New Policy: 2 Negara Muslim Ini Saling Serang, Ini 7 Alasan Konflik Itu Tak Mudah Diselesaikan
New Policy: Konflik 2 Negara Muslim Terus Memanas, 7 Alasan Tak Mudah Diselesaikan
New Policy – Sebuah New Policy baru memicu ketegangan antara dua negara Muslim, Pakistan dan Afghanistan, yang kini saling menyerang. Pasukan keamanan Pakistan melakukan serangan terhadap tiga provinsi Afghanistan, termasuk wilayah yang diduga menyimpan senjata, sebagai bagian dari strategi untuk memutus pengaruh kelompok bersenjata. Serangan ini juga memicu penerbitan panggilan resmi kepada utusan Kabul. Peristiwa ini terjadi setelah serangan terhadap pangkalan Sindh Rangers di Karachi, yang menyebabkan kematian tiga anggota paramiliter dan cedera empat lainnya, menurut laporan terbaru.
Operasi Militer dan Korban Sipil
Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, mengatakan bahwa operasi militer di Paktia, Paktika, dan Kunar mengakibatkan kematian 25 pejuang. Di sisi lain, Taliban Afghanistan, yang berbeda dari kelompok teroris TTP, menyangkal klaim Pakistan tentang korban sipil. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Tahir Andrabi, menyatakan, “Tanah Afghanistan dan warga negara Afghanistan terus digunakan untuk mengatur serangan teroris di dalam Pakistan,” seperti yang dikutip dalam pernyataan resmi. Namun, Taliban tetap menegaskan bahwa serangan Pakistan menyebabkan puluhan korban warga sipil.
Zabihullah Mujahid, juru bicara Taliban, menambahkan bahwa para pejuang melaporkan anak-anak terluka dan menuduh Islamabad menyerang daerah pemukiman. Pernyataan ini menggarisbawahi perang narasi yang berlangsung antara kedua belah pihak, dengan setiap pihak menyalahkan yang lain untuk menghancurkan pihak ketiga.
Perang Narasi dan Keterlibatan Kelompok Bersenjata
Konflik antara Pakistan dan Afghanistan telah berlangsung lama, dengan pola serangan yang terus berulang. Serangan pada 27 Juni terhadap kompleks Sindh Rangers di Karachi memicu protes diplomatik Pakistan. Sebagai respons, Islamabad meluncurkan operasi yang menargetkan kelompok teroris JuA, yang berbasis di Nangarhar, provinsi dengan ibu kota Jalalabad. Dalam serangan tersebut, satu anggota JuA ditangkap hidup-hidup, menurut sumber terpercaya.
Kelompok JuA, yang merupakan bagian dari TTP, sebelumnya telah melakukan beberapa aksi teror di Pakistan. Meski menyerah pada New Policy yang memperketat koordinasi dengan pemerintah Afghanistan, kelompok ini tetap memperlihatkan ketidaksetujuan. Pernyataan yang dikeluarkan oleh kedua belah pihak menunjukkan bahwa konflik ini tidak hanya melibatkan pertempuran langsung, tetapi juga persaingan ideologis dan strategis.
Strategi Pakistan dan Dampak New Policy
Sebagai bagian dari New Policy, Pakistan menggunakan kombinasi serangan militer, deportasi, dan diplomasi untuk mengatasi ancaman dari kelompok bersenjata. Meski operasi terbaru di Karachi berhasil menangkap pelaku, ini tidak menghentikan serangan yang terus berlangsung. Para analis menyatakan bahwa New Policy telah meningkatkan tekanan terhadap Taliban, tetapi juga memperburuk ketegangan antara kedua negara.
Dewan Keamanan PBB mencatat bahwa JuA, yang memisahkan diri dari TTP pada 2014, kembali berada dalam keadaan semi-independen sejak awal 2025. Pernyataan tersebut menggarisbawahi kompleksitas hubungan antara kelompok-kelompok teroris dan pemerintah Afghanistan. Dengan New Policy yang diterapkan, Islamabad berusaha memperkuat posisi tawannya terhadap kelompok-kelompok bersenjata, meski masih menghadapi tantangan dalam menyelaraskan kepentingan dengan Kabul.
Analisis Konflik dan Tantangan Masa Depan
Konflik antara Pakistan dan Afghanistan tidak bisa diselesaikan dengan mudah, terlepas dari New Policy yang diharapkan mendorong kerja sama. Tujuh faktor utama membuat konflik ini berkelanjutan: pertama, adanya kelompok bersenjata yang berbasis di wilayah Afghanistan yang tidak terkontrol. Kedua, perbedaan prioritas antara Islamabad dan Kabul dalam menangani ancaman teroris. Ketiga, ketidakpercayaan terhadap pemerintah Afghanistan terkait keterlibatan mereka dalam aksi teror.
Kelompok keempat, pengaruh politik internasional yang terus memengaruhi kebijakan kedua negara. Kelima, kebutuhan Pakistan untuk menjaga keamanan domestik melalui serangan ke Afghanistan. Keenam, histori perang antara kedua negara yang menyebabkan rasa sakit dalam hubungan bilateral. Ketujuh, ketidakmampuan mencapai kesepakatan jangka panjang karena perbedaan strategi dalam menangani ancaman bersenjata.
Dengan New Policy yang lebih agresif, konflik antara Pakistan dan Afghanistan berpotensi memperburuk ketegangan di wilayah lain, termasuk wilayah perbatasan. Kebijakan ini juga mengundang kritik dari pihak internasional yang khawatir akan dampaknya terhadap stabilitas regional. Meski demikian, Pakistan tetap bersikeras bahwa New Policy adalah langkah penting untuk mengurangi ancaman teroris dan memperkuat keamanan nasional.
