Beritasosial
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Siapa Ratko Mladic? Komandan Militer Paling Kejam dan Memimpin Perang yang Menewaskan 100.000 Warga Muslim Bosnia

Published September 8, 2026 · Updated September 8, 2026 · By Betty Wilson - beritasosial.com

Foto : Betty Wilson - beritasosial.com

Siapa Ratko Mladic, Komandan Militer Bosnia

Beritasosial.com – Beograd, Senin pagi, berubah menjadi arena perpisahan yang sarat muatan simbolik militer. Ribuan pelayat berbondong-bondong menuju Gereja Ortodoks Serbia St. Lukas—bangunan kecil yang tak pernah dirancang untuk menampung kerumunan sebesar itu. Mereka tiba jauh sebelum upacara dimulai, membawa topi perwira dan pedang yang kemudian diletakkan di atas peti mati. Di sekeliling peti, barisan pria berseragam lapangan berdiri tegak, menciptakan suasana yang lebih menyerupai parade ketimbang pemakaman biasa. Pertanyaan tentang siapa Ratko Mladic komandan militer yang memimpin perang menewaskan 100.000 warga Muslim Bosnia kini terjawab bukan di ruang kelas, melainkan di antara ribuan orang yang memilih untuk hadir.

Jenazah yang dibawa ke altar itu milik Ratko Mladić, wafat pada usia 84 tahun di Den Haag, Belanda, tanggal 27 Agustus. Ia meninggal saat masih menjalani hukuman penjara seumur hidup atas tiga dakwaan berat—genosida, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan—yang semuanya berkaitan dengan tindakan pasukannya selama konflik Bosnia 1992–1995, perang yang menewaskan sekitar 100.000 warga Muslim Bosnia dan menjadi konflik paling berdarah di Eropa sejak berakhirnya Perang Dunia Kedua.

Peran Mladić dalam Mesin Perang Bosnia

Mladić bukan sekadar perwira di lapangan. Ia menjabat komandan tertinggi Divisi Drina dan kemudian menjadi figur sentral dalam struktur komando militer Serbia-Bosnia. Keterlibatannya dalam pengepungan Sarajevo yang berlangsung lebih dari 1.000 hari, serta perannya dalam operasi militer di Srebrenica pada Juli 1995, menjadikannya salah satu nama paling dikenal—dan paling dibenci—dalam sejarah konflik Balkan. Pengadilan di Den Haag, yang menangani perkara kejahatan perang dari era Yugoslavia, pada akhirnya memvonjinya bersalah atas genosida. Vonis itu menjadikan kasusnya sebagai perkara genosida pertama yang diputus di benua Eropa sejak era Holocaust.

Putusan tersebut tidak mengakhiri kontroversi. Bagi sebagian warga Serbia, Mladić tetap dipandang sebagai pahlawan yang membela kepentingan nasional di tengah ancaman eksistensial. Bagi keluarga korban di Bosnia-Herzegovina, terutama komunitas Muslim, namanya tetap menjadi simbol penderitaan yang tak terhapuskan. Pemakaman kali ini mempertemukan kedua narasi itu dalam satu ruang fisik yang sama.

Tegangan Politik di Balik Upacara Pemakaman

Uni Eropa sebelumnya mengeluarkan peringatan agar Serbia tidak memberikan penghormatan publik kepada Mladić, mengingat statusnya sebagai terpidana genosida. Namun pemerintah Belgrade tetap melanjutkan seluruh rangkaian acara. Pekan sebelum pemakaman, sebuah pesawat milik negara dikirim ke Belanda untuk membawa jenazah kembali ke tanah air. Peti mati yang dibalut bendera nasional Serbia kemudian diusung oleh para prajurit dalam prosesi resmi.

Upacara peringatan militer telah lebih dulu digelar pada hari Sabtu di lokasi resmi milik tentara Serbia, menandai bahwa negara secara aktif mengambil bagian dalam penghormatan ini. Presiden Aleksandar Vučić, politisi populis yang dikenal sebagai nasionalis garis keras dan pendukung kebijakan ekspansionis Serbia selama masa perang, memberikan komentar singkat tentang acara tersebut.

"Ini adalah luapan emosi yang tidak ada kaitannya dengan apakah Vučić mengizinkan sesuatu atau tidak," ujar Vučić.

Komentar itu, meski terdengar ringan, sesungguhnya menegaskan posisi pemerintah: pemakaman ini bukan sekadar urusan keluarga, melainkan ekspresi kolektif yang telah mendapat restu negara. Pengaturan teknis memang ditangani oleh keluarga Mladić, tetapi kehadiran pesawat pemerintah, upacara militer, dan partisipasi institusi negara mengubah skala acara dari privat menjadi publik-kebangsaan.

Suara dari Kerumunan Pelayat

Di antara ribuan pelayat, Milan Dobric menempuh perjalanan jauh dari Kosovo untuk hadir. Ia mewakili gelombang warga yang memandang Mladić bukan sebagai terpidana, melainkan sebagai pengorbanan diri untuk bangsa.

"Mladić adalah sosok yang menyerahkan seluruh hidupnya demi rakyat Serbia," kata Dobric. "Saya senang melihat orang-orang datang pagi ini untuk memberikan penghormatan khusus."

Pernyataan seperti ini mencerminkan bagaimana memori kolektif di Serbia masih terbelah antara mereka yang menerima putusan pengadilan internasional dan mereka yang melihatnya sebagai intervensi asing terhadap narasi nasional. Bagi Dobric dan ribuan pelayat lainnya, kehadiran di gereja kecil itu bukan sekadar ritual perpisahan, melainkan pernyataan politik tentang siapa yang layak dihormati dalam sejarah negara.

FAQ: Fakta Penting tentang Ratko Mladić

Kapan dan di mana Ratko Mladić meninggal? Ia wafat pada 27 Agustus di Den Haag, Belanda, pada usia 84 tahun, saat masih menjalani hukuman penjara seumur hidup.

Apa saja dakwaan yang membuatnya divonis? Tiga dakwaan berat: genosida, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan, semuanya berkaitan dengan konflik Bosnia 1992–1995.

Berapa banyak korban dalam perang yang ia pimpin? Perang Bosnia menewaskan sekitar 100.000 warga Muslim Bosnia dan menjadi konflik paling berdarah di Eropa sejak Perang Dunia Kedua.

Apakah pemakamannya mendapat restu negara? Ya. Pemerintah Serbia mengirim pesawat negara untuk membawa jenazah, menggelar upacara militer di lokasi resmi tentara, dan Presiden Vučić secara terbuka mengomentari acara tersebut.

Bagaimana Uni Eropa merespons penghormatan publik ini? Uni Eropa sebelumnya mengeluarkan peringatan agar Serbia tidak memberikan penghormatan publik kepada seorang terpidana genosida, namun pemerintah Belgrade tetap melanjutkan seluruh rangkaian acara.

Related Reading