di sekolah.

"Bahkan sebenarnya gapnya cukup besar, terutama di Desil-1 yang paling miskin. Jadi ketika dia non-penerima MBG, dia akan sering absen, sementara kalau penerima MBG dia akan relatif tidak absen ke sekolah, dan ini semakin tinggi berkurangnya absen seiring dengan intensitas penerimaan MBG di sekolahnya. Jadi saya kira ini satu hal yang positif," jelas Firman.

Temuan tersebut memberi gambaran bahwa penyediaan makanan bergizi di sekolah berpotensi berkaitan dengan keberlanjutan kehadiran siswa, khususnya bagi anak dari rumah tangga miskin. Kehadiran yang lebih teratur penting karena siswa perlu berada di sekolah agar dapat mengikuti materi, berinteraksi dengan guru, dan terlibat dalam aktivitas belajar bersama teman sekelasnya.

Meski demikian, kajian ini juga mencatat bahwa program MBG masih memiliki kekurangan yang perlu diperbaiki. Karena itu, hasil survei tidak hanya dipandang sebagai indikator positif, melainkan juga sebagai dasar untuk memperkuat tata kelola dan kualitas pelaksanaan di lapangan.

Evaluasi Menu dan Sasaran Program

Pemerintah mendapat masukan untuk memastikan menu MBG terus ditingkatkan kualitasnya. Kebutuhan gizi anak menjadi unsur penting dalam pelaksanaan program, sehingga pilihan makanan perlu dijaga agar selaras dengan tujuan pemberian makan bergizi bagi peserta didik.

Ketepatan sasaran juga menjadi bagian penting dari evaluasi. Temuan mengenai desil pertama menunjukkan perlunya perhatian yang kuat kepada anak-anak dari keluarga paling miskin. Kelompok ini terlihat memiliki perbedaan absensi yang lebih besar antara penerima dan non-penerima MBG.

Selain keluarga miskin, perluasan jangkauan ke wilayah yang membutuhkan perhatian lebih turut menjadi agenda yang relevan. Cakupan program yang baik tidak hanya bergantung pada jumlah penerima, tetapi juga pada kemampuan layanan menjangkau anak-anak yang menghadapi hambatan paling besar dalam memperoleh makanan bergizi dan hadir secara rutin di sekolah.

Kajian DEN melalui modul Susenas memberikan dasar pengamatan nasional terhadap dampak MBG. Ke depan, hasil tersebut dapat digunakan untuk menilai bagian program yang sudah berjalan baik, mengenali celah pelaksanaan, dan mengarahkan perbaikan agar manfaatnya semakin terasa bagi siswa yang paling membutuhkan.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Hasil Kajian DEN Siswa Penerima MBG Jarang?

Hasil Kajian DEN Siswa Penerima MBG Jarang is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Hasil Kajian DEN Siswa Penerima MBG Jarang matter?

Hasil Kajian DEN Siswa Penerima MBG Jarang matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.