Venezuela Tak Bisa Ambil 31 Ton Emas Batangan senilai Rp71 Triliun, Ini 3 Alasannya

Venezuela Hadapi Kendala Mengambil 31 Ton Emas di Bank of England: Tiga Alasan Utama
Beritasosial.com – Caracas sedang mengalami momen krusial dalam perebutan kendali atas tumpukan emas yang tersimpan di salah satu brankas paling aman di dunia. Namun, situasi ini bukan sekadar cerita bajak laut abad ke-18 atau film perampokan bank. Pemerintah Venezuela saat ini berusaha melewati gelombang gejolak politik serta dampak dari dua gempa bumi besar yang terjadi bulan lalu.
Permintaan Pengembalian Emas
Karacas menuntut Bank of England untuk mengembalikan 31 ton batangan emas yang telah disetorkan pada tahun 2008. Alasan utamanya adalah kebutuhan mendesak akan dana tersebut untuk membiayai program pemulihan pascabencana. Gempa kembar tersebut menewaskan ribuan warga dan menyebabkan kerugian ekonomi mencapai 6% dari Produk Domestik Bruto negara, sebagaimana dilaporkan oleh Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Walaupun tidak biasa bagi bank sentral Inggris untuk menyimpan cadangan emas negara lain, kasus Venezuela memiliki keunikan tersendiri. Dengan brankas terbesar di dunia, bank tersebut menyimpan sekitar 400.000 batangan emas milik puluhan negara. Namun, dalam situasi ini, terdapat beberapa hambatan yang harus diatasi.
Alasan Pertama: Konflik Politik Maduro dengan Inggris
Menurut laporan CNN, nasib emas Venezuela—yang nilainya diperkirakan mencapai USD4 miliar atau setara Rp71 triliun—telah berada dalam ketidakpastian selama bertahun-tahun. Perselisihan panjang antara pemerintah Inggris dan mantan Presiden Nicolas Maduro menjadi faktor utama.
Bank tersebut membekukan emas setelah Inggris, bersama AS dan banyak negara lain, menolak mengakui Maduro sebagai pemenang pemilihan presiden Venezuela tahun 2018 yang dipersengketakan.
Sejak keputusan tersebut, emas Venezuela menjadi subjek pertempuran hukum yang berkepanjangan. Kini, dengan Maduro yang berada dalam tahanan di New York setelah penangkapannya oleh pasukan AS pada bulan Januari, Caracas melihat kesempatan untuk mendapatkan kembali asetnya.
