Beritasosial
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Komdigi: 86% BTS Terdampak Gempa di NTT Sudah Kembali Beroperasi

Published August 17, 2026 · Updated August 17, 2026 · By James Brown - beritasosial.com

Foto : James Brown - beritasosial.com

Komdigi: 86 Persen BTS Terdampak Gempa NTT Sudah Kembali Beroperasi

Beritasosial.com – Jakarta — Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melaporkan bahwa 683 dari total 794 Base Transceiver Station (BTS) yang terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) kini telah pulih dan berfungsi kembali. Angka tersebut setara dengan 86,02 persen dari keseluruhan site yang mengalami gangguan. Sisanya, yakni 111 BTS atau 13,98 persen, masih menjalani proses pemulihan.

Komitmen Pemulihan Berkelanjutan

"Sejak terjadinya gempa, Komdigi bersama penyelenggara telekomunikasi terus mengawal pemulihan jaringan di wilayah terdampak. Hingga saat ini, dari 794 site/BTS yang terdampak, sebanyak 683 site/BTS atau 86,02% telah kembali beroperasi," jelas Meutya, Senin (17/8/2026).

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan bahwa koordinasi dengan penyelenggara telekomunikasi tidak pernah berhenti sejak bencana melanda. Ia menambahkan bahwa percepatan pemulihan menjadi prioritas utama, khususnya di kawasan yang masih mengalami gangguan layanan.

"Pemulihan ini terus kami kawal sampai seluruh layanan di wilayah terdampak dapat kembali normal. Kami juga memastikan upaya pemulihan dilakukan secepat mungkin, terutama di wilayah yang masih mengalami gangguan," lanjutnya.

Status Pemulihan per Kabupaten

Berdasarkan pemantauan Komdigi, dampak gempa tersebar di 11 kabupaten/kota. Tiga daerah telah mencapai pemulihan penuh, yaitu Alor, Lembata, dan Timor Tengah Utara. Delapan kabupaten lainnya masih dalam tahap pemulihan dengan rincian sebagai berikut:

Manggarai Timur tercatat memiliki 32 BTS tersisa dengan tingkat pemulihan 57,33 persen. Manggarai menyusul dengan 27 BTS (82,35 persen), Nagekeo 19 BTS (76,25 persen), Ende 11 BTS (89,52 persen), Ngada 10 BTS (87,18 persen), Sikka 7 BTS (94,07 persen), Manggarai Barat 4 BTS (96,36 persen), serta Flores Timur yang tersisa satu BTS dengan tingkat pemulihan 97,56 persen.

Akibat Teknis Gangguan

Hasil identifikasi dari industri telekomunikasi menunjukkan bahwa mayoritas gangguan bersumber dari masalah pasokan listrik, yang menimpa 701 BTS. Sementara itu, 93 BTS lainnya mengalami kerusakan pada jaringan transmisi. Meutya menjelaskan bahwa langkah pemulihan disesuaikan dengan kondisi spesifik tiap lokasi, baik untuk gangguan daya maupun transmisi.

"Pemulihan dilakukan sesuai dengan kondisi masing-masing lokasi, baik untuk gangguan pasokan daya maupun jaringan transmisi. Kami terus berkoordinasi dengan penyelenggara telekomunikasi dan pihak terkait agar site yang masih terdampak dapat segera kembali beroperasi," terang Meutya.

Secara operasional, Komdigi melalui Pusat Monitoring Telekomunikasi (PMT) secara berkelanjutan memantau kondisi jaringan. Koordinasi dilakukan bersama Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio (Balmon SFR), pemerintah daerah, serta seluruh penyelenggara telekomunikasi di wilayah terdampak. Fokus utama pemantauan diarahkan pada percepatan pemulihan 111 BTS yang masih terganggu, terutama di kawasan dengan jumlah BTS terdampak tinggi.

Konteks Bencana dan Peran Jaringan Komunikasi

Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang berpusat di Nagekeo telah menewaskan 53 orang, melukai 135 orang, dan memaksa sekitar 5.000 warga mengungsi. Kerusakan juga meluas pada rumah warga serta berbagai fasilitas publik.

"Kehadiran jaringan komunikasi di tengah bencana bukan sekadar soal konektivitas. Layanan komunikasi dibutuhkan untuk memastikan masyarakat tetap dapat terhubung, memperoleh informasi, mengakses layanan darurat, dan mendukung koordinasi bantuan. Karena itu, pemulihan jaringan menjadi bagian penting dari upaya penanganan dan pemulihan pascabencana," papar Meutya.

Belasungkawa dan Imbauan Publik

Dalam kesempatan yang sama, Meutya menyampaikan belasungkawa atas musibah yang menimpa masyarakat NTT. Ia menekankan bahwa di situasi darurat, layanan telekomunikasi memegang peranan krusial bagi warga untuk berkomunikasi dengan keluarga, memperoleh informasi, serta mendukung koordinasi penanganan bencana.

"Kami turut berduka cita atas musibah yang terjadi di Nusa Tenggara Timur. Di tengah situasi seperti ini, kami menyadari bahwa layanan telekomunikasi memiliki peran yang sangat penting bagi masyarakat, terutama untuk mendapatkan informasi, berkomunikasi dengan keluarga, serta mendukung koordinasi penanganan bencana," kata Meutya.

Menkomdigi turut mengimbau masyarakat agar senantiasa mengutamakan keselamatan dan mengikuti informasi resmi yang disampaikan oleh BMKG, pemerintah daerah, serta instansi terkait penanganan bencana.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Komdigi?

Komdigi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Komdigi matter?

Komdigi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.