RUU Sistem Perbukuan Segera Dibahas di Baleg DPR, Willy Aditya: Buku Itu Makanan Otak

ruu-sistem-perbukuan-segera-dibahas-di-baleg-dpr-willy-aditya-buku-itu-makanan-otak-rxl

RUU Sistem Perbukuan Segera Dibahas di Baleg DPR

Beritasosial.com – RUU Sistem Perbukuan Segera Dibahas di Badan Legislasi Dewan Perwakilan Rakyat (Baleg DPR). Langkah ini merupakan respons positif terhadap urgensi perbaikan ekosistem literasi nasional yang selama ini menghadapi berbagai tantangan struktural. Willy Aditya, sebagai salah satu inisiator utama perubahan Undang-Undang Sistem Perbukuan, menekankan bahwa rancangan undang-undang ini memiliki peran krusial dalam memastikan masyarakat memperoleh akses yang lebih adil terhadap buku serta pengetahuan.

Menurut Willy, industri perbukuan tanah air sedang mengalami masa-masa sulit yang memerlukan perhatian serius dari pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya. Bukti nyata dari kondisi ini adalah penutupan sejumlah toko buku dan penerbit dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena ini menjadi titik awal perhatian para inisiator perubahan regulasi perbukuan di Indonesia.

“Ini bermula dari fenomena toko buku tutup dan penerbit tutup,” ujarnya saat menyampaikan pandangan dalam diskusi publik bertajuk “Buku Murah dan Akses Ilmu Pengetahuan sebagai Hak Dasar Warga Negara”.

Kegiatan tersebut diselenggarakan di Ruang Literasi Kaliurang, Yogyakarta, pada Kamis (6/8/2026). Dalam kesempatan itu, Willy menggunakan analogi gunung untuk menggambarkan dampak penutupan toko buku terhadap masyarakat. Ia menjelaskan bahwa ketika Gunung Agung tutup, kita tentu merasa sedih. Banyak juga toko buku di daerah yang gulung tikar. Dari situ kami memeriksa, ternyata ada masalah fundamental dalam ekosistem perbukuan kita, sambungnya.

Akar Masalah Kebijakan Perbukuan Nasional

Menurut Willy, salah satu hambatan utama dalam kebijakan perbukuan nasional adalah perbedaan perlakuan terhadap jenis buku. Buku teks pelajaran dan buku nonteks atau bacaan umum mendapat penanganan yang berbeda dari pemerintah. Negara memberikan subsidi besar-besaran untuk buku pelajaran sekolah. Namun, penyediaan buku bacaan umum sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme pasar bebas.

Konsekuensi dari kebijakan ini adalah harga buku bacaan menjadi semakin sulit dijangkau oleh masyarakat luas. Diskusi ini juga dihadiri oleh sastrawan sekaligus sosiolog Okky Madasari. Hadir pula Jan Prince Permata yang menjabat sebagai Sekretaris Anggota Wantimpres periode 2019-2024. Kehadiran para tokoh ini menunjukkan bahwa isu perbukuan telah menjadi perhatian lintas sektor.

Dampak dan Solusi untuk Masa Depan

RUU Sistem Perbukuan yang akan segera dibahas di Baleg DPR ini diharapkan dapat memberikan solusi komprehensif terhadap berbagai masalah yang selama ini menghambat perkembangan industri perbukuan. Willy menyebut bahwa buku adalah makanan otak bagi generasi muda Indonesia. Tanpa akses yang memadai terhadap buku berkualitas, potensi generasi penerus bangsa dapat terhambat perkembangannya.

Proses pembahasan RUU ini akan melibatkan berbagai pihak, termasuk penerbit, toko buku, akademisi, dan pemerintah. Tujuannya adalah menciptakan regulasi yang dapat menyeimbangkan kepentingan semua pemangku kepentingan dalam ekosistem perbukuan nasional.

Frequently Asked Questions (FAQ)

Apa itu RUU Sistem Perbukuan? RUU Sistem Perbukuan adalah rancangan undang-undang yang bertujuan untuk memperbaiki ekosistem perbukuan Indonesia, termasuk akses masyarakat terhadap buku dan pengembangan industri perbukuan nasional.

Kapan RUU ini akan dibahas di Baleg DPR? RUU Sistem Perbukuan Segera Dibahas di Baleg DPR dalam waktu dekat, sesuai dengan jadwal pembahasan yang telah ditetapkan oleh Komisi III DPR RI.

Apa saja masalah utama yang ingin diselesaikan oleh RUU ini? RUU ini bertujuan menyelesaikan masalah perbedaan perlakuan terhadap buku teks dan buku nonteks, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap buku bacaan umum dengan harga yang lebih terjangkau.

Siapa saja yang terlibat dalam inisiatif RUU ini? Inisiatif RUU ini dipimpin oleh Willy Aditya dengan dukungan dari berbagai pihak termasuk penerbit, toko buku, akademisi, dan tokoh masyarakat seperti Okky Madasari dan Jan Prince Permata.

Bagaimana dampak penutupan toko buku terhadap ekosistem perbukuan? Penutupan toko buku dan penerbit menunjukkan adanya masalah fundamental dalam ekosistem perbukuan. Hal ini berdampak pada berkurangnya akses masyarakat terhadap buku dan menurunnya minat baca di Indonesia.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangan RUU Sistem Perbukuan, pembaca dapat mengakses artikel terkait di Sindonews Nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *