New Policy: Chatib Basri: Tugas Menteri Keuangan Sebetulnya Gampang! Potong, Naikkan, Pinjam
Chatib Basri: Tugas Menteri Keuangan dalam New Policy Terlihat Sederhana
New Policy – Dalam New Policy terbaru, mantan Menteri Keuangan Republik Indonesia, Chatib Basri, menyatakan bahwa tugas seorang menteri keuangan tidak selalu terlihat kompleks. Meski data anggaran dan neraca keuangan sering terasa rumit, pilihan utama untuk memperbaiki kondisi fiskal hanyalah tiga: meningkatkan pendapatan, mengurangi pengeluaran, atau mengajukan pinjaman. “New Policy dalam fiskal itu justru sederhana, sebab Menteri Keuangan hanya perlu memutuskan antara naikkan, potong, atau pinjam,” jelasnya dalam wawancara dengan media lokal di Jakarta, Rabu (10/6/2026).
“Saya pikir, New Policy ini seharusnya tidak membingungkan. Jika angka-angka di neraca keuangan bisa dikelola dengan baik, maka kebijakan itu bisa dijalankan secara efisien,” tukas Chatib, yang saat ini menjadi konsultan pemerintah dalam masalah ekonomi.
Kendala dalam Penerapan New Policy
Sebagai mantan menteri, Chatib mengakui bahwa New Policy memang memerlukan keberanian politik. Meski tiga opsi tersebut terdengar sederhana, penerapannya bisa menimbulkan tantangan. Misalnya, peningkatan pajak atau retribusi harus dilakukan tanpa merusak pertumbuhan ekonomi, sementara penggunaan utang harus diatur agar tidak berisiko tinggi. “New Policy ini bisa berdampak besar, tetapi jangan sampai eksekusinya terhambat karena tekanan dari dalam atau luar,” imbuhnya.
Mengenai kenaikan utang, Chatib menyoroti suku bunga global yang tinggi saat ini. “Jika New Policy mengandalkan pinjaman, maka biaya bunga bisa menjadi beban tambahan. Jadi, kita harus memastikan rasio utang tetap terkendali,” kata dia. Pada saat yang sama, pengurangan pengeluaran harus dilakukan secara selektif agar tidak mengganggu program pemerintah yang penting.
Strategi untuk Memaksimalkan New Policy
Untuk mengoptimalkan New Policy, Chatib menyarankan bahwa pemerintah perlu melakukan penyesuaian struktur keuangan secara menyeluruh. “Kita bisa menggabungkan pendapatan dari berbagai sumber, termasuk memangkas subsidi yang tidak tepat sasaran,” jelasnya. Ia juga menekankan pentingnya transparansi dalam pengelolaan anggaran agar masyarakat percaya dengan kebijakan tersebut.
Chatib menjelaskan bahwa New Policy harus didasari data yang akurat dan analisis yang matang. “Tidak boleh hanya berdasarkan teori, tetapi harus diuji dalam kondisi nyata. Jadi, kita perlu memantau dampaknya secara berkala,” tambahnya. Ia menambahkan, dalam era krisis ekonomi, New Policy yang tepat bisa menjadi penyelamat bagi perekonomian nasional.
Pengaruh New Policy terhadap Ekonomi Nasional
New Policy yang diusung oleh Menteri Keuangan saat ini dinilai memiliki potensi besar dalam menjaga stabilitas perekonomian. Menurut Chatib, kebijakan ini bisa mengurangi defisit anggaran jika diterapkan dengan tepat. “Kita perlu menghitung secara realistis, apakah New Policy ini bisa mengatasi tantangan inflasi atau pertumbuhan yang melambat,” katanya.
Menurut dia, kunci sukses New Policy terletak pada kemampuan pemerintah untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan pendapatan dan pengeluaran. “Jika pemerintah mampu memangkas pengeluaran yang tidak produktif, sementara pendapatan ditingkatkan melalui pajak atau retribusi yang lebih efektif, maka New Policy bisa menjadi solusi yang berkelanjutan,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya kerja sama antara lembaga pemerintah dan sektor swasta dalam mewujudkan kebijakan ini.
Peran Investor dalam New Policy
Stabilitas ekonomi juga dipengaruhi oleh persepsi investor terhadap New Policy. Chatib menyoroti peran Credit Default Swap (CDS) sebagai alat ukur risiko fiskal. “Jika CDS meningkat, berarti investor khawatir dengan kinerja New Policy. Jadi, kita harus memastikan kebijakan ini membuat mereka nyaman berinvestasi,” katanya.
Dalam konteks New Policy, Chatib menegaskan bahwa keterbukaan dan konsistensi kebijakan adalah faktor utama. “Jika pemerintah tidak konsisten dalam menjalankan New Policy, maka investor akan berpaling ke negara lain,” tambahnya. Ia juga berharap New Policy bisa menjadi bukti komitmen pemerintah untuk memperbaiki sistem keuangan negara secara jangka panjang.
Menurut Chatib, New Policy bukan hanya tentang angka-angka, tetapi juga tentang kebijakan yang mampu memberikan dampak nyata bagi rakyat. “Kebijakan harus mendorong pertumbuhan ekonomi, sekaligus mengurangi beban masyarakat. Jadi, New Policy harus berpikir jernih dan bertujuan jelas,” pungkasnya. Dengan implementasi yang tepat, kebijakan ini bisa membawa perubahan positif dalam jangka waktu tertentu.
