Beritasosial
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Bahlil Ungkap Banyak Pabrik Kabur ke Vietnam: Harga Tanah Cuma Rp600.000

Published Agustus 8, 2026 · Updated Agustus 8, 2026 · By Jessica Taylor - beritasosial.com

Foto : Jessica Taylor - beritasosial.com

Disparitas Harga Lahan Industri: Mengapa Investor Lebih Memilih Vietnam

Beritasosial.com – Bahlil Ungkap Banyak Pabrik Kabur ke Vietnam - Indonesia menghadapi tantangan serius dalam menarik investasi manufaktur dibandingkan Vietnam. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyoroti bahwa selisih harga lahan menjadi salah satu penyebab utama kalah bersaingnya negara ini. Pemerintah kini berupaya membangun kawasan industri dengan tarif lahan yang lebih menarik bagi calon investor yang mencari lokasi produksi optimal di Asia Tenggara.

Menurut Bahlil, harga tanah di kawasan industri Vietnam hanya berkisar Rp600.000 per meter persegi. Sebaliknya, di Indonesia, harga tersebut bisa mencapai Rp2 juta per meter. Pernyataan ini disampaikan saat acara peluncuran dan bedah buku berjudul "10 Karya Nyata untuk Negeri Setengah Abad Bahlil Lahadalia" di Jakarta, pada hari Jumat, 7 Agustus 2026. Perbedaan harga yang signifikan ini menjadi pertimbangan utama bagi perusahaan multinasional dalam menentukan lokasi investasi mereka.

Akar Masalah Sejak Perang Dagang 2016-2017

Ketidakseimbangan daya saing ini sudah terlihat sejak periode 2016 hingga 2017. Saat terjadi konflik perdagangan antara Amerika Serikat dan China, banyak perusahaan multinasional mencari lokasi produksi alternatif di Asia Tenggara. Dari total 32 perusahaan yang melakukan relokasi, Indonesia gagal menarik satu pun. Kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia perlu meningkatkan daya tarik investasinya secara komprehensif.

"Bapak Presiden, dulu pada saat tahun 2016-2017 terjadi perang dagang antara China dan Amerika. Ada 32 perusahaan yang hengkang dari China ke Vietnam, Indonesia tidak dapat kebagian," ujar Bahlil.

Sebagian besar pelaku usaha memilih Vietnam karena menawarkan efisiensi biaya investasi yang lebih tinggi. Salah satu faktor penentu adalah harga lahan kawasan industri yang jauh lebih murah dibandingkan Indonesia. Biaya produksi menjadi pertimbangan krusial bagi investor dalam memilih lokasi relokasi pabrik. Selain itu, Vietnam juga menawarkan kemudahan dalam hal perizinan dan infrastruktur yang mendukung aktivitas manufaktur.

Strategi Baru: Kawasan Industri Terpadu Batang

Berangkat dari pengalaman tersebut, pemerintah merancang langkah konkret untuk meningkatkan daya saing investasi. Salah satunya adalah pembangunan Kawasan Industri Terpadu Batang di Jawa Tengah. Kawasan ini dirancang untuk menyediakan lahan industri dengan harga kompetitif, ditambah kemudahan berusaha dan berbagai insentif fiskal. Target utama kawasan ini adalah menarik kembali perusahaan-perusahaan yang sebelumnya memilih Vietnam.

Bahlil menjelaskan bahwa penyusunan konsep serta master plan kawasan tersebut dilakukan oleh tim Kementerian Investasi. Upaya ini merupakan bagian integral dari perbaikan iklim investasi nasional. Kawasan industri ini diharapkan dapat menjadi magnet baru bagi masuknya investasi manufaktur yang sebelumnya lebih banyak mengalir ke negara tetangga. Dengan pendekatan yang lebih terintegrasi, Indonesia berharap dapat bersaing lebih kuat di pasar global.

"Jadi ini yang sudah dilakukan. Dan itu kita lakukan konsepnya, master plan-nya semuanya dilakukan oleh teman-teman Kementerian Investasi. Bukan saya yang hebat, tapi tim Kementerian Investasi yang hebat," kata Bahlil.

Peningkatan daya saing investasi tidak hanya bergantung pada pemberian insentif, tetapi juga pada kemampuan pemerintah menyediakan kawasan industri yang efisien, memiliki infrastruktur memadai, serta menawarkan biaya investasi yang kompetitif. Dengan langkah tersebut, pemerintah berharap Indonesia dapat lebih optimal memanfaatkan peluang relokasi industri global dan memperkuat pertumbuhan sektor manufaktur nasional. Kolaborasi antara berbagai kementerian dan lembaga pemerintah menjadi kunci keberhasilan strategi ini.

Frequently Asked Questions (FAQ)

Berapa harga tanah di kawasan industri Vietnam? Harga tanah di kawasan industri Vietnam berkisar Rp600.000 per meter persegi, jauh lebih murah dibandingkan Indonesia yang mencapai Rp2 juta per meter.

Mengapa banyak pabrik memilih Vietnam daripada Indonesia? Faktor utama adalah harga lahan yang lebih murah, kemudahan perizinan, dan infrastruktur yang mendukung aktivitas manufaktur di Vietnam.

Apa yang dilakukan pemerintah untuk menarik kembali investor? Pemerintah membangun Kawasan Industri Terpadu Batang dengan harga kompetitif dan berbagai insentif fiskal untuk menarik investor yang sebelumnya memilih Vietnam.

(nng)

Related Reading