Akankah Strategi Houthi Meniru Kendali Iran atas Selat Hormuz di Laut Merah Bisa Berhasil?

24bf412e-6565-423c-972e-28985b5f0562-0

Akankah Strategi Houthi Meniru Kendali Iran di Laut Merah?

Beritasosial.com – Gerakan Houthi di Yaman sedang mencoba meniru pendekatan yang telah lama digunakan Teheran untuk mengendalikan Selat Hormuz. Dengan memperkuat posisi mereka di Selat Bab al-Mandeb yang terletak di perairan Laut Merah, kelompok pemberontak ini berharap dapat membatasi arus pelayaran internasional secara lebih efektif. Pernyataan ini disampaikan oleh seorang diplomat terkemuka dari pemerintahan Yaman yang diakui secara global, memberikan gambaran tentang ambisi strategis Houthi di kawasan tersebut.

“Kelompok Houthi ingin meniru model Iran, dan ini akan menutup dua selat utama, gerbang menuju Teluk dan Laut Merah,” kata calon menteri luar negeri pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, Afrah al-Zouba, kepada wartawan pada hari Senin.

Menurut al-Zouba, yang menyampaikan pernyataan tersebut di kedutaan Yaman di Riyadh, Arab Saudi, keberanian Houthi semakin meningkat seiring dengan minimnya respons internasional terhadap aktivitas mereka di kawasan tersebut. Kelompok yang didukung Teheran ini kini merasa lebih leluasa dalam menjalankan operasi maritim mereka, terutama setelah melihat bagaimana Iran berhasil menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tekanan geopolitik.

Dampak Ekonomi Global yang Signifikan

Selat Bab al-Mandeb memiliki posisi geografis yang sangat strategis karena menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden serta Samudra Hindia. Mirip dengan Selat Hormuz, sebagian besar perekonomian dunia sangat bergantung pada kelancaran lalu lintas maritim melalui jalur vital ini. Data terbaru menunjukkan bahwa sekitar 30 persen lalu lintas kontainer global melewati perairan Laut Merah, sementara 12 hingga 15 persen dari keseluruhan perdagangan dunia juga menggunakan rute ini.

Geografi Yaman memberikan pengaruh besar kepada siapa pun yang mengendalikan wilayah barat negara tersebut atas lalu lintas melalui Bab al-Mandeb. Angka-angka menunjukkan bahwa pengiriman melalui Laut Merah sudah mengalami penurunan, dengan hanya 11 kapal komoditas yang melewatinya pada hari Minggu. Penurunan ini mencerminkan kekhawatiran perusahaan pelayaran internasional terhadap keamanan rute tersebut.

Eskalasi Konflik yang Meningkat

Komentar Al-Zouba muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Houthi di satu sisi dan Arab Saudi serta pemerintah Yaman yang diakui secara internasional di sisi lain. Awal Juli lalu, Houthi menyatakan pengepungan maritim terhadap pengiriman Laut Merah ke dan dari Arab Saudi, dan meluncurkan rudal dan drone ke kerajaan tersebut. Aksi ini menunjukkan bahwa Houthi tidak hanya fokus pada konflik darat, tetapi juga ingin menguasai jalur laut strategis.

Riyadh kemudian melancarkan serangan udara ke kota pelabuhan utama Yaman, Hodeidah, yang dikuasai oleh Houthi. Eskalasi pada bulan Juli ini adalah yang terbesar sejak gencatan senjata disepakati pada tahun 2022 dan terjadi di tengah kebangkitan kembali serangan AS terhadap Iran. Situasi ini menambah kompleksitas konflik regional dan menunjukkan bagaimana Houthi memanfaatkan ketegangan antara Iran dan Barat.

Al-Zouba mengatakan pemerintah Yaman, yang didukung Arab Saudi, siap menghadapi eskalasi, dan bahwa baku tembak terjadi di sepanjang garis depan tempat wilayah yang dikuasai Houthi bertemu dengan wilayah yang dikuasai pemerintah, tetapi belum ada serangan yang dilancarkan. Hampir 20 pejuang dari kedua pihak tewas awal bulan ini selama bentrokan antara Houthi dan pasukan pemerintah di sekitar Hodeidah.

Latar Belakang Konflik Yaman

Ratusan ribu orang telah tewas di Yaman sejak perang pecah pada tahun 2014, ketika Houthi merebut ibu kota, Sanaa, dan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi akhirnya melarikan diri ke Riyadh. Arab Saudi memimpin koalisi Arab dalam kampanye untuk menggulingkan Houthi dari tahun 2015 hingga gencatan senjata tahun 2022. Hingga tahun 2026, Houthi tetap berkuasa di ibu kota dan bagian lain Yaman.

Sementara itu, ketegangan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang dituduh Riyadh mendukung kelompok separatis selatan di Yaman, telah memengaruhi perkembangan di lapangan. Warga sipil Yaman telah membayar harga terberat, dengan perkiraan 377.000 orang meninggal antara tahun 2015 dan awal tahun 2022, sebagian besar akibat dampak lanjutan perang, seperti kelaparan dan penyakit. Konflik ini tidak hanya berdampak pada Yaman, tetapi juga pada stabilitas regional dan keamanan jalur pelayaran internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *