Rupiah Diramal Jebol Tembus Rp18.000 per Dolar AS jelang Libur Panjang
Rupiah Diprediksi Melemah hingga Rp18.000 per Dolar AS Saat Libur Panjang
Rupiah Diramal Jebol Tembus Rp18 000 per – Kurs rupiah di pasar spot diperkirakan akan mencapai level Rp18.000 per dolar AS jelang masa libur panjang, menurut pernyataan Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat pasar uang. Prediksi ini menambah kekhawatiran pasar terhadap keberlanjutan nilai tukar rupiah yang kini terus mengalami tekanan akibat dinamika geopolitik dan keadaan ekonomi global. Rupiah Diramal Jebol Tembus Rp18 000 per dolar AS menjadi topik utama yang dibahas oleh berbagai analis, baik dari dalam maupun luar negeri, dalam upaya memahami pergerakan mata uang Garuda ini.
Analisis Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah
Pelemahan rupiah dalam beberapa hari terakhir tidak terlepas dari pergeseran geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Menurut Ibrahim Assuaibi, kondisi tersebut memicu ketidakpastian pasar global, sehingga mengurangi kepercayaan investor terhadap aset berisiko seperti mata uang lokal. Rupiah Diramal Jebol Tembus Rp18 000 per dolar AS juga dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak mentah, yang terus menjadi penentu utama dalam pertumbuhan ekonomi global. Kenaikan harga minyak bisa menggerakkan inflasi dan tekanan pada cadangan devisa, sehingga memperkuat aliran dana ke luar negeri.
Kurs rupiah di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia pada hari Selasa (26/5/2026) tercatat turun 0,14% menjadi Rp17.743 per dolar AS. Pelemahan ini merupakan kelanjutan dari penurunan kurs sejak awal pekan, dengan kurs pada hari Senin tercatat di Rp17.744. Rupiah Diramal Jebol Tembus Rp18 000 per dolar AS memperlihatkan kecenderungan yang menegangkan, terutama karena masa libur panjang akan memperpanjang periode tekanan tersebut.
Kondisi Pasar Saat Libur Panjang
Dalam lingkungan pasar yang sedang tidak stabil, libur panjang bisa menjadi momen kritis bagi rupiah. Pasar tetap aktif meski hari libur, sehingga tren pelemahan kurs bisa berlanjut. Dikutip dari data Bloomberg, pada pukul 11.20 WIB, rupiah terpantau melemah 0,26% ke Rp17.789 per dolar AS. Rupiah Diramal Jebol Tembus Rp18 000 per dolar AS menjadi perhatian utama, karena pergerakan ini bisa memengaruhi berbagai sektor ekonomi.
Analisis Ibrahim Assuaibi mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah saat ini tidak hanya disebabkan oleh faktor lokal, tetapi juga oleh gejolak internasional. Ia memperkirakan bahwa jika Timur Tengah kembali mengalami kekacauan, harga minyak akan naik, dan rupiah akan terus melemah. Dalam sebuah wawancara, ia menegaskan bahwa Rupiah Diramal Jebol Tembus Rp18 000 per dolar AS bukan hanya kemungkinan, tetapi juga prediksi yang sangat meyakinkan.
Di sisi lain, kinerja pasar keuangan global juga menjadi pendorong utama dalam pelemahan rupiah. Kondisi pasar yang tidak pasti, seperti perang dagang AS-China atau perubahan kebijakan moneter di berbagai negara, membuat investor cenderung memilih aset yang lebih aman. Karena itu, tekanan pada rupiah akan berlanjut, terutama dalam periode libur panjang. Rupiah Diramal Jebol Tembus Rp18 000 per dolar AS dianggap sebagai titik kritis, karena bisa memengaruhi eksportir dan investor lokal yang bergantung pada mata uang ini.
Pemulihan kurs rupiah masih bisa terjadi, tetapi analis menyatakan bahwa masa libur panjang tidak akan memberikan jeda yang cukup untuk mengembalikan kondisi pasar. Data Jisdor menunjukkan bahwa rupiah terus bergerak turun, sehingga tekanan untuk menembus level Rp18.000 semakin mendekat. Sejumlah faktor seperti pertumbuhan inflasi, kebijakan moneter yang ketat, dan keadaan ekonomi global akan menjadi penghalang utama bagi stabilitas rupiah dalam jangka pendek.
Dengan menembus level Rp18.000 per dolar AS, rupiah akan mengalami tekanan terbesar sejak krisis keuangan 1998. Namun, Ibrahim Assuaibi menekankan bahwa perbedaan kondisi ekonomi saat ini memungkinkan pergerakan ini terjadi secara perlahan, bukan tiba-tiba. Faktor-faktor seperti kebijakan pemerintah dalam mengelola defisit anggaran, kinerja sektor manufaktur, dan persaingan tukar mata uang global akan menjadi penentu dalam dinamika rupiah selama masa libur panjang.
