Beritasosial
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

BRAN dan Komnas HAM Jalin Sinergi Penanganan Konflik Agraria Berbasis HAM

Published Oktober 23, 2026 · Updated Oktober 23, 2026 · By Jessica Taylor - beritasosial.com

Foto : Jessica Taylor - beritasosial.com

BRAN dan Komnas HAM Perkuat Langkah Penyelesaian Konflik Agraria

Beritasosial.com – Upaya penanganan konflik agraria dengan perspektif hak asasi manusia menjadi fokus pertemuan antara Badan Reforma Agraria Nasional (BRAN) dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) di Jakarta, Jumat (23/10/2026). Pertemuan di kantor Komnas HAM itu membuka ruang koordinasi kelembagaan untuk memperkuat reforma agraria, penyelesaian sengketa tanah, serta pencegahan konflik yang berulang.

Kepala BRAN Dedi Prasetyo menyampaikan bahwa pertemuan tersebut menjadi langkah awal bagi kedua lembaga untuk membangun kerja bersama. Sinergi dinilai penting karena persoalan agraria tidak hanya berkaitan dengan status lahan, melainkan juga menyentuh kepastian hukum, akses masyarakat, dan perlindungan hak warga yang terdampak konflik.

"Yang jelas kami terus bersinergi. Antara BRAN dengan Komnas HAM terkait penyelesaian masalah konflik agraria. Itu langkah pertama," ujar Dedi usai pertemuan.

MoU Disiapkan sebagai Landasan Kerja Bersama

BRAN dan Komnas HAM berencana menindaklanjuti pertemuan itu melalui penyusunan Memorandum of Understanding atau Nota Kesepahaman. Dokumen tersebut akan menjadi pijakan bagi kedua institusi dalam mengembangkan koordinasi penanganan konflik agraria di Indonesia.

Dedi menegaskan pembentukan MoU menjadi agenda awal yang perlu diprioritaskan. Kerja sama formal diharapkan dapat memperjelas arah kolaborasi, termasuk dalam pertukaran masukan dan penguatan langkah penyelesaian persoalan pertanahan yang berpotensi menimbulkan dampak sosial bagi masyarakat.

"Nanti kita bentuk MoU antara BRAN dan Komnas HAM. Itu dulu yang harus menjadi fokus kami," jelas Dedi.

Dalam konteks reforma agraria, kepastian atas penguasaan dan pemanfaatan tanah memiliki arti penting bagi warga. Perselisihan lahan dapat berkembang menjadi persoalan berkepanjangan apabila penanganannya tidak memperhatikan hak pihak-pihak yang terlibat, kebutuhan perlindungan warga, serta langkah pencegahan yang memadai.

Karena itu, kolaborasi BRAN dengan Komnas HAM diarahkan bukan semata pada penanganan perkara yang sudah muncul. Kedua lembaga juga menaruh perhatian pada upaya agar konflik serupa tidak terus terjadi di masa mendatang. Pendekatan tersebut menempatkan pencegahan sebagai bagian penting dari kerja reforma agraria.

Masukan untuk Penguatan Reforma Agraria

Ketua Komnas HAM Anis Hidayah menjelaskan bahwa pertemuan tersebut menjadi kesempatan untuk memberikan saran kepada BRAN dalam menjalankan tugasnya. Masukan itu mencakup penguatan pelaksanaan reforma agraria, respons terhadap kasus konflik agraria, serta penyusunan langkah preventif terhadap sengketa lahan.

"Sehingga pertemuan siang hari ini dimaksudkan untuk memberikan masukan terkait dengan bagaimana ke depan BRAN mesti bekerja ya, merespons, dan benar-benar bekerja untuk melakukan reforma agraria dalam menangani kasus-kasus konflik agraria ke depan sekaligus juga upaya untuk melakukan pencegahan agar konflik agraria tidak terus-menerus terjadi," kata Anis.

Penanganan berbasis HAM menekankan pentingnya melihat dampak konflik terhadap manusia yang berada di dalamnya. Dalam sengketa agraria, perhatian tidak berhenti pada dokumen atau batas bidang tanah. Proses penyelesaian juga perlu memberi ruang bagi perlindungan hak, rasa aman, akses terhadap keadilan, dan kepastian bagi masyarakat yang terdampak.

Komnas HAM mendorong agar pendekatan itu dapat diterapkan melalui kerja kelembagaan bersama BRAN. Kehadiran mekanisme koordinasi dinilai dapat membantu kedua pihak menyatukan perhatian terhadap kebutuhan penanganan kasus sekaligus penguatan kebijakan pencegahan.

"Dan juga kita akan upayakan agar ada kerja sama secara kelembagaan antara Komnas HAM dengan BRAN dalam penanganan konflik agraria agar penanganan ini berbasis pendekatan hak asasi manusia," pungkas Anis.

Pencegahan Menjadi Bagian Penting

Rencana kerja sama ini menandai perhatian bersama terhadap kompleksitas konflik agraria di Indonesia. Penyelesaian yang berkelanjutan membutuhkan respons terhadap persoalan yang sedang berlangsung, namun juga memerlukan upaya untuk mengurangi kemungkinan sengketa baru muncul kembali.

Bagi masyarakat, penguatan sinergi antara BRAN dan Komnas HAM dapat menjadi sinyal bahwa isu pertanahan akan dipandang dengan cakupan yang lebih luas. Reforma agraria, penyelesaian konflik, dan perlindungan HAM diposisikan sebagai bagian yang saling berkaitan dalam mencari kepastian serta keadilan atas persoalan lahan.

Tahap berikutnya akan berfokus pada pembentukan Nota Kesepahaman antara kedua lembaga. Setelah landasan kerja sama tersebut disiapkan, BRAN dan Komnas HAM diharapkan memiliki kerangka yang lebih jelas untuk mendorong penanganan konflik agraria yang responsif, terkoordinasi, dan berorientasi pada penghormatan hak asasi manusia.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is BRAN dan Komnas HAM Jalin Sinergi?

BRAN dan Komnas HAM Jalin Sinergi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does BRAN dan Komnas HAM Jalin Sinergi matter?

BRAN dan Komnas HAM Jalin Sinergi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.