Perang Iran Kuras Cadangan Minyak AS di Bawah 300 Juta Barel, Terendah sejak 1983
Perang Iran Kuras Cadangan Minyak AS ke Level Terendah Sejak 1983
Beritasosial.com – Jakarta – Persediaan minyak mentah strategis Amerika Serikat kini menyentuh titik terendahnya dalam kurun waktu lebih dari empat puluh tahun. Jumlah cadangan tersebut tercatat berada di bawah angka 300 juta barel untuk pertama kalinya sejak tahun 1983. Penurunan signifikan ini dipicu oleh kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump yang gencar melepaskan minyak mentah ke pasar global. Langkah ini diambil untuk meredam gangguan pasokan yang terjadi akibat konflik bersenjata dengan Iran.
Menurut data terbaru dari Departemen Energi AS, cadangan dalam Strategic Petroleum Reserve (SPR) menyusut sebanyak 6 juta barel hanya dalam satu minggu. Angka ini menempatkan total cadangan pada level 298,7 juta barel. Data dari Energy Information Administration mengonfirmasi bahwa ini merupakan pertama kalinya cadangan AS jatuh di bawah 300 juta barel sejak tahun 1983. Pada awal tahun 2026, AS masih memiliki cadangan sekitar 415 juta barel. Namun, persediaan terus menipis seiring dengan keputusan Trump untuk melepaskan lebih banyak minyak mentah ke pasar sebagai upaya mengimbangi gangguan pasokan akibat perang dengan Iran.
Dampak Terhadap Pasar Energi Global
Sementara itu, para pelaku pasar sebelumnya optimis bahwa Selat Hormuz akan segera kembali beroperasi normal. Optimisme ini muncul setelah Trump dan beberapa pejabat AS menyampaikan pernyataan bahwa kesepakatan untuk mengakhiri gangguan tersebut berpotensi tercapai. Namun, Trump pada akhir pekan lalu menegaskan bahwa AS tidak keberatan membiarkan dampak ekonomi perang mendorong Iran kembali ke meja perundingan.
"Pasar menghadapi kombinasi risiko geopolitik dan kebijakan moneter yang sensitif. Ketidakpastian terkait Selat Hormuz mempertahankan risiko kenaikan harga minyak dan inflasi, sementara data inflasi AS pada Rabu dapat mengubah ekspektasi terhadap keputusan Federal Reserve pada September," kata Kepala Riset Pasar FXTM Lukman Otunuga dikutip dari Business Insider, Selasa (11/8/2026).
Manfaatkan inflasi tinggi dan krisis fiskal, AS menggunakan taktik 'catur' untuk menyerang Iran. Pelepasan minyak strategis ini bukan hanya soal menjaga stabilitas harga, tetapi juga strategi diplomasi ekonomi. Dengan membiarkan tekanan ekonomi bekerja, Washington berharap Tehran akan lebih fleksibel dalam negosiasi. Situasi ini menambah kompleksitas pasar energi global yang sudah rentan terhadap ketidakpastian geopolitik.
Analisis Ke Depan dan Implikasi Ekonomi
Para analis pasar memperkirakan bahwa cadangan minyak strategis AS akan terus menurun jika konflik dengan Iran berlanjut tanpa henti. Harga minyak mentah jenis Brent dan WTI diproyeksikan mengalami volatilitas tinggi dalam beberapa minggu ke depan. Investor global diminta untuk waspada terhadap potensi kenaikan harga bahan bakar yang dapat mempengaruhi inflasi domestik di berbagai negara.
Di sisi lain, produksi minyak Iran yang terganggu akibat konflik juga memberikan dampak signifikan terhadap keseimbangan pasokan global. Negara-negara importir minyak seperti China, India, dan Jepang mulai mencari alternatif sumber pasokan untuk mengurangi ketergantungan pada wilayah Timur Tengah. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi kerentanan terhadap guncangan harga di masa depan.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Cadangan Minyak AS
Berapa lama cadangan minyak strategis AS biasanya bertahan?
Cadangan minyak strategis AS dirancang untuk bertahan selama 90 hari konsumsi minyak mentah nasional. Dengan tingkat konsumsi sekitar 20 juta barel per hari, cadangan idealnya mencapai 1,8 miliar barel. Namun, saat ini cadangan AS hanya tersisa sekitar 298,7 juta barel atau setara dengan 15 hari konsumsi.
Apa yang terjadi jika Selat Hormuz tetap terganggu?
Jika Selat Hormuz tetap terganggu, diperkirakan cadangan minyak AS akan terus menurun hingga menyentuh level 250 juta barel dalam beberapa bulan ke depan. Hal ini dapat memicu kenaikan harga minyak mentah hingga 15-20 persen dari level saat ini.
Bagaimana posisi Indonesia dalam konteks ini?
Indonesia sebagai importir minyak terbesar di Asia Tenggara juga merasakan dampak dari gangguan pasokan global. Harga BBM dalam negeri diproyeksikan mengalami penyesuaian jika tren kenaikan harga minyak mentah berlanjut. Pemerintah Indonesia telah menyiapkan berbagai skenario untuk menjaga stabilitas harga bahan bakar domestik.