Beritasosial
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Pasukan AS Ditarik dari Irak, Siapa Yang Paling Untung Besar?

Published Oktober 1, 2026 · Updated Oktober 1, 2026 · By Elizabeth Wilson - beritasosial.com

Foto : Elizabeth Wilson - beritasosial.com

Penarikan Koalisi AS Membuka Babak Baru Politik dan Keamanan Irak

Beritasosial.com – Berakhirnya misi koalisi pimpinan Amerika Serikat di Irak menjadi titik penting bagi Baghdad dalam menegaskan kembali kendali nasional atas urusan keamanan. Pemerintah Irak memandang kepergian pasukan tersebut sebagai awal fase baru, tetapi perubahan ini juga memunculkan pertanyaan besar: siapa yang akan memperoleh pengaruh paling besar ketika kehadiran militer Barat tidak lagi menjadi faktor utama di lapangan?

Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi menyampaikan bahwa negaranya memasuki masa yang ditandai oleh penguatan lembaga negara, kesiapan aparat keamanan, serta kemampuan mengambil keputusan secara lebih mandiri. Pernyataan itu disampaikan dalam acara penutupan misi koalisi yang telah berlangsung selama 12 tahun.

Sebuah fase baru telah dimulai, yang ditandai dengan kedaulatan Irak, kekuatan institusinya, kesiapan pasukannya, kesatuan dalam pengambilan keputusan, serta kemitraan yang seimbang dengan negara-negara sahabat.

Namun, arti kedaulatan tidak hanya berkaitan dengan penarikan pasukan asing. Irak masih harus menghadapi keseimbangan kekuatan di dalam negeri, terutama keberadaan berbagai faksi bersenjata, pengaruh partai politik, serta hubungan kompleks dengan negara-negara di kawasan.

Ruang Pengaruh Lebih Besar bagi Kelompok Proksi Iran

Iran dan kelompok-kelompok yang dekat dengannya menyambut berakhirnya kehadiran pasukan AS sebagai perkembangan yang menguntungkan. Irak selama bertahun-tahun berada di tengah persaingan strategis Washington dan Teheran, dengan sejumlah kelompok bersenjata lokal menjadi bagian dari dinamika tersebut.

Konflik yang meningkat sejak Presiden Trump memulai perang melawan Iran pada Februari telah menimbulkan korban di pihak AS. Dari 18 tentara Amerika yang tewas dalam periode itu, tujuh orang meninggal di Irak. Angka tersebut memperlihatkan bahwa Irak tetap menjadi salah satu ruang paling sensitif dalam konfrontasi regional.

Ahmed Younis, analis politik yang berbasis di Baghdad, menilai absennya kekuatan militer Barat dapat memberi rasa percaya diri lebih besar kepada kelompok proksi Iran. Dalam situasi seperti itu, mereka berpotensi memperluas peran dalam pembentukan kebijakan dan memperkuat posisi di lembaga-lembaga strategis negara.

Kelompok-kelompok ini mungkin akan berupaya memperluas peran mereka dalam menentukan kebijakan negara dan memperkuat posisi mereka di dalam berbagai lembaga penting.

Implikasinya tidak semata berada di sektor keamanan. Pengaruh faksi bersenjata dapat terasa dalam perdebatan parlemen, pembentukan pemerintahan, distribusi jabatan, hingga arah kebijakan ekonomi. Tantangan bagi Baghdad adalah memastikan seluruh aktor politik tetap tunduk pada institusi negara dan aturan hukum yang sama.

Bagi Sebagian Warga, Ini Dipandang sebagai Kemenangan

Penarikan pasukan AS juga disambut sebagai kemenangan simbolis oleh kelompok-kelompok yang selama ini menentang kehadiran militer Amerika di Irak. Abu Mojtaba al-Yasiri, komandan Islamic Resistance in Iraq, menyebut langkah tersebut sebagai keberhasilan besar bagi kelompok perlawanan dan rakyat Irak.

Kemenangan bersejarah bagi kelompok perlawanan Islam Irak dan rakyat Irak yang terhormat, serta kekalahan telak bagi agenda Amerika.

Sentimen itu tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang konflik pasca-2003. Setelah pasukan AS menggulingkan Saddam Hussein, Irak mengalami kekacauan politik, kekerasan sektarian, serta pergulatan berkepanjangan untuk membangun institusi negara. Lebih dari 200.000 warga sipil Irak meninggal dalam gejolak setelah invasi tersebut, sementara sekitar 4.500 personel militer AS tewas selama dua dekade konflik.

Bagi banyak keluarga Irak, angka-angka tersebut bukan sekadar catatan sejarah. Pengalaman perang, ketidakstabilan, dan kekerasan telah membentuk persepsi publik terhadap kehadiran asing. Karena itu, penarikan koalisi membawa makna emosional sekaligus politik: Irak ingin dipandang mampu menjaga negara tanpa bergantung pada pasukan luar.

Perlucutan Senjata Menjadi Ujian bagi Pemerintah

Meski demikian, kepergian pasukan AS tidak otomatis menyelesaikan masalah keamanan. Irak menghadapi persoalan rumit terkait faksi-faksi bersenjata yang berafiliasi dengan Iran dan beroperasi dalam Pasukan Mobilisasi Populer atau PMF. Zeidon Alkinani, direktur pendiri Arab Perspectives Institute, melihat masa transisi ini sebagai periode yang sangat sensitif.

Terdapat tenggat 30 hari bagi sejumlah faksi bersenjata PMF yang memiliki kedekatan dengan Iran untuk menyerahkan senjata mereka, meski tenggat itu diperkirakan dapat diperpanjang. Gagasan utamanya adalah menyerahkan sepenuhnya kewenangan penggunaan kekuatan bersenjata kepada aparat pemerintah Irak.

Pada saat yang sama, terdapat tenggat waktu 30 hari—yang kemungkinan akan diperpanjang—bagi faksi-faksi bersenjata di dalam Pasukan Mobilisasi Populer yang berafiliasi dengan Iran untuk melucuti senjata mereka; ini berarti wewenang penggunaan kekuatan bersenjata akan diserahkan sepenuhnya kepada pasukan pemerintah Irak.

Pelucutan senjata dapat memperkuat otoritas negara jika dilaksanakan secara konsisten. Sebaliknya, proses yang tidak jelas atau tidak merata berisiko memicu ketegangan baru. Pemerintah perlu menyeimbangkan kebutuhan membangun monopoli kekuatan negara dengan realitas politik bahwa sejumlah kelompok tersebut memiliki basis sosial, jaringan organisasi, dan hubungan dengan kekuatan politik.

PMF, Politik, dan Bayang-Bayang Kekuatan Tersembunyi

Masa depan PMF telah lama menjadi isu utama dalam politik Irak. Sebagian masyarakat menghargai kontribusinya dalam membebaskan sejumlah provinsi dari penguasaan ISIL atau ISIS. Peran itu membuat pembahasan tentang pembubaran atau pembatasan faksi-faksi bersenjata tidak pernah sederhana.

Di sisi lain, Alkinani menyoroti keterkaitan sejumlah kelompok bersenjata dengan partai politik yang dipandang sebagai bagian dari deep state, yakni jaringan kekuatan yang bekerja di balik struktur pemerintahan formal. Keterhubungan tersebut dinilai memungkinkan mereka memengaruhi politik dan ekonomi Irak, bahkan ketika hasil pemilu berubah.

Ada pula keterkaitan langsung antara beberapa faksi bersenjata ini dengan banyak partai politik yang dianggap sebagai bagian dari deep state.

AS telah lama menyadari akses Iran ke politik Irak melalui jaringan faksi tersebut. Pemerintahan Trump tampak ingin mengambil pendekatan lebih aktif terhadap masa depan kelompok bersenjata itu sebagai bagian dari upaya membatasi pengaruh Teheran.

Dengan demikian, pihak yang paling diuntungkan dari penarikan pasukan AS bukan hanya satu kelompok. Pemerintah Irak memperoleh kesempatan untuk membuktikan kapasitas kedaulatannya. Kelompok proksi Iran mendapatkan ruang yang berpotensi lebih luas. Sementara rakyat Irak berharap perubahan ini benar-benar menghasilkan keamanan, stabilitas, dan negara yang mampu berdiri di atas institusinya sendiri.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Pasukan AS Ditarik dari Irak Siapa?

Pasukan AS Ditarik dari Irak Siapa is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Pasukan AS Ditarik dari Irak Siapa matter?

Pasukan AS Ditarik dari Irak Siapa matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.