Beritasosial
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Bansos dan Ketahanan Pangan Penguat Kepuasan Publik Terhadap Kinerja Pemerintah

Published Oktober 23, 2026 · Updated Oktober 23, 2026 · By Elizabeth Wilson - beritasosial.com

Foto : Elizabeth Wilson - beritasosial.com

Program Sosial dan Ketahanan Pangan Dinilai Menopang Kepercayaan Masyarakat

Beritasosial.com – Penyaluran bantuan sosial, penguatan ketahanan pangan, serta sejumlah agenda di bidang pendidikan dan kesehatan dinilai ikut membentuk persepsi positif masyarakat terhadap kerja pemerintah. Dalam dua tahun masa pemerintahan Prabowo-Gibran, berbagai program tersebut dipandang sebagai kebijakan yang langsung berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari warga.

Pengamat politik Adi Prayitno melihat bantuan sosial sebagai salah satu unsur yang paling terasa bagi masyarakat. Ia juga menyoroti Sekolah Rakyat dan gagasan pendidikan gratis hingga tingkat perguruan tinggi sebagai kebijakan yang memiliki nilai strategis bagi publik.

“Ada program-program yang dinilai positif dan strategis, misalnya adalah soal bantuan sosial, ada sekolah rakyat, Kemudian juga terkait dengan rencana bagaimana pendidikan itu hingga perguruan tinggi itu gratis,” katanya, Kamis (22/10/2026).

Program yang menyentuh kebutuhan dasar cenderung mudah dipahami masyarakat karena dampaknya dapat dirasakan langsung. Bantuan sosial berkaitan dengan dukungan bagi kelompok rentan, sementara akses pendidikan dan layanan kesehatan memiliki pengaruh terhadap harapan keluarga dalam jangka lebih panjang.

CKG dan pangan menjadi perhatian publik

Selain kebijakan sosial dan pendidikan, Adi memasukkan Program Cek Kesehatan Gratis atau CKG sebagai bagian dari program yang memperoleh perhatian positif. Ketahanan pangan juga menjadi faktor penting karena berkaitan erat dengan ketersediaan kebutuhan pokok serta stabilitas harga yang dibayar konsumen.

“Jadi bagi saya sebenarnya, secara prinsip apa-apa yang sifatnya positif, apa-apa yang baik harus terus diamplifikasi sebagai upaya untuk terus bagaimana memberikan harapan-harapan yang baik,” tuturnya.

Ia menyebut sekitar 65% masyarakat menyatakan puas terhadap kinerja dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Kepuasan tersebut tidak hanya dikaitkan dengan distribusi bansos, tetapi juga dengan agenda pemberantasan korupsi, penguatan pangan, serta rencana pendidikan gratis sampai perguruan tinggi.

“Unsur utamanya adalah soal bansos, kemudian juga pemberantasan korupsi, ketahanan pangan, rencana sekolah gratis hingga perguruan tinggi,” tandasnya.

Angka kepuasan publik dapat menjadi gambaran penerimaan masyarakat atas arah kebijakan pemerintah. Namun, kepercayaan tersebut perlu dijaga melalui pelaksanaan yang konsisten, penyaluran program yang tepat sasaran, dan hasil yang benar-benar dapat dijangkau warga di berbagai daerah.

Kinerja ekonomi perlu diukur melalui target dan realisasi

Pengamat ekonomi INDEF Abra Talattof menekankan bahwa evaluasi pemerintah perlu menempatkan target dan pencapaian aktual sebagai ukuran utama. Pemerintah memiliki sasaran ekonomi jangka pendek serta target menengah yang mengarah hingga 2029.

Dari sisi makroekonomi, ia melihat pertumbuhan Indonesia masih berada pada kondisi yang relatif kuat jika dibandingkan dengan sejumlah negara lain, meski ada negara dengan laju pertumbuhan lebih tinggi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II tercatat 5,29%.

“Kalau dari sisi indikator makro ekonomi, memang kita harus akui bahwa kecenderungan pertumbuhan ekonomi kita memang masih relatif kuat ya, karena kita compare dengan negara-negara lain. Walaupun ada beberapa negara juga pertumbuhan ekonominya masih lebih tinggi dibandingkan kita. Kita 5,29% di kuartal 2 kemarin,” ujarnya.

Target pertumbuhan 6% pada tahun depan masih membuka ruang optimisme, walaupun tantangannya tidak ringan. Arah menuju pertumbuhan yang lebih tinggi membutuhkan penguatan mesin ekonomi dari investasi, konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan aktivitas produksi nasional.

Abra menilai investasi swasta memberi sinyal yang cukup baik. Pertumbuhannya mencapai 6,8% pada kuartal II. Di saat yang sama, belanja pemerintah juga menunjukkan pertumbuhan dua digit, yang dipandang sebagai salah satu dorongan bagi aktivitas ekonomi.

Konsumsi rumah tangga tetap memegang peran besar karena menggambarkan kemampuan belanja masyarakat. Pertumbuhan konsumsi yang masih berada di kisaran 5% dipandang cukup dapat dipahami dalam situasi ketika daya beli menghadapi tekanan, terutama dari kenaikan harga energi dan pangan.

“Konsumsi rumah tangga harus kita akui, ya dengan pertumbuhan masih 5%, saya pikir pertumbuhan yang cukup bisa dimaklumi di tengah situasi sekarang, memang ada tekanan daya beli dan juga tekanan harga-harga inflasi, baik itu energi maupun pangan,” ucapnya.

Harga pangan berpengaruh langsung pada daya beli

Ketersediaan sumber daya domestik untuk energi dan pangan menjadi modal penting bagi Indonesia. Meski demikian, tantangan pengendalian harga tetap perlu menjadi perhatian karena inflasi dan biaya kebutuhan pokok dapat memengaruhi daya beli secara cepat.

Inflasi disebut masih berada pada level 5,29%, sementara Abra mengingatkan bahwa batas ambang atasnya berada di angka 3,5%. Dengan sisa dua bulan dalam periode pengamatan, risiko kenaikan harga masih perlu diantisipasi agar tekanan pada pangan dan energi tidak bertambah besar.

Pengendalian harga menjadi penting bagi pencapaian sasaran pertumbuhan ekonomi tahun ini yang berada pada rentang 5,4% hingga 5,6%. Jika harga kebutuhan pokok terus meningkat, ruang belanja rumah tangga dapat menyempit dan berpotensi menghambat target tersebut.

Peningkatan produksi serta penguatan cadangan beras pemerintah menjadi dua aspek yang relevan dalam menjaga stabilitas pangan. Bagi masyarakat, keberhasilan kebijakan pangan sering kali terlihat melalui ukuran yang sederhana: apakah harga beras dan kebutuhan sehari-hari tetap terjangkau.

“Harapannya dengan adanya peningkatan produksi, kemudian cadangan beras pemerintah yang meningkat, masyarakat kan paling mudah memahami keberhasilan itu ketika harga beras itu bisa murah ataupun terjangkau,” katanya.

Program bantuan sosial, layanan kesehatan, pendidikan, investasi, dan stabilitas pangan pada akhirnya saling berkaitan. Ketika bantuan menjangkau penerima yang membutuhkan, harga pangan terkendali, dan peluang ekonomi terus bertumbuh, kebijakan pemerintah memiliki peluang lebih besar untuk menjaga kepercayaan publik.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Bansos dan Ketahanan Pangan Penguat Kepuasan?

Bansos dan Ketahanan Pangan Penguat Kepuasan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Bansos dan Ketahanan Pangan Penguat Kepuasan matter?

Bansos dan Ketahanan Pangan Penguat Kepuasan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.