Topics Covered: Ubedilah Badrun Bongkar Upaya Pembelahan Gerakan Mahasiswa
Ubedilah Badrun Bongkar Upaya Pembelahan Gerakan Mahasiswa
Topics Covered – Dalam wawancara terbarunya di siniar To The Point Aja di YouTube SindoNews, Sabtu (20/6/2026), Ubedilah Badrun, analis sosial politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), membongkar upaya pembelahan gerakan mahasiswa yang terus berlangsung. Menurutnya, selama sejarah gerakan mahasiswa Indonesia, tidak pernah ada periode di mana upaya memecah belah aktivis dan organisasi mahasiswa berhenti. Hal ini menjadi sorotan utama dalam Topics Covered yang diangkatnya, yaitu tentang bagaimana pihak tertentu mencoba mengubah arah pergerakan mahasiswa untuk kepentingan politik tertentu.
Ubedilah menjelaskan bahwa strategi pembelahan ini tidak hanya terjadi dari luar, tetapi juga melalui mekanisme internal. Ia mengungkap bahwa dalam sepuluh tahun terakhir, penghadiran pihak lawan dan manipulasi ide menjadi cara yang efektif untuk memisahkan kelompok-kelompok aktivis. Dalam Topics Covered yang ia sebutkan, ia menekankan bahwa keberadaan gerakan mahasiswa tidak bisa dipisahkan dari dinamika politik nasional, termasuk upaya untuk mengendalikan isu-isu yang dianggap mampu menggerakkan masyarakat luas.
Gerakan Mahasiswa dan Kepentingan Politis
Menurut Ubedilah, contoh nyata upaya pembelahan bisa dilihat dari BEM SI. Organisasi tersebut, katanya, sering kali dipecah menjadi bagian-bagian yang saling berbeda, bahkan hingga kehilangan koherensi dalam menyampaikan pesan. “Tuntutan dan ide yang diusung dalam gerakan mahasiswa harus selalu mencerminkan kepentingan rakyat banyak,” ujarnya. Ia mengingatkan bahwa jika ide atau tuntutan terlihat tidak masuk akal, atau justru menjelekkan sesama aktivis, maka gerakan tersebut bisa disebut tidak murni. Hal ini menjadi fokus utama dalam Topics Covered yang ia kaji secara mendalam.
“Gerakan selalu punya disiplin organisasi. Tidak mungkin pernyataan sikap itu muncul ujug-ujug di luar rapat mereka. Begitu ada ide yang masuk, susupan, yang di luar rapat, itu mereka pasti ngamuk dan marah, siapa, itu bisa dihabisi, disingkirkan dari organisasi, diminta minta maaf, dan sebagainya,” jelas Ubedilah. Pernyataan ini menggarisbawahi betapa kritisnya upaya pembelahan dalam menyebarkan dampak negatif pada kekuatan gerakan mahasiswa.
Dalam Topics Covered, Ubedilah juga menyoroti bagaimana pernyataan sikap dari gerakan mahasiswa tidak muncul secara tiba-tiba. Ia menyatakan bahwa organisasi seperti BEM SI selalu memiliki struktur internal yang jelas, sehingga setiap keputusan besar harus melalui proses diskusi yang intensif. Jika ada pihak yang memasukkan ide tak masuk akal, maka reaksi dari anggota organisasi akan terasa jelas. Ia mencontohkan bahwa keberadaan ide-ide yang menyimpang sering kali diakui sebagai ancaman terhadap keharmonisan gerakan.
Strategi Pembelahan dalam Gerakan Mahasiswa
Menurut Ubedilah, strategi pembelahan gerakan mahasiswa tidak hanya terbatas pada kebijakan internal. Ia menambahkan bahwa adanya keterlibatan pihak eksternal, seperti kelompok politik tertentu atau media, juga berperan besar dalam memperkuat upaya tersebut. Dalam Topics Covered, ia menekankan bahwa ini menjadi strategi untuk mengalihkan fokus pergerakan mahasiswa dari isu-isu utama seperti kesejahteraan rakyat, pendidikan, hingga keadilan sosial.
Pembelahan ini, kata Ubedilah, bisa terjadi melalui berbagai cara, termasuk memanfaatkan perbedaan pandangan ideologis atau kepentingan politik antar kelompok. Ia mencontohkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, terdapat upaya untuk memecah belah BEM SI menjadi beberapa sayap yang lebih kecil, sehingga mengurangi kemampuan mereka dalam mengambil keputusan kolektif. Dalam Topics Covered, ia juga mengungkap bahwa perbedaan ini sering kali dimanipulasi agar terlihat seperti konflik internal, padahal sebenarnya diarahkan oleh pihak luar.
Dalam Topics Covered, Ubedilah menyatakan bahwa upaya pembelahan gerakan mahasiswa tidak hanya berdampak pada dinamika internal organisasi, tetapi juga pada masyarakat luas. Ia menekankan bahwa gerakan mahasiswa sering kali menjadi jembatan antara generasi muda dan isu-isu nasional, sehingga jika kekuatan tersebut terpecah, dampaknya akan lebih besar. Ia menambahkan bahwa para aktivis muda perlu lebih waspada terhadap berbagai upaya manipulasi, terutama dalam menyampaikan pesan yang sejalan dengan kepentingan politik tertentu.
