Cegah Ekonomi Jatuh di Bawah 5%, Ekonom Didik: Belanja Pemerintah Tak Akan Langgeng
Cegah Ekonomi Jatuh di Bawah 5%: Belanja Pemerintah Tak Langgeng
Beritasosial.com – Data terbaru kuartal kedua tahun 2026 mengonfirmasi bahwa ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,29 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh lonjakan belanja pemerintah yang mencapai 15,97 persen, menjadikannya satu-satunya komponen dengan kenaikan dua digit. Namun, ekonom senior INDEF, Didik J Rachbini, mengingatkan bahwa Cegah Ekonomi Jatuh di Bawah 5 persen bukan sekadar mengandalkan pengeluaran negara secara terus-menerus.
Menurut Didik, belanja pemerintah selama ini lebih berfungsi sebagai penyangga darurat. Kapasitas fiskal memiliki batas tertentu, dan ketergantungan berlebihan pada komponen ini tidak akan langgeng dalam jangka panjang. Masalah fiskal juga muncul dari sisi penerimaan maupun pengeluaran yang perlu diatasi secara komprehensif.
Selama ini belanja pemerintah tidak akan langgeng karena hanya menjadi penyangga agar pertumbuhan ekonomi tidak jatuh di bawah 5 persen. Apalagi fiskal juga punya masalah dari sisi penerimaan maupun pengeluaran.
Analisis Komposisi Pertumbuhan Kuartal II 2026
Di luar belanja pemerintah, investasi mencatatkan kontribusi positif sebesar 6,87 persen. Konsumsi rumah tangga juga tumbuh 5,06 persen, sementara ekspor masih menjadi komponen terlemah dengan laju pertumbuhan 4,13 persen. Angka-angka ini menunjukkan bahwa fondasi pertumbuhan masih belum seimbang.
Didik menekankan bahwa ketergantungan pada belanja pemerintah bersifat sementara. Dengan kapasitas fiskal yang menghadapi tantangan ganda, diperlukan sumber pertumbuhan alternatif yang lebih berkelanjutan. Tanpa diversifikasi, target pertumbuhan jangka panjang akan sulit dicapai.
Tantangan Konsumsi dan Kelas Menengah
Konsumsi masyarakat juga tidak lagi bisa menjadi tumpuan utama pertumbuhan ekonomi. Kelas menengah mengalami penurunan jumlah akibat berbagai faktor ekonomi struktural. Kondisi ini menghambat potensi pertumbuhan dari sisi konsumsi domestik secara signifikan.
Dengan belanja pemerintah dan konsumsi domestik yang sama-sama menghadapi kendala, mencapai target pertumbuhan 7 hingga 8 persen menjadi semakin sulit. Didik menilai pemerintah perlu mencari sumber pertumbuhan yang lebih kuat melalui perubahan orientasi kebijakan ekonomi yang lebih komprehensif.
Pergeseran ke Kebijakan Outward Looking
Salah satu langkah krusial adalah memperkuat sektor luar negeri. Ekspor harus dijadikan mesin pertumbuhan sekaligus alat transformasi industri. Selama ini, kebijakan ekonomi Indonesia cenderung berorientasi ke dalam negeri atau inward looking, yang membatasi potensi ekspansi global.
Untuk mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi, Indonesia harus mengubah pendekatan tersebut menjadi outward looking. Dengan kebijakan yang berorientasi ekspor, negara dapat mendorong investasi, memperkuat industri domestik, serta memanfaatkan peluang dari rantai pasok global. Baca juga: Analisis Ekonomi Terbaru di Sindonews.
Didik juga menyoroti bahwa pasar domestik yang besar saja tidak cukup untuk menghasilkan industrialisasi berkelas dunia. Dunia usaha Indonesia perlu naik kelas dengan diberi kesempatan sekaligus didorong untuk bersaing di pasar global.
Masalahnya bukan hanya mengandalkan konsumsi domestik yang besar, tetapi dunia usaha Indonesia mampu naik kelas karena dipaksa dan diberi kesempatan untuk bersaing di pasar global.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Apa penyebab utama pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II 2026? Pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II 2026 mencapai 5,29 persen, terutama didorong oleh lonjakan belanja pemerintah sebesar 15,97 persen yang menjadi satu-satunya komponen dengan kenaikan dua digit.
Mengapa belanja pemerintah tidak dianggap sebagai solusi jangka panjang? Belanja pemerintah hanya berfungsi sebagai penyangga agar pertumbuhan tidak jatuh di bawah 5 persen. Kapasitas fiskal memiliki batas, dan masalah juga muncul dari sisi penerimaan maupun pengeluaran negara.
Berapa target pertumbuhan ekonomi yang ingin dicapai Indonesia? Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 7 hingga 8 persen dalam jangka panjang, namun pencapaian ini semakin sulit dengan ketergantungan pada belanja pemerintah dan penurunan kelas menengah.
Apa solusi yang ditawarkan untuk mencapai pertumbuhan lebih tinggi? Solusi utama adalah pergeseran ke kebijakan outward looking dengan memperkuat ekspor sebagai mesin pertumbuhan, mendorong investasi, dan memaksa dunia usaha Indonesia naik kelas untuk bersaing di pasar global.
Pergeseran menuju kebijakan yang lebih terbuka terhadap pasar internasional dinilai menjadi kunci untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkelanjutan di masa depan.