New Policy: Serangan Israel ke Lebanon Bisa Gagalkan Perdamaian AS dan Iran, Ini 3 Alasannya

serangan-israel-ke-lebanon-bisa-gagalkan-perdamaian-as-dan-iran-ini-3-alasannya-upa

Perdamaian AS dan Iran Terancam oleh Serangan Israel ke Lebanon, 3 Alasan New Policy

New Policy – Seiring dengan intensitas serangan udara yang turun, operasi militer Israel di Lebanon belum berhenti. Al Jazeera melaporkan bahwa dalam satu jam terakhir, pesawat tak berawak Israel melakukan serangan udara ke desa Mansouri, sekitar 3 km selatan Tyre, sementara artileri terus menghujam desa-desa dekat Nabatieh. Dalam peristiwa terpisah, Israel menyatakan telah menewaskan empat warga Lebanon. New Policy ini mengundang pertanyaan tentang kemungkinan penyelesaian konflik antara AS dan Iran, karena serangan terus-menerus berdampak pada stabilitas wilayah.

Menurut Hizbullah, respons mereka terhadap operasi Israel mencakup serangan terhadap pasukan penjajah di wilayah Nabatieh. Sumber keamanan menyebut bahwa Israel sedang berupaya memperluas pengaruhnya ke kawasan dataran tinggi strategis. Meski sebagian penduduk mulai kembali ke rumah, masyarakat tetap waspada. New Policy ini memicu keraguan apakah AS benar-benar akan bisa mengendalikan langkah Israel.

1. Dukungan AS yang Kuat Menjadi Kendala New Policy

Doug Bandow, peneliti senior di Cato Institute, menekankan bahwa New Policy AS harus menjadi alat untuk mengendalikan Israel. Namun, ia mengingatkan bahwa hubungan antara Trump dan Netanyahu menjadi faktor utama dalam keberhasilan kebijakan ini. Bandow menyatakan, “New Policy hanya akan efektif jika Washington mampu memastikan tekanan nyata pada Israel, terutama dalam menghentikan operasi ke Lebanon.” Dalam konteks ini, kebijakan luar negeri AS menjadi kunci untuk mencegah eskalasi yang berdampak pada perundingan dengan Iran.

“New Policy AS berpotensi gagal jika Trump tidak memberikan dukungan politik dan militer yang konsisten kepada negara-negara lain,” ujarnya. Bandow menyoroti bahwa kebijakan luar negeri AS sering kali terpengaruh oleh kepentingan Israel, yang memiliki pengaruh kuat di Washington.

2. Ketidakpastian dalam Strategi New Policy

Sumber-sumber keamanan menyebutkan bahwa Israel menghadapi tekanan untuk mempercepat akhir operasi, namun mereka masih fokus pada kawasan selatan Lebanon. New Policy ini terlihat memperkuat upaya Israel untuk menguasai area strategis, meski keluarga-keluarga mulai kembali ke kampung halaman. Bandow mengingatkan bahwa New Policy harus dirancang dengan hati-hati, karena serangan terus-menerus bisa mengganggu upaya pembentukan kesepakatan antara AS dan Iran.

“New Policy AS perlu mempertimbangkan dampak operasi Israel terhadap keamanan Lebanon dan kepercayaan pihak-pihak terlibat dalam negosiasi,” tambah Bandow. Ia menjelaskan bahwa Israel memiliki kebebasan besar dalam memutuskan intensitas serangan, terutama jika AS tidak menerapkan kebijakan yang konsisten.

3. Peluang New Policy untuk Memperkuat Diplomasi

Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Bandow mengungkapkan bahwa New Policy bisa menjadi cara untuk mengarahkan perang Israel ke Lebanon menjadi bagian dari strategi global AS. Ia menekankan bahwa Israel memerlukan dukungan militer dan finansial dari AS, sehingga New Policy perlu menjadi alat untuk menciptakan keseimbangan antara kepentingan Israel dan kebutuhan damai dengan Iran. Selain itu, Bandow memperkirakan bahwa New Policy akan meningkatkan kesadaran masyarakat internasional tentang pentingnya kebijakan yang terarah.

“New Policy ini adalah peluang untuk memastikan bahwa Israel tidak mengabaikan tujuan utama perundingan dengan Iran,” kata Bandow. Ia menambahkan bahwa jika AS tidak mengendalikan operasi Israel, konflik akan terus berlanjut, mengancam kemungkinan perjanjian perdamaian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *