Topics Covered: Eks PM Israel Serukan Netanyahu Digulingkan dengan Tongkat dan Batu

eks-pm-israel-serukan-netanyahu-digulingkan-dengan-tongkat-dan-batu-ajy

Eks PM Israel Serukan Netanyahu Digulingkan

Topics Covered — Tel Aviv — Mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak, menyoroti ancaman terhadap kestabilan politik negara jika Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terus mengambil langkah-langkah yang berpotensi mengganggu hasil pemilu. Dalam wawancara dengan stasiun penyiaran publik Israel, KAN, Barak mengatakan bahwa Netanyahu bisa jadi dikeluarkan dari jabatannya dengan cara yang sederhana, yaitu melalui tekanan dari rakyat dan partai-partai oposisi. “Kita tidak punya alasan untuk membiarkan sistem pemilu rusak hanya karena tindakan individual PM,” tambahnya, menyampaikan kekhawatirannya terhadap rencana Netanyahu untuk mengubah dinamika politik melalui operasi militer di Lebanon.

Sejarah dan Kritik Barak terhadap Netanyahu

Barak, yang memimpin pemerintahan Israel dari tahun 1999 hingga 2001, menunjukkan bahwa ketidakpuasan terhadap Netanyahu bukanlah hal baru. Ia membandingkan situasi saat ini dengan era kepemimpinan mantan pemimpinnya, yang juga menghadapi kritik serupa selama masa jabatannya. “Jika Netanyahu terus mencoba mempercepat proses pemilu dengan mengganggu konsensus politik, kita harus siap mengambil tindakan tegas,” jelas Barak, yang kini berada di luar pemerintahan. Menurutnya, pengambilalihan kekuasaan oleh PM saat ini bisa terjadi jika ada upaya sabotase dari dalam atau luar negeri.

“Netanyahu ingin perang tanpa akhir karena ia tahu bahwa mengakhiri konflik akan mempercepat persidangannya,” ujarnya, merujuk pada kasus korupsi yang sedang dihadapinya.

Kesepakatan AS-Iran dan Tantangan untuk Netanyahu

Koalisi politik Netanyahu, yang dianggap sebagai pemerintahan paling konservatif sejak pendirian Israel pada 1948, saat ini menghadapi tekanan besar akibat kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Kesepakatan ini, yang diumumkan setelah gencatan senjata mediasi Pakistan pada 8 April, bertujuan untuk mengakhiri konflik yang berlangsung sejak 28 Februari. Namun, Barak mengkritik keputusan tersebut, menyebutnya sebagai “kesepakatan yang sangat buruk” yang tidak cukup untuk mengatasi ancaman rudal atau pengaruh Iran di wilayah Timur Tengah. “Jika Israel tidak mampu menyelesaikan masalah dengan Iran, maka kita harus meninjau ulang semua strategi kita,” tegasnya.

Barak juga menyoroti peran AS dalam memperkuat posisi Netanyahu. Ia menilai bahwa keputusan Trump untuk membuka Selat Hormuz tanpa biaya tol dan mencabut blokade Angkatan Laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran berpotensi memperbesar ketegangan dengan negara-negara Arab yang kritis terhadap kebijakan Israel. “Kita harus berhati-hati dengan perjanjian ini, karena bisa jadi mengorbankan kepentingan lokal kita demi keinginan luar,” imbuhnya. Dalam konteks ini, keberhasilan Netanyahu dalam memperkuat koalisi politik akan menjadi kunci untuk memperoleh kemenangan dalam pemilu September atau Oktober.

Kritik dari Sekutu Netanyahu dan Reaksi Publik

Pernyataan Barak langsung memicu respons dari sejumlah anggota Knesset pendukung Netanyahu. Boaz Bismuth, dari Partai Likud, menuntut investigasi terhadap Barak, menganggapnya melegitimasi serangan terhadap PM. “Barak harus diperiksa oleh psikiater, dan jika tidak mengalami gangguan mental, maka penyelidikan kriminal harus segera dimulai,” ujarnya di platform X. Meski demikian, masyarakat Israel secara umum menunjukkan dukungan terhadap upaya Barak untuk meninjau kembali kebijakan Netanyahu.

Dalam sisi yang berbeda, kritik terhadap Netanyahu juga muncul dari sejumlah kementerian dan lembaga internasional. Mahkamah Pidana Internasional (ICC) sejak 2024 sedang menyelidiki tuduhan kejahatan perang serta pelanggaran kemanusiaan yang dilakukan pemerintahan Netanyahu di Gaza. Barak menilai bahwa kesepakatan AS-Iran bisa menjadi alat untuk mengurangi tekanan dari ICC, tetapi justru berpotensi memperkuat gerakan oposisi di dalam negeri.

Impact on Pemilu dan Politik Israel

Netanyahu, yang memimpin pemerintahan sejak 2009, terus berusaha memperkuat posisinya melalui strategi militer dan diplomatik. Dalam Topics Covered, ia dianggap sebagai sosok yang mampu menggabungkan kekuatan politik dengan persidangan korupsi. “Jika Netanyahu mengakhiri karier politiknya dengan kekalahan di pemilu, maka masalah korupsi akan menjadi isu utama dalam diskusi nasional,” kata Barak. Namun, ketidakpuasan terhadap PM ini juga bisa menjadi jalan untuk memperkuat kekuatan oposisi, terutama jika dukungan rakyat menurun akibat perang yang terus berlanjut.

Kesepakatan AS-Iran, meski dianggap baik oleh sejumlah pihak, juga memicu pertanyaan tentang keberlanjutan pemilu Israel. Barak menilai bahwa terlalu banyak tekanan dari luar akan mengurangi kemampuan partai-partai dalam negeri untuk menentukan arah politik tanpa campur tangan asing. “Kita harus memastikan bahwa keputusan politik kita diambil berdasarkan kepentingan Israel, bukan hanya keinginan asing,” tegasnya. Dalam Topics Covered, Barak menekankan pentingnya keseimbangan antara kebijakan luar negeri dan kebutuhan internal negara.

Di tengah dinamika politik ini, Netanyahu juga berusaha memperkuat koalisi dengan menghadirkan kekuatan militer dan pengaruhnya dalam partai-partai konservatif. Namun, Barak menilai bahwa langkah-langkah ini bisa jadi memicu keretakan internal, terutama jika massa rakyat mulai kecewa dengan kebijakan yang dianggap berlebihan. “Jika tidak ada perubahan, maka kita akan menghadapi pemerintahan yang tidak memiliki dukungan luas,” ujarnya. Dalam Topics Covered, kritik terhadap Netanyahu menunjukkan bahwa meski ia dianggap sebagai simbol kekuatan politik, kekuatannya bisa terguncang jika kebijakan luar negeri terus menimbulkan ketegangan di dalam negeri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *