Beritasosial
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

2 Negara Adikuasa Terus Ancam Jepang, 6 Alasan Tokyo Tidak Mengandalkan Pasukan Bela Diri

Published August 10, 2026 · Updated August 10, 2026 · By Mark Moore - beritasosial.com

Foto : Mark Moore - beritasosial.com

2 Negara Adikuasa Terus Ancam Jepang: 6 Alasan Tokyo Tak Bergantung pada Pasukan Bela Diri

Beritasosial.com – TOKYO — 2 Negara Adikuasa Terus Ancam Jepang, mendorong pemerintah untuk mempercepat reformasi pertahanan nasional. Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi menegaskan pada 4 Agustus bahwa Jepang memerlukan "rasa urgensi dan krisis" yang lebih besar dalam merespons tantangan keamanan regional. Buku putih pertahanan terbaru mengidentifikasi tiga ancaman utama: Tiongkok, Korea Utara, dan Rusia. Namun, dua negara adikuasa—Tiongkok dan Rusia—menjadi fokus utama perhatian Tokyo karena pengaruh global mereka yang semakin kuat.

Respons dari Beijing dan Pyongyang terhadap kebijakan Jepang cukup kritis. Kedua negara menuduh Tokyo meninggalkan prinsip pasifisme pascaperang. Sementara itu, pemerintah Jepang tetap berpegang bahwa semua langkah bersifat defensif dan tidak melampaui batasan konstitusional. Pertanyaan mendasar yang muncul adalah mengapa Jepang memilih untuk tidak sepenuhnya mengandalkan Pasukan Bela Diri dalam menghadapi ancaman ganda ini.

1. Pasukan Bela Diri Bukan Militer Konvensional

Meskipun mendapat sorotan luas, para pakar menilai bahwa langkah Jepang bukanlah bentuk "remiliterisasi" yang terjadi secara mendadak. Negara tersebut sebenarnya telah memiliki kemampuan pertahanan selama beberapa dekade. Menurut CNA, Jepang telah melepaskan hak untuk memiliki militer berdasarkan Pasal 9 konstitusinya, yang dirumuskan oleh Amerika Serikat setelah Perang Dunia II. Namun, pada tahun 1954, negara itu membentuk Pasukan Bela Diri guna menjamin kemampuannya dalam melindungi diri sendiri.

"Secara hukum, Jepang tidak memiliki militer; negara ini memiliki Pasukan Bela Diri," jelas Jeffrey Hornung, ilmuwan politik senior di RAND. "Jepang telah meningkatkan kemampuan pertahanannya selama lebih dari satu dekade. Apa yang kita lihat saat ini hanyalah kelanjutan dari tren tersebut."

2. Perang Ukraina sebagai Pemicu Ekspansi Militer

Tahap ekspansi terbaru dimulai pada tahun 2022, ketika invasi Rusia ke Ukraina terjadi. Pada momen tersebut, Perdana Menteri Fumio Kishida menyerukan "peningkatan mendasar" terhadap kemampuan pertahanan nasional. Sejak keputusan itu diambil, Jepang berkomitmen untuk menaikkan belanja pertahanan hingga mencapai 2 persen dari Produk Domestik Bruto pada tahun 2027. Target ini bahkan telah tercapai lebih cepat dari jadwal yang ditetapkan.

Selain itu, Jepang juga telah mengakuisisi rudal jarak jauh. Besaran anggaran yang dialokasikan menandai pembangunan kekuatan militer terbesar yang pernah dilakukan Jepang sejak berakhirnya Perang Dunia II. Langkah ini sejalan dengan upaya Tokyo untuk mengurangi ketergantungan pada mitra tradisional dalam menghadapi 2 Negara Adikuasa Terus Ancam kawasan.

3. Memburuknya Hubungan dengan Tiga Negara Tetangga

Para ahli mengidentifikasi dua faktor utama yang mendorong perubahan kebijakan Jepang. Pertama, lingkungan keamanan yang semakin mengancam dari berbagai arah. Kedua, ketidakpastian mengenai tingkat dukungan yang akan diberikan oleh Amerika Serikat di masa depan. Kombinasi kedua faktor ini membuat Tokyo merasa perlu memperkuat posisinya secara mandiri tanpa terlalu bergantung pada mitra tradisional.

Hubungan dengan Tiongkok memburuk seiring dengan aktivitas militer Beijing di Laut China Selatan dan Taiwan. Sementara itu, Rusia meningkatkan kehadiran militernya di wilayah Pasifik Utara. Korea Utara, meskipun bukan negara adikuasa, terus mengembangkan program rudal balistiknya yang menjadi ancaman langsung bagi Jepang.

4. Keterbatasan Geografis dan Demografis

Jepang menghadapi tantangan geografis yang unik sebagai negara kepulauan. Dengan wilayah yang tersebar di sepanjang rantai pulau, Jepang memerlukan kemampuan pertahanan yang fleksibel dan responsif. Selain itu, masalah demografis seperti penuaan populasi dan penurunan angka kelahiran membatasi jumlah tenaga kerja yang tersedia untuk Pasukan Bela Diri.

Keterbatasan ini mendorong Jepang untuk mengandalkan teknologi canggih dan sistem otomatisasi dalam pertahanan. Investasi dalam drone, sistem pertahanan udara, dan kapal selam menjadi prioritas utama untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada.

5. Perubahan Doktrin Keamanan Nasional

Doktrin keamanan Jepang telah mengalami transformasi signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Dari yang sebelumnya bersifat pasif dan defensif, kini Jepang mengadopsi pendekatan yang lebih proaktif. Kemampuan untuk melakukan serangan balik dan memperkuat aliansi dengan negara-negara sekutu menjadi bagian integral dari strategi baru ini.

Perubahan ini juga tercermin dalam peningkatan kerjasama militer dengan Australia, India, dan negara-negara ASEAN. Melalui inisiatif seperti Quad (Quadrilateral Security Dialogue), Jepang memperkuat posisinya dalam menghadapi tantangan keamanan regional.

6. Tekanan Ekonomi dan Energi

Sebagai negara yang bergantung pada impor energi, Jepang memiliki kepentingan strategis dalam menjaga stabilitas jalur perdagangan laut. Ancaman terhadap jalur pelayaran di Selat Malaka dan Laut China Selatan menjadi perhatian serius bagi Tokyo. Selain itu, ketegangan geopolitik antara 2 Negara Adikuasa Terus Ancam Jepang juga berdampak pada stabilitas ekonomi global.

Investasi dalam diversifikasi sumber energi dan penguatan infrastruktur maritim menjadi bagian dari strategi jangka panjang Jepang. Dengan mengurangi ketergantungan pada impor dari wilayah yang rawan konflik, Jepang berupaya memastikan ketahanan energi nasionalnya.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Ancaman terhadap Jepang

Apa saja 2 negara adikuasa yang terus mengancam Jepang?

Menurut analisis para ahli, Tiongkok dan Rusia merupakan dua negara adikuasa yang terus mengancam Jepang melalui aktivitas militer dan diplomasi agresif di kawasan Asia-Pasifik.

Mengapa Jepang tidak sepenuhnya mengandalkan Pasukan Bela Diri?

Jepang tidak sepenuhnya mengandalkan Pasukan Bela Diri karena keterbatasan geografis, demografis, dan kebutuhan untuk memperkuat aliansi dengan negara-negara sekutu dalam menghadapi ancaman ganda.

Berapa target belanja pertahanan Jepang hingga 2027?

Jepang berkomitmen untuk menaikkan belanja pertahanan hingga mencapai 2 persen dari Produk Domestik Bruto pada tahun 2027, target yang telah tercapai lebih cepat dari jadwal.

Bagaimana perang Ukraina mempengaruhi kebijakan pertahanan Jepang?

Perang Ukraina mendorong Jepang untuk mempercepat ekspansi militer dan meningkatkan kerjasama dengan negara-negara sekutu dalam menghadapi ancaman serupa di kawasan Asia-Pasifik.

Related Reading